Parenting

Pilah-Pilih Sekolah di Jakarta

deee96224d487c8f4335f3cdbf9300bdresNet7_5

Sudah hampir tahun ajaran baru  ya Moms? Hihi gak kerasa deh ya… Gimana, udah dapet sekolah baru untuk putra putrinya? Ternyata gak gampang ya nyari sekolah yang benar-benar cocok. Ada yang cocok kurikulumnya, eh gak cocok harganya. Ada yang cocok harganya, eh jaraknya jauh dari rumah. Ada yang deket rumah, eh gurunya jutek. Dan sebagainya lah ya… pasti banyak pertimbangan memilih sekolah yang cocok untuk anak kita.

Kata kuncinya adalah COCOK. Cocok untuk anak kita belum tentu cocok untuk anak tetangga. Bagus untuk kita belum tentu bagus untuk orang lain. Karena nilai-nilai masing-masing keluarga berbeda-beda. Tujuan orang tua menyekolahkan anaknya juga berbeda-beda.

Berikut ini beberapa nama Sekolah Dasar yang aku datangi tahun lalu ketika memilih sekolah untuk Javas. Kriteriaku memilih sekolah pernah kutulis di sini ya, barangkali ada yang cocok, kriteria kita hampir sama, mudah-mudahan info ini bermanfaat.

Kriteria pokoknya adalah Sekolah Dasar Islam, lokasi di seputaran Karet, Setiabudi, dan Kuningan Jakarta  Selatan. Info ini (terutama biaya sekolah) berlaku untuk tahun ajaran 2016/2017 ya. Sumber: Brosur Sekolah dan wawancara dengan pihak sekolah.

  1. Azhari Islamic School
azhari.JPG
foto dari web azhari school

Azhari Islamic School adalah cabang Al Azhar Cairo Mesir di Indonesia, berdasarkan penandatanganan kerjasama Yayasan Waqaf Cakrawala Insan Azhari dengan Al Azhar Cairo pada tanggal 12 Januari 2004. Misi sekolah ini adalah membimbing dan mengajar siswa untuk memiliki keimanan yang kuat, berwawasan luas, berakhlak mulia, terampil, kreatif, berpikiran bebas dan berkarya.

Kurikulum:

  1. Al Azhar Cairo Mesir: Bahasa Arab, Islamic, Tahfidz Qur’an
  2. Diknas
  3. Buku dari Singapore: Math, English, Science

Target Lulusan:

  1. Dapat menerapkan nilai-nilai Islam yang bersifat universal dalam kehidupan.
  2. Tahfidz Al Qur’an 18 Juz untuk SD.
  3. Mampu berbahasa Inggris dan Arab dengan penguasaan 2000 kosa kata.
  4. Memiliki kemampuan Akademik yang tinggi terutama di bidang sains dan matematika.
  5. Memiliki kecakapan entrepreneurship dan leadership.

Fasilitas: lokkasi strategis, 1 kelas 2 guru 24 siswa, full AC room + infocus, lab computer, lab IPA, perpustakaan, masjid, bus sekolah (antar jemput), kantin, lapangan futsal, Arabic & English native teacher.

Kegiatan rutin: renang, lomba-lomba, Pramuka, Book day, Science Day, Filed Trip, Culture Day.

Ekstrakurikuler: Karya Ilmiah Siswa, Futsal, Aikido, Painting, Samman Dance, Seni baca Qur’an, robotic.

Biaya Pendidikan: Uang Masuk Rp 28.625.000 dan SPP Rp 1.300.000/bulan. Belum termasuk catering, jemputan, dan ekskul.

Alamat:  Jl. KH Ilyas No.39 Karet Kuningan Setiabudi, Rasuna Said Jakarta Selatan. Telp 021-57950043. Di lokasi ini selain ada Primary School juga terdapat Kindergarten Azhari Islamic School.  Selain itu juga terdapat MI dan MTs Tanwirul Qulub.

Wow banget ya target lulusannya, 18 juz. Biaya juga cukup wow bagiku 🙂

 

  1. SD Laboratorium PGSD FIP UNJ
lab school.JPG
foto dari web sd lab pgsd

Lebih popular dengan nama SD Lab atau Lab School. Berlokasi di Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Jakarta, di Jl. Setiabudi I No.1 Setiabudi Jakarta Selatan, telp. 5279895.

