Parenting

Mars dan Venus

Aku masih dalam rakaat terakhir sholat Isya ketika kegaduhan itu mencapai puncaknya. Javas nangis! Uugh, sungguh mengganggu konsentrasi shalatku yang memang gak khusyu’ ini. Kesselll deh, pengin marah banget rasanya. Gak kapok-kapok si Aa tiap hari diomelin dibilangin, teteeep aja godain adiknya. Tiap hari pasti aja Javas dibikinnya nangis. Dan semakin cengeng Javasnya, semakin seneng Youri godainnya. Grhh…

Awalnya mereka cuma bercanda seperti biasa. Terdengar gaduh dari kamar tempat sholatku ini, tapi gak ada tangisan. Entah bagaimana awalnya, yang jelas terdengar suara teriakan-teriakan histeris Javas yang lari-lari dikejar oleh Aa Youri yang tertawa-tawa (dan tentu saja ditambah ‘backing vocal’ suara teriakan Jindra yang berpartisipasi berteriak-teriak kegirangan tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi).

 “Gaaak….! Gak mauuu….!” suara Javas terdengar histeris sambil lari-lari.

 “Makanya ambilin… kalo gak mau nanti Aa sun loh.” ini suara Youri.

 Dan endingnya ya itu tadi, Javas nangis. Sepertinya dia berhasil kena sun Aa Youri.

Oalaaah…. disun aja kok nangisnya kaya diapain sih A Javas?

 Ya begitulah. Javas paling gak mau dan gak suka dicium oleh Aa Youri. Kalau dicium mamanya sih dia masih mau-mau saja. Youri pun dulu begitu. Di usia pra sekolah sudah mulai gak suka dicium. Beda banget sama Neysa. Neysa dulu sangat suka dicium, baik olehku maupun papanya. Bahkan sun sayang ini menjadi ritual wajib sebelum tidurnya. Sun kening, selimutin, dan ucapan “Selamat bobo Sayang,” atau “I love you,” atau “Mama sayang Kakak,” wajib hukumnya.

Neysa kecil pun sangat suka menggelayut manja, dipeluk dan dihujani kata-kata mesra. Neysa selalu ingin rasa sayang dan cinta kami padanya diucapkan. Butuh kepastian? Mungkin. Gak yakin bahwa kami orang tuanya ini mencintainya? Ah masa sih? Youri gak pernah tuh nanya-nanya apakah kami mencintainya atau gak. Anteng aja. Neysa? Seriing…. Dan walaupun sudah ratusan kali kami bilang kami mencintainya, tapi tetap saja dia bertanya dan ada binar-binar kebahagiaan di matanya setiap kali dia mendengar (lagi) kata-kata sayang dan cinta itu. Dan masih ditambah pula pertanyaan “Mama lebih sayang Kakak atau Adik (Youri maksudnya)?” yang kalau kujawab “Sama sayangnya” akan membuatnya cemberut. 😀 Biasanya kujawab “Mama sayang Kakak dan Adik sama besarnya, tapi Kakak disayangnya lebih lama, udah disayang selama 6 tahun. Kalau Adik disayangnya baru selama 4 tahun.” dan si gadis kecil pun tersenyum lebaaar, sementara si pria kecil tetap cuek, gak peduli, anteng dengan mainannya hahaha…..

Begitulah pria, begitulah wanita. Bahkan sedari kecil pun mereka sudah berbeda. Konon katanya pria dari Mars dan wanita dari Venus 😀 . Wanita butuh perhatian, kesetiaan, dan ketegasan, pria butuh kepercayaan, penerimaan, dan penghargaan. Wanita perlu jaminan, pria perlu dorongan.

 Tapii… pria atau wanita tetap saja mereka makhluk yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban atas hidupnya. Pria atau wanita sama-sama punya kewajiban untuk taat pada perintah agamanya dan menjauhi larangan-Nya. Jadi kewajibanku sebagai orang tua tetap sama saja, mau punya anak laki-laki atau perempuan, ya kewajiban kami adalah mendidiknya.

 “Apa beda pola pengasuhan anak laki-laki dan perempuan Mbak?” pertanyaan Kiky Amel dalam GA perdana dalam rangka ultah pertama blogku di blogspot.

 Pada intinya sama. Anak laki-laki maupun perempuan kami didik dan siapkan untuk menjadi manusia yang patuh pada perintah Alloh dan menjauhi semua larangan-Nya. Dengan mematuhi perintah Alloh maka mereka akan berusaha menjadi manusia yang banyak memberi manfaat pada manusia lainnya, dan taat beribadah untuk mempersiapkan kehidupan akheratnya. Berusaha menjadi manusia yang banyak memberi manfaat itu berarti banyak hal, ya jujur, pinter, terampil, sehat, luwes bergaul, kaya, dermawan dll dsb. Anak laki-laki harus pinter, anak perempuan pun harus pinter. Anak perempuan harus luwes bergaul, anak laki-laki pun harus luwes bergaul.

