Myself

Sok Sibuk

“Ma itu Javas Jindra ya, Aa mau ke masjid dulu, udah adzan (isya),” kata Youri.

Aku masih berada di dapur. Javas dan Jindra main di ruang tengah. Kulihat sebentar mereka anteng, aman terkendali.

Panci berisi kaldu sudah dijerang di atas kompor, sekarang saatnya kupas wortel, trus potong-potong. Kompor satu lagi gak boleh nganggur dong, wajan pun nangkring di sana. Isi minyak. Air di panci sudah mendidih, wortel pun masuk panci. Minyak mendidih, ayam, tahu, tempe masuk ke wajan. Saatnya potong-potong bakso dan jamur, cemplungin ke panci menemani wortel yang sudah mulai melunak. Ayam goreng mateng, ganti minyak di wajan dengan minyak baru untuk menumis bawang. Kupas bawang, cincang, tumis sebentar dan menyusul nyemplung ke panci. Tomat, daun bawang, dan seledri pun sudah antri di atas talenan. Potong-potong, cemplung-cemplung. Garam, merica dan sejumput gula pun menyusul. Cicipi, udah enak, sip. Gak sampai 15 menit, makan malam sudah siap. Aa Youri dan suamiku pulang dari masjid, sayur sop, ayam goreng, plus tahu tempe bacem sudah menanti. Aku mandi, terus sholat isya.

Selesai makan, kelonin Jindra, cuci dan sterilkan botol Jindra, masukkan ke tas sekalian dengan baju ganti Jindra untuk esok hari di daycare, sambil sesekali membantu Javas menggunting, menggambar, atau mengelem hasil karyanya. Baju kotor sudah masuk mesin cuci setelah sebelumnya pakaian yang mengandung ompol dibilas dulu oleh suamiku. Beres, tidur.

Pagi-pagi bangun langsung menuju kulkas. Keluar-keluarin bahan masak yang beku dari freezer, minum air putih, wudhu, sholat subuh. Beras, kaldu, daun salam, masuk ke rice cooker mini untuk nasi Jindra. Taruh wajan di atas kompor, potong-potong bawang, tumis pakai mentega, masukkan udang, jahe, daun salam, tambah air dikit, tutup. Potong-potong tomat dan daun bawang, masukkan ke udang bersama kecap dan saus tiram. Kompor sebelah belum bekerja nih. Oke, ambil panci kecil, isi tepung beras merah dua sendok, santan, gula pasir. Aduk-aduk, jerang sebentar, jadi bubur manis untuk makanan selingan Jindra. Udang pun sudah mateng. Lanjut? Ya, ambil kukusan, jerang di atas kompor. Siangi buncis, brokoli, dan waluh kecil, kukus. Nitip kukus juga 2 butir telur untuk Javas Jindra. Parut tempe dan wortel, masukkan ke rice cooker mini. Kompor sebelah? Rebus air mandi untuk Javas (iya, gak punya water heater 🙂 ). Javas bangun, mandi sama Papa. Urusan dapur beres? Belum. Bikin juice dulu. Beres? Ya. Aa Youri sarapan, aku masuk-masukin semua hasil masakan ke dalam kotak-kotak bekal. Cuma Youri yang sarapan di rumah, yang lain sarapan di luar rumah. 😀 Nasi, udang, sayuran kukus dan juice untuk suamiku. Nasi lembek, bubur manis, telur rebus dan buah untuk Jindra, juice untuk Javas dan Youri. Masuk-masukin ke tas, dan kemudian barulah aku mandi dan bersiap berangkat ke kantor.

Begitulah kira-kira gambaran aktivitasku di rumah setiap harinya, menjawab pertanyaan Bunda Muna dalam GA perdana dalam rangka ultah pertama blogku di blogspot. “Walaupun gak menang GA-nya aku tetep mau ngotot dan nagih terus request tema tulisan ini: aku pengen tauuuu banget daily activitiesnya mbak Tituk sbg ibu berputra EMPAT yg bekerja dan ttp kasih ASI eksklusif ke Jindra kan, itu cara ngatur waktunya gimanaaaaaaaa?! Kpn masak2nya? Kpn waktu utk keluarga? Kpn blog walkingnya? Kapan nulisnya? aku sungguh pengen taauuuuu..” kata Jeng Muna bundanya Zen ini.