Misi Sekolah:

  1. Menciptakan inovasi dalam pembelajaran, dan dapat melaksanakan evaluasi proses dan hasil secara klasikal, kelompok, dan individual.
  2. Mengembangkan budaya local dalam rangka pelestarian lingkungan dan budaya nasional.
  3. Menjadi tempat penelitian pendidikan dalam rangka menyikapi tantangan kemajuan.
  4. Melaksanakan program inklusi.

Fasilitas: gedung sekolah permanen (iya laah… 40 tahun yg lalu suamiku pun sekolahnya di sini :)), halaman luas, lokasi strategis dan mudah dijangkau, parkir luas, ruang kelas ber-AC, perpustakaan, ruang khusus siswa ABK, aula serbaguna, ruang computer, kantin jujur, ruang UKS, lab IPA, lab Bahasa, lab Matematika. Kapasitas kelas dibatasi 1 kelas 25 siswa.

Jam belajar:  Senin-Kamis 07.00-12.30 (kelas 1 sd 3), Senin-Kamis 07.00-13.30 (kelas 4 sd 6), Jumat 07.00-13.00. Sabtu berenang 08.00-10.00.

Ekstrakurikuler dan kegiatan rutin:

  1. Kegiatan jasmaniah: berenang, futsal,  taekwondo, Pramuka.
  2. Kegiatan rohaniah: TPA, pemutaran film religi/budi pekerti, praktek sholat dhuhur dan dhuha,kebaktian bagi siswa Kristen.
  3. Kegiatan keilmuan: matematika (metode self learning bekerja sama dengan Shinkenjuku Jepang), Bahasa Inggris (interaktif dengan native speaker), Komputer.
  4. Kegiatan Seni Budaya dan Keterampilan: marching band, menggambar, menari, life skill.

Biaya Pendidikan: Uang Masuk Rp 5.000.000 dan SPP Rp 500.000/bulan. Belum termasuk catering dan ekskul.

Untuk yang nyari sekolah umum (bukan berbasis agama) sekolah ini worth to try banget kan…

 

  1. SD Ar Rahman Motik

SD Ar Rahman Motik dengan metode pembelajaran Active Learning Every Day menggunakan kurikulum nasional terintegrasi dengan nilai-nilai agama Islam.

Sekolah yang mempunyai motto Terdepan dalam Prestasi Utama pada Pembinaan Akhlak ini mempunyai fasilitas: multimedia interaktif, lapangan, studio rekaman, bangunan sekolah permanen, bis sekolah antar jemput, ruang kelas ber-AC, masjid, kantin, dan koperasi.

Ekstra Kurikuler: menggambar, music, khatam, basket, Bahasa Inggris.

Klub: Sains (IT, robot), Fun Math Club, animasi, futsal, khatam dan tahfidh, basket, marawis dan qasidah.

Kegiatan rutin: Study Wisata, Islamic Leadership Outbond, khatam & tahfidz.

Biaya Pendidikan: Uang Pangkal Rp 22.500.000, Dana Sosial minimal Rp 1.000.000. SPP Rp 1.000.000/bulan. Dana Pendidikan Rp 4.500.000/tahun.

Alamat: Jl. Setiabudi Utara Blok D 1,2,3 Kuningan Jakarta Selatan. Telp 021-52921940, 52921943. Fax: 5223066.

Sebenarnya agak lebih cocok disebut sekolah umum daripada sekolah Islam, mengingat kurikulum tambahan untuk muatan Islamnya ‘hanya’ belajar baca Al Qur’an dan tahfidz surat-surat pendek. Seragam siswinya pun seperti seragam sekolah umum, tidak diwajibkan berjilbab.

 

  1. Madrasah Ibtidaiyah At Taufieq
taufik
foto dari nusagates .com

Fasilitas: Lab bahasa 40 unit, lab komputer, lab IPA, kantin dan koperasi, alat-alat kesenian, perpustakaan, musholla.

Ekstra kurikuler dan kegiatan: Paskibra, dokter kecil, Pramuka, marawis, qasidah, karate, muhadhoroh, komputer.

Biaya Pendidikan: Uang Masuk Rp 1.800.000. SPP Rp 150.000/bulan sudah termasuk ekskul dan komite.

Alamat: Jl. Perintis No.10 Kuningan Timur Jakarta Selatan. Telp 021-5270638.

Walau nampak kecil tapi sekolah ini terlihat bersih dan asri.

