84

Sok Sibuk

“Ma itu Javas Jindra ya, Aa mau ke masjid dulu, udah adzan (isya),” kata Youri.

Aku masih berada di dapur. Javas dan Jindra main di ruang tengah. Kulihat sebentar mereka anteng, aman terkendali.

Panci berisi kaldu sudah dijerang di atas kompor, sekarang saatnya kupas wortel, trus potong-potong. Kompor satu lagi gak boleh nganggur dong, wajan pun nangkring di sana. Isi minyak. Air di panci sudah mendidih, wortel pun masuk panci. Minyak mendidih, ayam, tahu, tempe masuk ke wajan. Saatnya potong-potong bakso dan jamur, cemplungin ke panci menemani wortel yang sudah mulai melunak. Ayam goreng mateng, ganti minyak di wajan dengan minyak baru untuk menumis bawang. Kupas bawang, cincang, tumis sebentar dan menyusul nyemplung ke panci. Tomat, daun bawang, dan seledri pun sudah antri di atas talenan. Potong-potong, cemplung-cemplung. Garam, merica dan sejumput gula pun menyusul. Cicipi, udah enak, sip. Gak sampai 15 menit, makan malam sudah siap. Aa Youri dan suamiku pulang dari masjid, sayur sop, ayam goreng, plus tahu tempe bacem sudah menanti. Aku mandi, terus sholat isya.

Selesai makan, kelonin Jindra, cuci dan sterilkan botol Jindra, masukkan ke tas sekalian dengan baju ganti Jindra untuk esok hari di daycare, sambil sesekali membantu Javas menggunting, menggambar, atau mengelem hasil karyanya. Baju kotor sudah masuk mesin cuci setelah sebelumnya pakaian yang mengandung ompol dibilas dulu oleh suamiku. Beres, tidur.

Pagi-pagi bangun langsung menuju kulkas. Keluar-keluarin bahan masak yang beku dari freezer, minum air putih, wudhu, sholat subuh. Beras, kaldu, daun salam, masuk ke rice cooker mini untuk nasi Jindra. Taruh wajan di atas kompor, potong-potong bawang, tumis pakai mentega, masukkan udang, jahe, daun salam, tambah air dikit, tutup. Potong-potong tomat dan daun bawang, masukkan ke udang bersama kecap dan saus tiram. Kompor sebelah belum bekerja nih. Oke, ambil panci kecil, isi tepung beras merah dua sendok, santan, gula pasir. Aduk-aduk, jerang sebentar, jadi bubur manis untuk makanan selingan Jindra. Udang pun sudah mateng. Lanjut? Ya, ambil kukusan, jerang di atas kompor. Siangi buncis, brokoli, dan waluh kecil, kukus. Nitip kukus juga 2 butir telur untuk Javas Jindra. Parut tempe dan wortel, masukkan ke rice cooker mini. Kompor sebelah? Rebus air mandi untuk Javas (iya, gak punya water heater 🙂 ). Javas bangun, mandi sama Papa. Urusan dapur beres? Belum. Bikin juice dulu. Beres? Ya. Aa Youri sarapan, aku masuk-masukin semua hasil masakan ke dalam kotak-kotak bekal. Cuma Youri yang sarapan di rumah, yang lain sarapan di luar rumah. 😀 Nasi, udang, sayuran kukus dan juice untuk suamiku. Nasi lembek, bubur manis, telur rebus dan buah untuk Jindra, juice untuk Javas dan Youri. Masuk-masukin ke tas, dan kemudian barulah aku mandi dan bersiap berangkat ke kantor.

Begitulah kira-kira gambaran aktivitasku di rumah setiap harinya, menjawab pertanyaan Bunda Muna dalam GA perdana dalam rangka ultah pertama blogku di blogspot. “Walaupun gak menang GA-nya aku tetep mau ngotot dan nagih terus request tema tulisan ini: aku pengen tauuuu banget daily activitiesnya mbak Tituk sbg ibu berputra EMPAT yg bekerja dan ttp kasih ASI eksklusif ke Jindra kan, itu cara ngatur waktunya gimanaaaaaaaa?! Kpn masak2nya? Kpn waktu utk keluarga? Kpn blog walkingnya? Kapan nulisnya? aku sungguh pengen taauuuuu..” kata Jeng Muna bundanya Zen ini.

