32

Ayoo Sekolah…

GambarJavas pernah sekolah PAUD, tapi cuma 2 bulan 😀

Kira-kira sebulan yang lalu, Javas mengalami ‘kemajuan’ yaitu mau sekolah TK. Jadi bersama dua orang temannya di daycare Javas sekolah di TK ABC (bukan nama sebenarnya 🙂) yang jaraknya tidak jauh dari daycare. Beberapa kali mencoba, Javas suka dan bersemangat sekali sekolah di TK itu, tapi sayang TK tersebut gak membuka pendaftaran di pertengahan tahun seperti sekarang ini. Kalau mau sekolah di situ ya nanti di tahun ajaran baru.

Memanfaatkan momen semangat sekolahnya Javas, kepala daycare mengantar Javas dkk mencoba sekolah lain yaitu di TK XYZ yang jaraknya pun dekat dari daycare. Javas pun suka sekolah di situ. Tiap pagi dia bersemangat sekali memakai kaus kaki, sepatu, dan menggendong ransel bekalnya. TK XYZ ini mau menerima murid di pertengahan tahun, jadi kudaftarkan Javas sekolah di situ dengan biaya pendaftaran Rp 50.000.  Keesokan harinya kepala daycare SMS memberitahuku bahwa TK XYZ memintaku membayar dulu uang seragam dan uang pangkal sebelum Javas mulai sekolah. Okey, dan aku minta rincian pembayaran, yang kata kepala daycare sudah diselipkan di buku Laporan Harian Javas.

Dari total Rp 2,8 juta yang harus kubayar, terdapat rincian uang pangkal, uang kegiatan, dan seragam. Karena mulai sekolah di pertengahan tahun ajaran, tentu saja aku minta diskon dong… (mana ada sih emak-emak gak nawar? Bahkan bayar sekolah pun ditawar hihi….) dan jawaban dari sekolah adalah TIDAK ADA PENGURANGAN. What? Uang pangkal dan seragam okelah… tapi uang kegiatan? Kan Javas gak ikut kegiatan semester kemarin.. bahkan semester ini pun sudah berjalan dan Javas baru daftar.

Lima bulan lagi sudah mulai tahun ajaran baru, dan nanti bayar uang tahunan lagi? Oh tidak. Akhirnya kuputuskan untuk menunda sekolah Javas sampai tahun ajaran baru, dan ternyata dua orang teman Javas pun sama, gak jadi sekolah. Gemes rasanya. Gemes karena gak berhasil nawar? Iyaa hihi… tapi lebih gemes kepada kok segitu ‘matre’nya sekolah itu… okelah uang pangkal, seragam, spp kita gak minta diskon, tapi uang kegiatan? Misalnya piknik di semester kemarin yang tentu saja gak Javas ikutin, masa harus ikut bayar? Gak rela kan yaa….

Jadi ingat beberapa tahun yang lalu, saat Youri lulus dari TK A dan mau masuk ke TK B. Selain mendapat buku laporan hasil belajar dan klipping hasil karya, Youri juga mendapat sebuah kaos kelas dan frame foto/jam meja dengan foto-foto Youri selama sekolah. Tentu saja aku tanya ke guru, harus bayar berapa untuk kaos dan jam tersebut, karena aku merasa belum bayar uang kaos dan sadar diri jarang datang ke sekolah jadi sering terlewat atau telat dapat info. Dan ternyataa… GRATIS! Ibu guru menjelaskan bahwa di akhir tahun ajaran tersebut terdapat sisa uang kegiatan yang sudah dibayarkan, jadi DIKEMBALIKAN kepada anak-anak, dan sudah disepakati bahwa akan dikembalikan dalam bentuk kaos. Wow… aku sampai speechless… betapa amanahnya pengelola TK ini.

Kembali ke Javas. Jadii… akan didaftarkan di TK mana Javas nanti? Belum tau, tapi yang jelas bukan TK XYZ dooong 😀

Nah… sudah masuk bulan Februari gini, sudah mulai banyak loh sekolah yang membuka pendaftaran dan melakukan seleksi penerimaan siswa baru. Pusing ya, sekolah ini katanya bagus, yang itu juga bagus, yang anu keren, yang ono ngetop dll dsb. Belum lagi dipusingkan masalah biayanya <- curcoooll….. 😀

Trus pilih yang mana dong? Ya pilih yang sesuai kebutuhan laah… Kebutuhan tiap anak berbeda. Kebutuhan masing-masing orang tua pun berbeda. Tujuan tiap orang tua menyekolahkan anaknya pun berbeda. Jadi pilihan sekolah akan sangat personal sifatnya.