 Anak laki-laki maupun perempuan di hari Minggu sama-sama mendapat tugas nyuci, nyuci piring, nyapu, ngepel dan membantu memasak. Sama-sama diajari mengendarai motor dan nyetir, dan sama-sama harus bisa dititipi menjaga adik-adiknya kala aku mandi, sholat, atau melakukan kesibukan lainnya. Tapi untuk tugas-tugas ‘berat’ yang perlu tenaga ekstra, tentu saja Youri yang ditugaskan, dan Neysa hanya membantu saja. Di sini kepada mereka dijelaskan bahwa laki-laki memang diciptakan dengan fisik yang lebih kuat dari perempuan. Tulangnya lebih kuat, ototnya lebih besar, kulitnya lebih kasar, jadi wajar saja kalau tugas angkat-angkat beban berat adalah tugas laki-laki. Membawakan belanjaan mama, misalnya, itu tugas Youri, bukan Neysa.

GambarWanita pun harus kuat, pemberani, dan tangguh.

 Cara mendidiknya pun mungkin sedikit berbeda. Neysa lebih suka ditanya dan diperhatikan, sementara Youri lebih suka kalau diberi kepercayaan. Waktu kami tinggal selama 40 hari untuk beribadah haji, nilai-nilai ulangan Neysa merosot, sementara nilai Youri malah maju pesat. Rupanya Youri selama ini merasa ‘terganggu’ oleh mamanya yang cerewet dan sering mengingatkannya untuk belajar ini. Tanpa ada mamanya yang cerewet, nilai-nilai ulangan Youri malah bagus. Dari situ aku belajar lebih mengerem diri kepada Youri, gak perlu disuruh berulang-ulang untuk ini itu, cukup beri kepercayaan, dan ingatkan sesekali.

GambarAnak perempuan mana boleh berenang tanpa baju gini kan?

Dalam obrolan ringan sering kami tekankan bahwa laki-laki dan perempuan itu memang fitrahnya berbeda. Batas aurat yang wajib ditutup berbeda. Aturan agama pun sudah jelas menyebutkan bahwa laki-laki gak boleh menyerupai wanita, wanita gak boleh menyerupai laki-laki.

Kepada dua anakku yang masih balita, terutama Javas, baru kuajarkan bahwa Papa, Aa, Javas dan adik Jindra itu laki-laki, dan Mama serta Kakak adalah perempuan. Kubahas tentang baju laki-laki, dan baju perempuan. Kami tunjukkan juga ada toilet untuk laki-laki, ada toilet untuk perempuan (di tempat umum).

Membedakan mainan anak laki-laki dan perempuan? Kayanya gak perlu. Sedari kecil minat laki-laki dan perempuan memang sudah terlihat berbeda. Kalau anak perempuan suka boneka beserta aneka baju dan pernak perniknya, anak laki-laki tanpa diarahkan pun lebih suka bola, mobil-mobilan, pesawat, kereta, robot, dan all about boys lainnya.

GambarBoys thing.

Anak perempuan lebih cepat ‘dewasa’? Yup, betul. Sedangkan boys will be boys. Jadi ya maklumi saja ya Buuu kalo suaminya masih hobi main PS, main futsal, atau koleksi mobil-mobilan…  hihi… Yang penting siapkan anak laki-laki kita untuk menjadi suami dan menjadi ayah pada suatu saat nanti. Sipakan anak perempuan kita untuk menjadi istri dan menjadi ibu suatu saat kelak. Banyak orang tua yang lupa akan hal ini. Mereka hanya sibuk menyiapkan anak-anaknya untuk menjadi dokter, arsitek, insinyur, penyanyi, desainer, dll dsb. Dan akibatnya kata Bu Elly Risman adalah banyaknya suami/istri yang tidak siap menjadi suami/istri, banyak orang tua yang tidak siap menjadi orang tua.

Nah, bagaimana cara menyiapkan anak-anak kita untuk menjadi orang tua bagi anak-anaknya kelak? Mari kita terus belajar…  *trus ditimpukin pembaca. Ih beneraaan… aku juga gak tauu… yang jelas, teruslah belajar menjadi orang tua, belajar ilmu parenting. Sadari peran kita sebagai orang tua, penuhi hak anak-anak kita, dan jangan lupa berdoa.

Advertisements