Pernah juga ada seorang teman yang tiba-tiba ngirim BBM, “ Mbak aku mau nanya, tapi jangan diketawain ya, soalnya pertanyaanku ini aneh. Gimana sih Mbak caranya ngatur waktu? Anakmu empat tapi masih sempet masak, ngeblog, dan bahkan bikin kue macem-macem. Anakku cuma dua, ada pembantu, tapi kok kayanya aku gak sempet ngapa-ngapain.”

Hahaha… Tampak seperti supermom yang sibuk bin riweuh? Gak terlalu kok… Pertama, aku gak kasih ASI eksklusif lagi, tapi sudah ditambah sufor dan MPASI. Kedua, aku gak kerjakan semua pekerjaan rumah sendiri, tapi dibantu oleh seorang ‘Teteh’ yang datang dan pulang setiap hari, membantuku merapihkan rumah dan menyetrika baju kami sekeluarga. Ketiga, aku hanya memasak masakan ‘instan’ di hari kerja. Makan makanan instan tiap hari? Kan gak sehat… Ih, tenang dulu.. ini bukan makanan instan bikinan pabrik kok, tapi makanan instan bikinanku sendiri. Maksudnya makanan instan ituh, makanan yang masaknya gampang dan cepat seperti yang kuceritakan tadi itu loh…. hihi…

Bagaimana menyiasatinya?

Lauk yang perlu waktu lama memasaknya, biasanya sudah aku masak saat weekend, jadi saat weekdays tinggal goreng saja, contohnya: ayam goreng yang sudah diungkep, tahu dan tempe bacem, empal/gepuk dll.

Ikan pun sudah dibersihkan dan dibumbui saat weekend, simpan di freezer, weekdays tinggal goreng saja. Udang dan cumi pun begitu, siangi dan bersihkan saat weekend, simpan di freezer, dan siap digunakan sewaktu-waktu.

Bikin bumbu siap pakai, misalnya bumbu merah (duo bawang plus cabe dan tomat yg dihaluskan dan ditumis), simpan di kulkas. Bisa dipakai sewaktu-waktu untuk nasi goreng, ayam/ikan balado, bahkan sayur lodeh atau tom yam, tinggal padu padan dengan bumbu dan bahan lain. Bikin atau sediakan juga bumbu siap pakai seperti bawang goreng, dan merica bubuk, kalau sering bikin sop dan semacamnya.

Gambar

 Kalau sering memakai masakan bersantan, peras santan dan masukkan dalam kantong plastik kecil-kecil untuk sekali pakai, simpan di freezer. Hal yang sama berlaku juga untuk kaldu.

Ngejus tiap pagi ribet? Gak jugaa… Buah-buahan yang tidak awet lama di kulkas seperti nanas, strawberry, sirsak, semua sudah siap pakai. Siangi dan bersihkan buah, simpan dalam kantong plastik kecil per sekali pakai, dan simpan di freezer. Bikin juice tinggal cemplung-cemplung, gak pakai kupas-kupas dulu yg lumayan makan waktu (pagi hari, tiap menit begitu berharga, right?)

Gambar

Sayur harus selalu dimasak segar kan ya, jadi kalau sayur ya tetep dadakan masaknya. Itu pun yang simpel-simpel aja. Sayur bening, sayur sop, sayur dikukus (kadang dimakan langsung, kadang disajikan bersama bumbu pecel atau bumbu urap yang tersedia di kulkas tentu saja), atau yang paling mudah, salad. Ada tips menyimpan sayuran yang baru aku baca (belum kupraktekkan) yaitu cuci bersih sayuran, keringkan, bungkus dengan kain/lap bersih, simpan di kulkas. Kayanya patut dicoba juga nih, biar makin cepet masak sayuran gak pake nyuci-nyuci dulu.