Pernah juga ada seorang teman yang tiba-tiba ngirim BBM, “ Mbak aku mau nanya, tapi jangan diketawain ya, soalnya pertanyaanku ini aneh. Gimana sih Mbak caranya ngatur waktu? Anakmu empat tapi masih sempet masak, ngeblog, dan bahkan bikin kue macem-macem. Anakku cuma dua, ada pembantu, tapi kok kayanya aku gak sempet ngapa-ngapain.”

Hahaha… Tampak seperti supermom yang sibuk bin riweuh? Gak terlalu kok… Pertama, aku gak kasih ASI eksklusif lagi, tapi sudah ditambah sufor dan MPASI. Kedua, aku gak kerjakan semua pekerjaan rumah sendiri, tapi dibantu oleh seorang ‘Teteh’ yang datang dan pulang setiap hari, membantuku merapihkan rumah dan menyetrika baju kami sekeluarga. Ketiga, aku hanya memasak masakan ‘instan’ di hari kerja. Makan makanan instan tiap hari? Kan gak sehat… Ih, tenang dulu.. ini bukan makanan instan bikinan pabrik kok, tapi makanan instan bikinanku sendiri. Maksudnya makanan instan ituh, makanan yang masaknya gampang dan cepat seperti yang kuceritakan tadi itu loh…. hihi…

Bagaimana menyiasatinya?

Lauk yang perlu waktu lama memasaknya, biasanya sudah aku masak saat weekend, jadi saat weekdays tinggal goreng saja, contohnya: ayam goreng yang sudah diungkep, tahu dan tempe bacem, empal/gepuk dll.

Ikan pun sudah dibersihkan dan dibumbui saat weekend, simpan di freezer, weekdays tinggal goreng saja. Udang dan cumi pun begitu, siangi dan bersihkan saat weekend, simpan di freezer, dan siap digunakan sewaktu-waktu.

Bikin bumbu siap pakai, misalnya bumbu merah (duo bawang plus cabe dan tomat yg dihaluskan dan ditumis), simpan di kulkas. Bisa dipakai sewaktu-waktu untuk nasi goreng, ayam/ikan balado, bahkan sayur lodeh atau tom yam, tinggal padu padan dengan bumbu dan bahan lain. Bikin atau sediakan juga bumbu siap pakai seperti bawang goreng, dan merica bubuk, kalau sering bikin sop dan semacamnya.

Gambar

 Kalau sering memakai masakan bersantan, peras santan dan masukkan dalam kantong plastik kecil-kecil untuk sekali pakai, simpan di freezer. Hal yang sama berlaku juga untuk kaldu.

Ngejus tiap pagi ribet? Gak jugaa… Buah-buahan yang tidak awet lama di kulkas seperti nanas, strawberry, sirsak, semua sudah siap pakai. Siangi dan bersihkan buah, simpan dalam kantong plastik kecil per sekali pakai, dan simpan di freezer. Bikin juice tinggal cemplung-cemplung, gak pakai kupas-kupas dulu yg lumayan makan waktu (pagi hari, tiap menit begitu berharga, right?)

Gambar

Sayur harus selalu dimasak segar kan ya, jadi kalau sayur ya tetep dadakan masaknya. Itu pun yang simpel-simpel aja. Sayur bening, sayur sop, sayur dikukus (kadang dimakan langsung, kadang disajikan bersama bumbu pecel atau bumbu urap yang tersedia di kulkas tentu saja), atau yang paling mudah, salad. Ada tips menyimpan sayuran yang baru aku baca (belum kupraktekkan) yaitu cuci bersih sayuran, keringkan, bungkus dengan kain/lap bersih, simpan di kulkas. Kayanya patut dicoba juga nih, biar makin cepet masak sayuran gak pake nyuci-nyuci dulu.