 

  1. SDIT Al Mughni
mughni.jpg
foto dari berita jakarta .com

Sekolah yyanng terakreditasi A ini memiliki visi: melahirkan pemimpin berkepribadiaan islami yang unggul dalam IMTAQ dan IPTEK, berpegang teguh pada Al Quran dan Hadist.

Tujuan:

  1. Menyelaraskan kurikulum Diknas, Kemenag, dan muatan lokal.
  2. Memvariasikan pendidikan formal dan informal dengan suasana belajar & mengajar yang menyenangkan.
  3. Ketercapian siswa akan aspek kognitif, afektif, dan ppsikomotorik di dalam keimanan yang lurus, ibadah yang benar, perilaku mulia, intelektual tinggi dan wawasan yang lus.

Fasilitas:  gedung sekolah berlantai 5, masjid berlantai 3, halaman (utk upacara, olah raga, tempat bermain), lab komputer, lab sains, ruang UKS, kebun IPA (kulihat benar-benar ada kebun di lantai atas), perpuustakaan manual dan digital, bank sekolah, catering dan antar jemput, kelas ber-Ac dan TV 32-42”, lokasi strategis dan mudah dijangkau, absen finger print.

Keunggulan:

  1. Every day with Qur’an
  2. Thfidzul Qur’an
  3. English camp
  4. Full day school
  5. Profesional service

Biaya pendidikan: uang masuk Rp 15.450.000 SPP 600.000/bulan belum termasuk catering dan jemputan.

Alamat: Jl. Jend Gatot Subroto Kav.26 Kuningan Timur, Setiabudi Jakarta Selatan. Telp 021-52961471.

 

  1. SDI Mubasyirin

Sekolah ini berdiri sejak 5 Januari 1970, berstatus Disamakan, terakreditasi B, dan memiliki visi menjadikan peserta didik yang berakhlak mulia didasarkan pada keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT, cerdas, terampil, bertanggung jawab kepada diri dan lingkungannya, cinta tanah air serta berkepribadian.

Fasilitas: gedung sekolah bertingkat, masjid, aula, lab komputer, lapangan sekolah, ruang UKS, perpustakaan, koperasi sekolah, sarana olah raga (tenis meja, basket, sepak bola), lingkungan kondusif dan strategis.

Kurikulum yang diterapkan adlah kurikulum yang telah ditetapkan oleh pemerintah dan kurikulum yang dibuat oleh sekolah (kurikulum lokal), dengan Bahasa Indonesia sebagai pengantar dan bahasa Inggris serta Bahasa Arab sebagai bahasa penunjang.

Ekstrakurikuler:

  1. Olah Raga: tenis meja, futsal, tapak suci.
  2. Kesenian: Calung, rampak gendang, rebana, marawis, angklung, tarian daerah.
  3. Keagamaan: Bimbingan baca Al Qur’an dan Iqra, tilawatil Qur’an dan tahfidz.
  4. Pramuka

Waktu belajar: 06.30 – 11.00 (kelas 1), 06.30 – 12.00 (kelas 2), 06.30 – 12.30 (kelas 3 s.d 6), 13.00 – 15.00 (kelas 3 s.d 6).

Biaya pendidikan: Uang masuk Rp 3.020.000, SPP lupa nanya dan gak diinfokan di brosur.

Alamat: Jl. Karbela Selatan No.1 Setiabudi Jakarta Selatan. Telp 021-5224116. Di lokasi ini juga terdapat SMPI Mubasyirin, dengan ruangan kelas bergantian dengan siswa SD.

 

  1. SDIT RPI (Rumah Pendidikan Islam)

Sekolah yang berada di bawah naungan Yayasan Rumah Pendidikan Islam ini berdiri sejak tahun 1976.

Kurikulum yang digunakan adalah kurikulum dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI dan kurikulum pengembangan pendidikan agama Islam yang disusun sendiri oleh sekolah disesuaikan dengan kebutuhan siswa dan visi misi sekolah.

Ekstrakurikuler dan kegiatan pendukung: Outbond, karya ilmiah, silat Merpati Putih, Upacara, Mabid Ramadhan, Parenting class, dll.

Biaya Pendidikan: Pendaftaran Rp 8.420.000, SPP 450.000/bulan.

Alamat: Jl. HR Rasuna Said Kav X2-2 Kuningan Timur Setiabudi Jakarta Selatan. Telp 021-98251046.