Seorang tetangga nampak heran ketika kukasih tau Neysa melanjutkan SMP di sekolah swasta. “Gak sayang Bu? Bukannya nilai Neysa bagus? Bunga saja yang nilainya cuma sekian sekian bisa kok masuk SMPN anu.”

“Wah, pakai jalur prestasi ya Bu?” tanyaku polos, soalnya setahuku untuk masuk SMP itu nilai minimalnya di atas nilai Bunga yang disebut ibunya tadi. Kalau gak ada prestasi seni atau olah raga atau apa pun yang menonjol rasanya gak mungkin Bunga bisa masuk SMP anu.

“Ah jalur belakang lah Bu.. yang penting bisa masuk dulu.”

Wow…. aku terpana.. kok bisa ya, ibu itu mempercayakan anaknya untuk dididik oleh sebuah sekolah yang jelas-jelas tidak jujur itu? Bahkan menghalalkan segala cara agar bisa diterima di sekolah itu.

Tetangga yang lain bercerita bahwa dia mau mendaftarkan anaknya sekolah di SD favorit, dan dengan judesnya petugas dari sekolah bilang bahwa sekolah sudah gak nerima pendaftar baru lagi, sudah penuh. Sakit hati karena merasa ditolak karena mungkin dianggap gak mampu (ibu ini datang ke sekolah dengan penampilan kumel sepulang dari pasar) seminggu kemudian si tetangga ini datang lagi ke sekolah dengan diantar suaminya, pakai mobil baru dan diparkir di depan kantor sekolah. And guess what? Si tetangga dilayani dengan ramah (oleh petugas yang sama) dan disodori formulir pendaftaran. Dan dengan bangganya dia bercerita bahwa anaknya sekarang sekolah di SD tersebut.

Wah… aku terpana lagi. Lembaga seperti itukah yang dia pilih untuk mendidik anaknya? Yang memandang orang dari penampilan dan ‘kekayaan’?

Seorang teman di kantor bercerita, menjelang UN anaknya dan beberapa teman sekelasnya ada yang sudah mendapatkan bocoran jawaban. Dari mana? Ya dari sekolah. Tujuannya apa lagi kalau bukan mendongkrak prestise sekolah.

Merinding membayangkan apa jadinya anak-anak yang dididik oleh para pendidik yang tidak pantas disebut pendidik itu. Nilai-nilai apa yang akan dianutnya ketika mereka dewasa kelak, ketika mendapat amanah jabatan misalnya? Akankah menjadi seorang pejabat yang jujur, adil dan profesional?

GambarSeperti apa sekolah yang kami pilih untuk anak-anak kami? Tiap keluarga pasti punya kriteria berbeda, tapi yang jelas kami gak mau menyekolahkan anak-anak kami ke sekolah yang ‘matre’, sekolah yang mau menerima murid dari ‘jalur belakang’, dan atau sekolah yang mengijinkan (mengajari!) murid-muridnya berbuat curang.

Setiap orang tua tentu punya pilihan berbeda untuk menyekolahkan anaknya, dengan alasan yang berbeda-beda pula.

Ada orang tua teman Neysa waktu kelas 2 SD dulu yang cepat-cepat memindahkan anaknya sekolah di SD lain gara-gara SD ini gak serius belajar, gak pernah ada PR. Sekolah macam apa ini, katanya. Padahal bagiku justru sekolah tanpa PR adalah sebuah kelebihan.

Ada orang tua yang tidak mau memasukkan anaknya ke sekolah berbasis agama, sementara ada juga orang tua lain yang mengharuskan anak-anaknya sekolah di sekolah berbasis agama.

Ada orang tua yang tidak percaya menitipkan anaknya pada sekolah negeri, ada juga orang tua yang mati-matian berusaha agar anaknya masuk sekolah negeri.

Sangat personal sifatnya, jadi rasanya gak perlu diperdebatkan, cukup untuk didiskusikan 🙂

Inilah kriteria tambahan seperti apa sekolah yang kami (aku dan suamiku) pilih untuk anak-anak kami.