Jadi, weekend bukannya liburan dong Mbak, malah sibuk nyiapain ini itu? Tenaaaang… kan ada si Teteh yang bantuin 😀 lumayanlah untuk ngupas-ngupas bawang, meras santan, nyuci ikan, ayam, udang dkk itu gak harus dikerjakan sendiri kan? Dan yang jelas, nyuci semua ‘kekacauan’ peralatan setelah memasak itu yang penting. Kalau hari Sabtu Teteh gak datang, aku libur masak deeh…. hihi.. gak sanggup deh kalau harus beresin sendiri semua bekas ‘kekacauan’ itu.

Kok masih sempet bikin-bikin kue? Ah kalau ini sih ‘me time’ku… pernah kuceritakan sebelumnya di sini kan, bahwa memasak itu salah satu sarana refreshing dan me timeku, terutama saat mencoba resep-resep baru. Kasihan banget sih me time-nya di dapur, bukannya jalan-jalan, hang out sama temen-temen. Hehe.. gak usah kasihan, namanya me time itu kan beda- beda tiap orang kan yaa… Ngumpul sama temen, jalan-jalan atau sekedar makan siang bareng teman-temanku ada waktunya juga kok.. selalu kuusahakan dilakukan pada jam istirahat di hari kerja 😀

Kapan nulisnya, kapan blog walkingnya, kapan komen-komen di media sosisal? Gak ada waktu khusus. (makanya tulisan ini muncul di bulan Maret padahal udah janji bulan Februari menayangkan 6 tulisan, eh ternyata Cuma bisa 5 🙂 ) Biasanya sih di saat menunggu, di lampu merah, di saat macet, sambil ngeloni Jindra, dan saat ngantuk di kantor sampai gak bisa mikir lagi haha…. Bener loh, sejam mengerjakan kertas kerja di excel itu bisa bikin otakku hang gak bisa mikir. Dan buka Mozilla Firefox atau buka-buka hape sekitar 10 sampai 30 menit pun cukup untuk menyegarkan pikiranku lagi.

Kapan nonton TV, baca novel, merawat diri? Ah ini sih sesekali aja, gak rutin. Gimana kemauan dan kesempatan saja.

Kapan waktu untuk keluarga? Kalau yang dimaksud waktu untuk keluarga itu waktu berada bersama keluarga, ya waktuku cuma sepulang kerja sampai besok pagi berangkat bekerja, itu pun disambi ini itu. Plus weekend tentu saja.  Tapi kalau waktu untuk keluarga menurut pengertian yang lebih luas, maka sebagian besar waktuku adalah untuk keluarga. Seperti pertanyaan kapan waktu untuk beribadah? Kalau yang dimaksud beribadah adalah sholat dan tilawah, maka waktu beribadahku paling cuma setengah jam sehari. Tapi kalau ibadah yang dimaksud adalah ibadah dalam arti luas, maka sebagian besar waktuku adalah (mudah-mudahan bernilai) ibadah. Gimana niatnya kan? Bekerja, ibadah. Menjaga silaturahmi, ibadah. Olah raga, ibadah.

Eh iya, kapan waktu untuk olah raga? Nah ini nih yang masih jadi pe-erku. Belum rutin olah raga euy…bahkan bisa dibilang hampir gak pernah. Baiknya kapan dan apa ya olah raganya? Ada saran?

Advertisements
Myself

Sepasang Sandal Jepit

Camera 360
sok-sokan bikin foto ala prewedding mumpung lagi ‘bulan madu’, tapi malah geli cekikikan sendiri.. gak romantis blas 😀

“Mbak, coba bikin postingan soal menjaga romantisme dengan Pak Sutisna, yah. Kalian udah nikah lama, dan kuliat hubungan kalian hangaaatt sekali. Bagi tipsnya, yaaa…” ini kata Fitri sang Baginda Ratu dalam GA perdana dalam rangka ultah pertama blogku di blogspot. Gak tau deh ini ngetes atau nanya beneran 😀 Gak salah nih Fit? Setauku pasangan romantis itu kalian deeh… Siapa yang pas anniversarian dapet kiriman rangkaian bunga segeda gaban (yang pasti bikin iri cewek-cewek seruanganmu)? Siapa yang saling komen dengan kata-kata mesra di fesbuk? Siapa yang sering foto-foto mesra berdua? Kalian deeh… Kebalik kan? Harusnya aku yang nanya apa kiat-kiatnya kok malah aku yang ditanya…

Kalau romantisme biasanya dilambangkan dengan bunga, merpati, atau gambar hati love-love, mungkin romantisme kami ini cukup digambarkan dengan sandal jepit. Ya tapi jangan sandal jepit Swallow lah yaa… sandal jepit Fitflop dong ah biar kerenan dikit hahaha….