Jadi, weekend bukannya liburan dong Mbak, malah sibuk nyiapain ini itu? Tenaaaang… kan ada si Teteh yang bantuin 😀 lumayanlah untuk ngupas-ngupas bawang, meras santan, nyuci ikan, ayam, udang dkk itu gak harus dikerjakan sendiri kan? Dan yang jelas, nyuci semua ‘kekacauan’ peralatan setelah memasak itu yang penting. Kalau hari Sabtu Teteh gak datang, aku libur masak deeh…. hihi.. gak sanggup deh kalau harus beresin sendiri semua bekas ‘kekacauan’ itu.

Kok masih sempet bikin-bikin kue? Ah kalau ini sih ‘me time’ku… pernah kuceritakan sebelumnya di sini kan, bahwa memasak itu salah satu sarana refreshing dan me timeku, terutama saat mencoba resep-resep baru. Kasihan banget sih me time-nya di dapur, bukannya jalan-jalan, hang out sama temen-temen. Hehe.. gak usah kasihan, namanya me time itu kan beda- beda tiap orang kan yaa… Ngumpul sama temen, jalan-jalan atau sekedar makan siang bareng teman-temanku ada waktunya juga kok.. selalu kuusahakan dilakukan pada jam istirahat di hari kerja 😀

Kapan nulisnya, kapan blog walkingnya, kapan komen-komen di media sosisal? Gak ada waktu khusus. (makanya tulisan ini muncul di bulan Maret padahal udah janji bulan Februari menayangkan 6 tulisan, eh ternyata Cuma bisa 5 🙂 ) Biasanya sih di saat menunggu, di lampu merah, di saat macet, sambil ngeloni Jindra, dan saat ngantuk di kantor sampai gak bisa mikir lagi haha…. Bener loh, sejam mengerjakan kertas kerja di excel itu bisa bikin otakku hang gak bisa mikir. Dan buka Mozilla Firefox atau buka-buka hape sekitar 10 sampai 30 menit pun cukup untuk menyegarkan pikiranku lagi.

Kapan nonton TV, baca novel, merawat diri? Ah ini sih sesekali aja, gak rutin. Gimana kemauan dan kesempatan saja.

Kapan waktu untuk keluarga? Kalau yang dimaksud waktu untuk keluarga itu waktu berada bersama keluarga, ya waktuku cuma sepulang kerja sampai besok pagi berangkat bekerja, itu pun disambi ini itu. Plus weekend tentu saja.  Tapi kalau waktu untuk keluarga menurut pengertian yang lebih luas, maka sebagian besar waktuku adalah untuk keluarga. Seperti pertanyaan kapan waktu untuk beribadah? Kalau yang dimaksud beribadah adalah sholat dan tilawah, maka waktu beribadahku paling cuma setengah jam sehari. Tapi kalau ibadah yang dimaksud adalah ibadah dalam arti luas, maka sebagian besar waktuku adalah (mudah-mudahan bernilai) ibadah. Gimana niatnya kan? Bekerja, ibadah. Menjaga silaturahmi, ibadah. Olah raga, ibadah.

Eh iya, kapan waktu untuk olah raga? Nah ini nih yang masih jadi pe-erku. Belum rutin olah raga euy…bahkan bisa dibilang hampir gak pernah. Baiknya kapan dan apa ya olah raganya? Ada saran?

34

Masterchef Tempe Goreng

pic20140216210542[1]

Duh susahnya untuk konsisten nulis. Bahkan udah sok-sokan bikin GA dan janji mau nulis 5 hari sekali tetep aja gak bisa. Baru dua kali postingan dan udah melanggar aja. Postingan pertama tanggal 5 Feb, kedua tanggal 10 Feb, yang ketiga harusnya tanggal 15 Feb dong yaa… ini udah tanggal berapa???

Tadinya mo bikin tulisan yang kupersembahkan untuk anak perempuanku, karena tanggal 15 Februari itu bertepatan dengan ultahnya, eh tapi gak sempet aja. Dan lagi pula untuk ultahnya kali ini dia rekues minta dibikinin kue. Baiklaah… gak dibikinin jurnal khusus, dibikinin kue saja. Kebetulan beberapa hari yang lalu Mbak Titi posting resep choco devil cake yang tampak mudah, jadi berani deh. Nah membuat tampilan si choco devil pantas dikasih judul “Kue Ultah” ini yang bikin grogi. Untung dulu pernah beberapa kali nungguin kakak iparku yang jago masak itu bikin black forest, jadi ya masih inget-inget dikit deh. Yang gampang tapi hasilnya cantik menurutku adalah, siram cokelat aja tuh si cake cokelat.. beres.