 

  1. MI Tanwirul Qulub

Yayasan Pendidikan Islam Tanwirul Qulub didirikan sejak tahun 1956 memilliki visi menjadi wadah pengembangan ilmu pengetahuan dasar terpadu dan pembinaan akhlaqul karimah.

Pola pendidikan:

  1. Perpaduan antara kurikulum Depag, Diknas, dan kurikulum khusus (Timur Tengah)
  2. Pola Kurikulum tingkat satuan pendidikan
  3. Penyelarasan dan perpaduan ranah kognitif, afeektif, psikomotorik dalam proses pembelajaran.

Tujuan pendidikan:

  1. Hafal & dapat membaca Al Qur’an dengan fasih.
  2. Memahami dasar ilmu agama secara komprehensif.
  3. Menguasai dasar ilmu pengetahuan alam dengan baik.
  4. Menguasai dasar-dasar matematika dengan baik.
  5. Memiliki keterampilan berbahasa (Indonesia, Arab, Inggris) dengan baik.
  6. Memiliki akhlak dan budi pekerti luhur.

Fasilitas: gedung milik sendiri, lab komputer, perpustakaan, perlengkapan media dalam kelas, ruangan AC, LCD proyektor, masjid, lapangan upacara.

Ekstrakurikuler: komputer, muhadhoroh, pencak silat, paskibra, marawis, futsal, basket, pengajian kitab hadist, renang, lukis, pramuka.

Jam belajar: kelas 1-2 jam 06.30 s.d 11.00, kelas 3 jam 06.30 s.d 11.40, kelas 4-6 06.30 s.d 13.30.

Biaya pendidikan: Uang masuk Rp 3.285.000 (putri) atau Rp 3.180.000 (putra), SPP 200.000. Terdapat bea siswa bagi siswa/siswi yang kurang mampu dan berprestasi.

Alamat: Jl. KH Ilyas No.39 Karet Kuningan Jakarta Selatan. Telp 021-57950046, 5223036. Di lokasi ini juga terdapat MTs Tanwirul Qulub, dan Azhari Islamic School yang sudah dipaparkan di atas.

Demikianlah paparan singkat mengenai 8 sekolah yang pernah kusurvey. Mudah-mudahan informasi ini bermanfaat. Selamat mencari sekolah yang  tepat dear parents…

Oh ya, kalau ada yang mau mencari info tentang TK di sekitaran Setiabudi  Jakarta Selatan, nanti kutuliskan juga ya…

 

 

Parenting

Karena Bu Risma

Beberapa minggu yang lalu sekolah anakku mengadakan seminar “Tantangan Mendidik Anak di Era Digital” dengan pembicara ibu Elly Risman, dan inilah isi materinya, yang membuatku gak sanggup menahan tangis ketika berlangsungnya acara…

Islam is Fun

Bismillahirrahmanirrahim..

Oke, sebetulnya kontributor sontoloyo ini belum ijin sama empunya blog buat ngisi. Cuman desakan lingkungan *caelah* udah sangat kuat. (1) teman sebaya yang ngojok-ngojokin buat nulis di laman ini lagi; (2) kasus di lapangan *emang mau nulis apaan sampe bawa kasus segala* yang udah menggila, ntar diceritain; (3) abis nonton Mata Najwa edisi Bu Risma sampe meleleh air mata, jadi pengen berjuang bareng semampu yang saya bisa; (4) kemaren kakak kelas ngeshare video dan kayaknya saya nemu benang baru (dari kasus yang ntar saya ceritain) dan penting buat saya tulis ulang supaya bisa saya runut benangnya biar ga kusut dikepala (kepentingan pribadi).

videonya ada disini :

Cukup sekian aja yang bikin saya bulet untuk nulis lagi disini. Dan sebenernya saya rada2 ragu tadi, mau nulis disini atau di blog pribadi, tapi karena nilai yang saya bawa bakal kental banget dengan prinsip hidup, saya pilih disini karena saya memposisikan diri…

View original post 4,588 more words

Parenting

Ayoo Sekolah…

GambarJavas pernah sekolah PAUD, tapi cuma 2 bulan 😀

Kira-kira sebulan yang lalu, Javas mengalami ‘kemajuan’ yaitu mau sekolah TK. Jadi bersama dua orang temannya di daycare Javas sekolah di TK ABC (bukan nama sebenarnya 🙂) yang jaraknya tidak jauh dari daycare. Beberapa kali mencoba, Javas suka dan bersemangat sekali sekolah di TK itu, tapi sayang TK tersebut gak membuka pendaftaran di pertengahan tahun seperti sekarang ini. Kalau mau sekolah di situ ya nanti di tahun ajaran baru.