Kenapa sandal jepit?

Karena aku tanpamu bagaikan sandal jepit hilang sebelah.. tidak bisa berfungsi sempurna, tidak berarti apa-apa. (Cieeeeh….. udah romantis belom kalo kaya gini?) 😀

Haduh beneran deh bingung kalau harus nulis romantis-romantisan…

Sekitar tahun 2000-an awal, aku bersahabat dengan dua orang teman di kantor, sebut saja namanya Eva dan Susi. Kami bertiga ini seumuran, seangkatan di sekolah, dan sama-sama berada di tahun-tahun awal pernikahan dan memiliki 1 anak balita. Jadi ya gampang nyambung kan ya.. Suatu hari, ketika ngobrol berdua dengan Eva, Eva memberitahuku bahwa Susi sering curhat padanya, katanya Susi ini iri denganku. Hah, iri? Iri kenapa? Katanya Susi ini iri melihat keakrabanku (keakraban katanya… bukan kemesraan 🙂 ) dan suamiku. Kata Susi ke Eva, “Mereka itu setiaaap hari telpon-telponan, dan ngobrolnya lama. Padahal kan tiap hari juga mereka ketemu Va.. Tapi adaa aja yang diobrolin, kaya ke temen gitu. Aku pengin kaya gitu Va, tapi kok gak bisa ya. Sungkan sama suami, jadi ya ngobrolnya yang penting-penting aja.”

Aku bengong… Hiks… Padahal aku ngobrol di jalan via telepon itu karena di rumah rasanya gak sempet ngobrol sama suami, sibuk ngurusin anak (yang baru satu!) dan ini itu. Eh iya, Susi ini rumahnya searah dengan rumahku, jadi tiap hari berangkat dan pulang bareng semobil, dan tentu saja mendengar obrolan-obrolan gak pentingku dengan suami.

Dari cerita Eva itu aku mengambil pelajaran penting, bahwa komunikasi yang lancar dan rasa nyaman bersama pasangan itu adalah hal berharga yang harus dijaga. Gak semua pasangan memilikinya atau mau mengusahakannya. Pelajaran berumah tangga yang kuperoleh di tahun 2000-an itu kuterapkan terus sampai sekarang. Berkomunikasi layaknya teman (tapi mesra 😉 ), jujur dan terbuka gak pakai jaim-jaiman, ngomongin apa saja, hal penting maupun gak penting, hal membanggakan maupun memalukan, membahagiakan maupun menyedihkan dll dsb.

Ya abis kalo gak diomongin sama suami, hal-hal yang gak boleh diobrolin sama orang lain mo diomongin sama siapa? Kan sebagai perempuan hasrat ngomongin segala hal ini harus disalurkan toh? Ngomongin hal membanggakan (dan dengan nada bangga) ke orang lain ntar dikira pamer dooong..  Trus ngomongin si ini begini si itu begitu ke orang lain ya gak boleh dong ntar jadinya ghibah. (Eh kalo ngobrolnya ke suami doang tetep disebut ghibah gak sih? Kan diobrolin maksudnya untuk diambil pelajaran.. *ngeles).  Jadi, ya suami lah sasarannya hahaha… (Bersabarlah para suami mendengarkan ocehan istri yang gak ada habis-habisnya yaa…)

Gambar
Untuk orang yg kalem dan pendiam, foto selfie dan kalimat seperti ini pasti gak bisa diupload ke media sosial, hanya bisa dikirim ke istrinya kan? hahaha… ampun Paaa…. fotonya diupload di blog yaaa….