Jumat malem setelah Duo J tidur, mulailah aku beraksi. Dan ternyata urusan memake-up kue ini gak semudah yang kulihat atau kubayangkan. Huhuhu…. Gak bisa rapi. Si butter cream ini kan lembek gitu ya, susah deh dibentuknya. Jadi ya agak belepotan gitu deeh…. Tapii… walau harus telat tidur sampai jam setengah dua, sebagai pemula (banget) dalam masak memasak, apalagi bikin kue ultah, aku PUAS.

Masih belepotan tapi lumayanlah sebagai pemula.

Masih belepotan tapi lumayanlah sebagai pemula.

Jadii…. Cerita tentang masak memasak aja yuk.  Melanjutkan GA perdana dalam rangka ultah pertama blogku di blogspot ada yang memberi masukan untuk menulis tentang kesukaanku memasak dan serunya memasak bersama anak-anak, yaitu Nur Ari Milawati.

Aku gak ingat sejak kapan aku belajar memasak, yang pasti sejak SD aku sudah biasa disuruh ibuku ke warung membeli aneka bahan masakan atau bumbu dapur sehingga sejak itu pula aku sudah bisa membedakan mana ketumbar mana merica, mana jahe mana kencur, mana daun bawang mana seledri. Dan tentu saja aku juga diwajibkan membantu ibuku memasak di dapur. Mengupas bawang, memotong sayuran, memarut kelapa (tugas yang paling kubenci), dan mengulek bumbu. Dan lama kelamaan aku pun mulai bisa memasak sendiri. Masakan rumahan yang simpel-simpel saja. Telur dadar, nasi goreng, tempe goreng, dan sayur sop.

Keren kan masih SD udah bisa masak? <-mulai sombong 😀  Biasa aja kaliii…. Cuma goreng tempe mah anak TK juga bisa. Eits… jangan salah. Ibu-ibu pun banyak loh yang gak belum bisa bikin tempe goreng. Di warung langgananku sering kok kulihat ibu-ibu beli tempe sepaket dengan bumbu tempe goreng instan. Bukan tepungnya ya, bumbu celup. Padahal kan gampil bingit… 😉 Ah bukan gak bisa kali, males bikin bumbunya. Masa sih… Cuma ngulek bawang putih sama garem doang males. Gak usah sok-sok menghakimi deh.. siapa tau dia gak bisa bikin tempe goreng tapi jago bikin rendang atau gule. Gak juga tuh kayanya, soalnya dia juga beli bumbu sop instan, bumbu sayur asem, bumbu nasi goreng dll. Ish… kok jadi ngurusin orang lain, kebiasaan deh!

Nah, prihatin (halah gayane 😀  pakai bumbu instan itu gak sehat kaaan) melihat tidak sedikitnya ibu-ibu rumah tangga yang gak bisa (gak mau?) memasak bahkan masakan rumah sederhana pun, dan berdasarkan pengalaman pribadi yang dibiasakan masuk dapur sejak kecil, maka aku pun membiasakan anak-anak (terutama Neysa) memasak. Ya samalah dengan cara ibuku dulu, dimulai dengan kupas-kupas bawang dan potong-potong sayur. Dan pelajaran berlanjut dengan  bagaimana menumis bumbu, kapan memasukkan sayuran, dan pentingnya mencicipi masakan yang kita masak.

es3Sedangkan kegiatan memasak bersama biasanya dilakukan saat membuat kue-kuean. Youri sukanya menimbang bahan-bahan dan menguleni adonan, Javas suka memarut keju, mengocok telur (dadar)  atau menaburi adonan, dan Neysa bagian mengeksekusi. Jindra? Ikut mama mengawasi para kakak bekerja hahaha….