Memanfaatkan momen semangat sekolahnya Javas, kepala daycare mengantar Javas dkk mencoba sekolah lain yaitu di TK XYZ yang jaraknya pun dekat dari daycare. Javas pun suka sekolah di situ. Tiap pagi dia bersemangat sekali memakai kaus kaki, sepatu, dan menggendong ransel bekalnya. TK XYZ ini mau menerima murid di pertengahan tahun, jadi kudaftarkan Javas sekolah di situ dengan biaya pendaftaran Rp 50.000.  Keesokan harinya kepala daycare SMS memberitahuku bahwa TK XYZ memintaku membayar dulu uang seragam dan uang pangkal sebelum Javas mulai sekolah. Okey, dan aku minta rincian pembayaran, yang kata kepala daycare sudah diselipkan di buku Laporan Harian Javas.

Dari total Rp 2,8 juta yang harus kubayar, terdapat rincian uang pangkal, uang kegiatan, dan seragam. Karena mulai sekolah di pertengahan tahun ajaran, tentu saja aku minta diskon dong… (mana ada sih emak-emak gak nawar? Bahkan bayar sekolah pun ditawar hihi….) dan jawaban dari sekolah adalah TIDAK ADA PENGURANGAN. What? Uang pangkal dan seragam okelah… tapi uang kegiatan? Kan Javas gak ikut kegiatan semester kemarin.. bahkan semester ini pun sudah berjalan dan Javas baru daftar.

Lima bulan lagi sudah mulai tahun ajaran baru, dan nanti bayar uang tahunan lagi? Oh tidak. Akhirnya kuputuskan untuk menunda sekolah Javas sampai tahun ajaran baru, dan ternyata dua orang teman Javas pun sama, gak jadi sekolah. Gemes rasanya. Gemes karena gak berhasil nawar? Iyaa hihi… tapi lebih gemes kepada kok segitu ‘matre’nya sekolah itu… okelah uang pangkal, seragam, spp kita gak minta diskon, tapi uang kegiatan? Misalnya piknik di semester kemarin yang tentu saja gak Javas ikutin, masa harus ikut bayar? Gak rela kan yaa….

Jadi ingat beberapa tahun yang lalu, saat Youri lulus dari TK A dan mau masuk ke TK B. Selain mendapat buku laporan hasil belajar dan klipping hasil karya, Youri juga mendapat sebuah kaos kelas dan frame foto/jam meja dengan foto-foto Youri selama sekolah. Tentu saja aku tanya ke guru, harus bayar berapa untuk kaos dan jam tersebut, karena aku merasa belum bayar uang kaos dan sadar diri jarang datang ke sekolah jadi sering terlewat atau telat dapat info. Dan ternyataa… GRATIS! Ibu guru menjelaskan bahwa di akhir tahun ajaran tersebut terdapat sisa uang kegiatan yang sudah dibayarkan, jadi DIKEMBALIKAN kepada anak-anak, dan sudah disepakati bahwa akan dikembalikan dalam bentuk kaos. Wow… aku sampai speechless… betapa amanahnya pengelola TK ini.

Kembali ke Javas. Jadii… akan didaftarkan di TK mana Javas nanti? Belum tau, tapi yang jelas bukan TK XYZ dooong 😀

Nah… sudah masuk bulan Februari gini, sudah mulai banyak loh sekolah yang membuka pendaftaran dan melakukan seleksi penerimaan siswa baru. Pusing ya, sekolah ini katanya bagus, yang itu juga bagus, yang anu keren, yang ono ngetop dll dsb. Belum lagi dipusingkan masalah biayanya <- curcoooll….. 😀

Trus pilih yang mana dong? Ya pilih yang sesuai kebutuhan laah… Kebutuhan tiap anak berbeda. Kebutuhan masing-masing orang tua pun berbeda. Tujuan tiap orang tua menyekolahkan anaknya pun berbeda. Jadi pilihan sekolah akan sangat personal sifatnya.

Seorang tetangga nampak heran ketika kukasih tau Neysa melanjutkan SMP di sekolah swasta. “Gak sayang Bu? Bukannya nilai Neysa bagus? Bunga saja yang nilainya cuma sekian sekian bisa kok masuk SMPN anu.”