Tentang rasa nyaman bersama pasangan, di acara pengajian di kantor yang diisi oleh Teh Mimin Aminah dari Lembaga Pelatihan & Konsultasi Keluarga Cahaya Islam dijelaskan bahwa apabila seseorang merasa tidak nyaman dengan pasangannya maka dia berada dalam posisi rawan selingkuh. Dan 86% perceraian yang ditangani lembaganya, disebabkan karena perselingkuhan. Huaaa… amit-amit…

Nah salah satu contoh gak nyaman bersama pasangan yang disampaikan oleh Teh Mimin adalah ketika seseorang lebih asyik dengan gadgetnya daripada ngobrol dengan pasangannya. Wak waaw…. Dan contoh lainnya adalah orang yang lebih suka menghabiskan weekend bersama teman-temannya dari pada bersama keluarganya. Mancing, touring, menikmati hiburan sendirian, dll dsb sengaja menghindari kebersamaan dengan pasangan yang akhirnya komunikasi dengan pasangan semakin jarang, bersama pasangan semakin tidak nyaman.

Apa tujuan menikah? Pengin bahagia kan? Salah satu ciri rumah tangga yang bahagia adalah adanya rasa aman, tentram, dan nyaman saat bersama pasangan. Seperti yang dijelaskan dalam QS Ar Rum 21 yang sering dikutip di undangan-undangan nikah itu… agar kamu merasa tentram, dan Dia menjadikan diantaramu rasa kasih dan sayang. Merasa kurang bila tidak bersama pasangan dan merasa sempurna bila bersama pasangan, ibarat sandal yang harus selalu sepasang. (hihi ternyata mengibaratkan diri sebagai sandal nyontek dari Teh Mimin…)

Aku suka perumpamaan sandal ini karena menurutku pasangan itu gak harus sama minatnya, sama hobinya, sama sifatnya, yang penting sama tujuannya. Pasangan itu bukan kanan dan kanan kan, melainkan kanan dan kiri. Perbedaan kultur, cara berfikir, hobi, dll tidak menjadi masalah berarti, malah membuat kami saling melengkapi. Suamiku lahir dan dibesarkan dengan kultur Sunda di kota besar Jakarta, sedangkan aku lahir dan tumbuh di sebuah desa di kota kecil dengan kultur Jawa. Logika dan cara berfikir suamiku cenderung ‘anak IPS’, logika dan cara berpikirku ‘anak IPA’. Suamiku pendiam, aku agak pendiam. 😀 Suamiku gak romantis, aku eh kok curcol hahaha…

Ya, gak ada rangkaian bunga di hari jadi pernikahan kami, gak ada kejutan (kado maksudnya haha…) dan seremoni di hari ulang tahunku (pernah sih… tapi jarang <- curcol lagii), gak ada surat cinta dengan rangkaian kata-kata indah di inboxku, tapi selalu ada telinga yang mendengar keluhku, ada sabar yang menampung ruwetku, ada keikhlasan dan tenaga bantuan untuk ururan domestik, dan ada doa yang aku yakin dipintakan untukku.

Mengutip perkataan Om Squ:

“Gak semua suami romantis bak di film drama, gak semua suami ngerti semua yang dimaui istri kala istrinya cuma diam tapi pengin suami ngerti (kecuali suaminya seorang dukun). Para suami itu tau, care, dan memperhatikan hal-hal kecil yang dilakukan istrinya untuk keluarga, tapi mungkin gak terucap. Gak semua suami bisa menulis merangkai kata. Gak semua suami bisa spontan bertutur indah, merangkai kalimat untuk menyatakan cintanya. Mungkin kikuk, tak biasa. Mungkin hanya dipendamnya dalam hati, lalu diganti doa untuk istrinya, dalam sujud malamnya…”

Eh tapi sesekali romantis juga deng….. ini beberapa contohnya yang sempet dicapture.

Gambar
status BBMnya yang bikin ‘uhuk uhuk’
Gambar
jadi, aku yang gak romantis ya?

Dan ini yang terbaru, notification facebookku kemarin pagi.

Gambar

Sudah sudaaah…. kok malah pamer kemesraan. (Pamer tanda tak biasa 😀 )Tipsnya mana? Ah tips mah cari di google aja yaaa…