Acara memasak bersama ini bisa menjadi acara pengisi liburan yang menyenangkan loh, kecuali kalau Teteh yang beberes gak datang, acara memasak bersama bisa diakhiri dengan omelan mama yang pusing melihat betapa berantakan dapurnya  😀

Ujian kesabaran juga loh mengajari (membiasakan) anak-anak memasak ini. Selain sudah pasti dapur  makin berantakan, kadang kesabaran diuji oleh terlihat  asal-asalannya mereka memasak. Kadang gemes loh lihat gerakan kaku ‘cekithingan’ (iki bahasa Indonesiane opo?) Neysa mengulek bumbu, atau bagaimana asal-asalannya mereka mencuci sayuran, atau anehnya cara mereka memotong sayuran. Kalau mau menuruti ego sih aku lebih suka memasak sendiri daripada memasak rame-rame. Tapi kapan lagi anakku belajar memasak kalau bukan saat libur akhir pekan?

Kenapa harus dari sekarang? Kenapa tidak? Biar gak kaku laah… Terutama untuk masakan rumah sehari-hari. Masa tiap hari masak sambil pegang buku resep atau hape (ini aku tiap hari Sabtu hihi..).  Pernah baca di mana ya lupa, bedanya cooking sama baking. Kalau ‘baking’ itu katanya mau yang masak ahli atau pemula  asal kita nimbang bahan dengan tepat dan ikuti detil resep step-by step maka rasa masakannya bisa mirip atau bahkan sama, sedangkan ‘cooking’ resep yang sama di tangan yang berbeda akan menghasilkan rasa yang berbeda. Numis bawang kurang mateng aja bisa bikin kacau rasa oseng kangkung kita kan? Itu contohnya.

Contoh lainnya adalah kemampuan memasakku ini  yang itu-itu saja karena kurangnya pengalaman (padahal practice makes perfect kan?). Seputar masakan jawa (tepatnya Magelang) dan Sunda saja. Sop, sayur lodeh, ayam goreng, balado, pepes, bacem, urap, dan tempe goreng (hihi… favorit :)). Bikin gule, rendang, dan aneka masakan Padang gak bisa. Masakan Jepang, masakan Eropa, angkat tangan. Ya karena gak biasa. Kalaupun mau, harus sambil nyontek resep, itu pun hasilnya mungkin akan diketawain orang Padang atau orang Jepang. 😀

Pertanyaan Nur Ari Milawati berikutnya adalah bagaimana hasil masakan anak-anak? Sejauh ini baru Neysa yang sudah bisa dilepas untuk memasak sendiri . Youri baru sebatas bikin telur ceplok dan rebus mie instan. Neysa sudah bisa bikin Nasi goreng, sayur sop, mie goreng, dan cap cay. Memasak mengikuti resep sederhana pun sudah bisa, bahkan dia sudah pede menjual risoles hasil masakannya sendiri.

Salah satu hasil karya Neysa

Salah satu hasil karya Neysa

Sore hari sepulang sekolah bersama 2 orang temannya di asrama, Neysa bikin risoles, kemudian disimpan di freezer untuk digoreng keesokan paginya, dan dibawa ke sekolah untuk dijual. Satu buah risoles isi sosis, telur, dan mayones itu dijual tiga ribu rupiah. Untung berapa Kak? Gak tau Kakak gak pernah itung, katanya. Hihihi namanya juga anak-anak…

Risoles

Risoles

Last but not least…. urusan masak-memasak adalah juga urusan minat dan hoby. Sama-sama diwajibkan masuk dapur sejak kecil, adikku sampai sekarang gak suka masak. Sedangkan aku, memasak bisa menjadi ajang refreshing dan me time, terutama saat mencoba resep-resep baru. Puas dan bahagia rasanya ketika melihat kue mengembang sempurna, sebahagia melihat suami dan anak-anak lahap menyantap masakanku.

Namanya minat dan hoby gak bisa dipaksakan loh yaa…. kalau memang gak suka memasak ya gak perlu dipaksakan, toh banyak tersedia jasa catering dan warung makan. Serahkan saja pada ahlinya. 🙂 Tapiii gak ada salahnya loh belajar memasak, terutama bagi Anda wanita yang sudah berkeluarga. Karena saat anak-anak tumbuh dewasa dan tidak lagi tinggal di rumah kita, salah satu hal yang dirindukan dari rumah adalah masakan ibunya, walau pun hanya tempe goreng. Percayalah. 🙂