“Wah, pakai jalur prestasi ya Bu?” tanyaku polos, soalnya setahuku untuk masuk SMP itu nilai minimalnya di atas nilai Bunga yang disebut ibunya tadi. Kalau gak ada prestasi seni atau olah raga atau apa pun yang menonjol rasanya gak mungkin Bunga bisa masuk SMP anu.

“Ah jalur belakang lah Bu.. yang penting bisa masuk dulu.”

Wow…. aku terpana.. kok bisa ya, ibu itu mempercayakan anaknya untuk dididik oleh sebuah sekolah yang jelas-jelas tidak jujur itu? Bahkan menghalalkan segala cara agar bisa diterima di sekolah itu.

Tetangga yang lain bercerita bahwa dia mau mendaftarkan anaknya sekolah di SD favorit, dan dengan judesnya petugas dari sekolah bilang bahwa sekolah sudah gak nerima pendaftar baru lagi, sudah penuh. Sakit hati karena merasa ditolak karena mungkin dianggap gak mampu (ibu ini datang ke sekolah dengan penampilan kumel sepulang dari pasar) seminggu kemudian si tetangga ini datang lagi ke sekolah dengan diantar suaminya, pakai mobil baru dan diparkir di depan kantor sekolah. And guess what? Si tetangga dilayani dengan ramah (oleh petugas yang sama) dan disodori formulir pendaftaran. Dan dengan bangganya dia bercerita bahwa anaknya sekarang sekolah di SD tersebut.

Wah… aku terpana lagi. Lembaga seperti itukah yang dia pilih untuk mendidik anaknya? Yang memandang orang dari penampilan dan ‘kekayaan’?

Seorang teman di kantor bercerita, menjelang UN anaknya dan beberapa teman sekelasnya ada yang sudah mendapatkan bocoran jawaban. Dari mana? Ya dari sekolah. Tujuannya apa lagi kalau bukan mendongkrak prestise sekolah.

Merinding membayangkan apa jadinya anak-anak yang dididik oleh para pendidik yang tidak pantas disebut pendidik itu. Nilai-nilai apa yang akan dianutnya ketika mereka dewasa kelak, ketika mendapat amanah jabatan misalnya? Akankah menjadi seorang pejabat yang jujur, adil dan profesional?

GambarSeperti apa sekolah yang kami pilih untuk anak-anak kami? Tiap keluarga pasti punya kriteria berbeda, tapi yang jelas kami gak mau menyekolahkan anak-anak kami ke sekolah yang ‘matre’, sekolah yang mau menerima murid dari ‘jalur belakang’, dan atau sekolah yang mengijinkan (mengajari!) murid-muridnya berbuat curang.

Setiap orang tua tentu punya pilihan berbeda untuk menyekolahkan anaknya, dengan alasan yang berbeda-beda pula.

Ada orang tua teman Neysa waktu kelas 2 SD dulu yang cepat-cepat memindahkan anaknya sekolah di SD lain gara-gara SD ini gak serius belajar, gak pernah ada PR. Sekolah macam apa ini, katanya. Padahal bagiku justru sekolah tanpa PR adalah sebuah kelebihan.

Ada orang tua yang tidak mau memasukkan anaknya ke sekolah berbasis agama, sementara ada juga orang tua lain yang mengharuskan anak-anaknya sekolah di sekolah berbasis agama.

Ada orang tua yang tidak percaya menitipkan anaknya pada sekolah negeri, ada juga orang tua yang mati-matian berusaha agar anaknya masuk sekolah negeri.

Sangat personal sifatnya, jadi rasanya gak perlu diperdebatkan, cukup untuk didiskusikan 🙂

Inilah kriteria tambahan seperti apa sekolah yang kami (aku dan suamiku) pilih untuk anak-anak kami.