  1. Sekolah full day (untuk TK dan SD). Ini menjawab kebutuhan kami sebagai orang tua yang sama-sama bekerja. Dari pada anak-anak menghabiskan waktu di rumah bersama pembantu, nonton TV atau main game tanpa terawasi, kami lebih merasa nyaman kalau anak-anak kami berada di sekolah sampai sore. Tentu saja kami pilih sekolah full day yang tidak membebani anak, yang metode belajarnya sambil bermain, dan yang tidak ada PR.
  2. Sekolah berbasis agama (untuk SD dan SMP). Sadar diri gak punya banyak waktu khusus untuk mengajari anak-anak sholat dan mengaji, kami memilih sekolah Islam untuk mendidik anak-anak kami. Takut anak-anak jadi intoleran karena gak biasa dengan keberagaman? Ah tidak. Di lingkungan rumah mereka biasa bergaul dengan beragam teman. Di TV, di film-film yang mereka tonton, di buku cerita yang mereka baca, mereka tahu ada perbedaan-perbedaan, tidak semua manusia itu menganut kepercayaan yang sama. Kenapa gak panggil guru ngaji aja ke rumah? Karena mengajarkan agama bagi kami bukanlah sekedar mengajari baca Al Qur’an dan hafalan doa-doa sholat saja. Agama hendaknya menjadi pedoman baginya dalam kehidupan sehari-hari. Akhlak yang terpuji, perilaku jujur, bersikap adil, santun, menjaga pergaulan, kuharapkan mereka dapatkan juga dari pembiasaan-pembiasaan di sekolah.
  3. Tidak mahal, alias terjangkau oleh dompet kami. Ya iyyalaah… kalau gak terjangkau mau bayar pakai apa? 😀 Tapi jangan ‘tertipu’ loh yaa… ada beberapa sekolah yang terlihat murah di pendaftaran awal dan SPP tapi ternyata di tengah-tengah berlangsungnya pembelajaran masih banyak ini itu yang harus dibayar atau dibeli. Ikut ekskul, bayar lagi. Ada lomba, bayar. Belum lagi buku atau sarana penunjang lain yang harus dibeli. Alhamdulillah saat Neysa & Youri SD kami gak pernah repot bayar-bayar apa pun selain SPP dan uang makan, sementara seorang teman mengeluhkan sekolah anaknya yang dikit-dikit memungut bayaran. Ekskul, kunjungan keluar, berenang, field trip, camping, dll semua sudah tercakup dalam uang kegiatan yang dibayar di awal tahun, dan gak mahal loh bayarnya….
  4. Persetujuan anak yang akan sekolah (untuk SMP dan SMA). Jangan sampai anak merasa terpaksa sekolah di sekolah pilihan orang tuanya.
  5. Akreditasi sekolah, prestasi akademik, fasilitas sekolah, tersedianya konselor (psikolog, dokter), banyaknya pilihan ekskul, dan lingkungan pergaulan anak menjadi bahan pertimbangan juga. Apalagi kalau anak boleh mengikuti lebih dari 1 ekskul. (Ini sih pengiritan biar gak usah ikutan les-les (musik, olah raga, animasi dll) lagi di luar hehe… kalaupun ada biaya tambahan kan biasanya lebih murah dibanding kalau les di luar.)

GambarTerus, apa peran Pak Sutisna dalam memilih sekolah buat anak-anak? Ini pertanyaan Sondang dalam GA perdana dalam rangka ultah pertama blogku di blogspot.

 Selain sebagai sesama penanggung jawab dan tentu saja menjadi parter diskusi, suamiku bertugas sebagai ‘detektif’ yang melakukan survey ke sekolah-sekolah yang akan kami pilih. Menyekolahkan anak bukan hanya menitipkan anak untuk dididik oleh sekolah, tapi anak akan ‘dididik’ juga oleh lingkungan pergaulannya. Anak-anak yang seperti apa dan anak siapa yang kelak akan menjadi teman-teman anakku harus kami ketahui garis besarnya. Suamiku nongkrong berjam-jam di kantin sekolah, di area bermain, atau bahkan di WC sekolah untuk ‘menyelidiki’ hal itu. Apa yang anak-anak itu obrolkan, bahasa apa yang dipakai (kasar atau gak), dan sopan santun mereka wajib diamati. Bahkan perilaku guru sampai tukang parkir pun kami amati.

Jadi, tentukan dulu Tujuan Lo Apa (pinjem bahasanya Ligwina Hananto 🙂), kumpulkan informasi sebanyak-banyaknya (website, brosur, testimoni), sesuaikan dengan dompet kita, dan yang terakhir datangi sekolahnya, rasakan atmosfernya. Percayalah, gak semua sekolah yang orang-orang bilang bagus atau keren, akan cocok dengan anak kita.