  1. Sekolah full day (untuk TK dan SD). Ini menjawab kebutuhan kami sebagai orang tua yang sama-sama bekerja. Dari pada anak-anak menghabiskan waktu di rumah bersama pembantu, nonton TV atau main game tanpa terawasi, kami lebih merasa nyaman kalau anak-anak kami berada di sekolah sampai sore. Tentu saja kami pilih sekolah full day yang tidak membebani anak, yang metode belajarnya sambil bermain, dan yang tidak ada PR.
  2. Sekolah berbasis agama (untuk SD dan SMP). Sadar diri gak punya banyak waktu khusus untuk mengajari anak-anak sholat dan mengaji, kami memilih sekolah Islam untuk mendidik anak-anak kami. Takut anak-anak jadi intoleran karena gak biasa dengan keberagaman? Ah tidak. Di lingkungan rumah mereka biasa bergaul dengan beragam teman. Di TV, di film-film yang mereka tonton, di buku cerita yang mereka baca, mereka tahu ada perbedaan-perbedaan, tidak semua manusia itu menganut kepercayaan yang sama. Kenapa gak panggil guru ngaji aja ke rumah? Karena mengajarkan agama bagi kami bukanlah sekedar mengajari baca Al Qur’an dan hafalan doa-doa sholat saja. Agama hendaknya menjadi pedoman baginya dalam kehidupan sehari-hari. Akhlak yang terpuji, perilaku jujur, bersikap adil, santun, menjaga pergaulan, kuharapkan mereka dapatkan juga dari pembiasaan-pembiasaan di sekolah.
  3. Tidak mahal, alias terjangkau oleh dompet kami. Ya iyyalaah… kalau gak terjangkau mau bayar pakai apa? 😀 Tapi jangan ‘tertipu’ loh yaa… ada beberapa sekolah yang terlihat murah di pendaftaran awal dan SPP tapi ternyata di tengah-tengah berlangsungnya pembelajaran masih banyak ini itu yang harus dibayar atau dibeli. Ikut ekskul, bayar lagi. Ada lomba, bayar. Belum lagi buku atau sarana penunjang lain yang harus dibeli. Alhamdulillah saat Neysa & Youri SD kami gak pernah repot bayar-bayar apa pun selain SPP dan uang makan, sementara seorang teman mengeluhkan sekolah anaknya yang dikit-dikit memungut bayaran. Ekskul, kunjungan keluar, berenang, field trip, camping, dll semua sudah tercakup dalam uang kegiatan yang dibayar di awal tahun, dan gak mahal loh bayarnya….
  4. Persetujuan anak yang akan sekolah (untuk SMP dan SMA). Jangan sampai anak merasa terpaksa sekolah di sekolah pilihan orang tuanya.
  5. Akreditasi sekolah, prestasi akademik, fasilitas sekolah, tersedianya konselor (psikolog, dokter), banyaknya pilihan ekskul, dan lingkungan pergaulan anak menjadi bahan pertimbangan juga. Apalagi kalau anak boleh mengikuti lebih dari 1 ekskul. (Ini sih pengiritan biar gak usah ikutan les-les (musik, olah raga, animasi dll) lagi di luar hehe… kalaupun ada biaya tambahan kan biasanya lebih murah dibanding kalau les di luar.)

GambarTerus, apa peran Pak Sutisna dalam memilih sekolah buat anak-anak? Ini pertanyaan Sondang dalam GA perdana dalam rangka ultah pertama blogku di blogspot.

 Selain sebagai sesama penanggung jawab dan tentu saja menjadi parter diskusi, suamiku bertugas sebagai ‘detektif’ yang melakukan survey ke sekolah-sekolah yang akan kami pilih. Menyekolahkan anak bukan hanya menitipkan anak untuk dididik oleh sekolah, tapi anak akan ‘dididik’ juga oleh lingkungan pergaulannya. Anak-anak yang seperti apa dan anak siapa yang kelak akan menjadi teman-teman anakku harus kami ketahui garis besarnya. Suamiku nongkrong berjam-jam di kantin sekolah, di area bermain, atau bahkan di WC sekolah untuk ‘menyelidiki’ hal itu. Apa yang anak-anak itu obrolkan, bahasa apa yang dipakai (kasar atau gak), dan sopan santun mereka wajib diamati. Bahkan perilaku guru sampai tukang parkir pun kami amati.

Jadi, tentukan dulu Tujuan Lo Apa (pinjem bahasanya Ligwina Hananto 🙂), kumpulkan informasi sebanyak-banyaknya (website, brosur, testimoni), sesuaikan dengan dompet kita, dan yang terakhir datangi sekolahnya, rasakan atmosfernya. Percayalah, gak semua sekolah yang orang-orang bilang bagus atau keren, akan cocok dengan anak kita.

Parenting

Mars dan Venus

Aku masih dalam rakaat terakhir sholat Isya ketika kegaduhan itu mencapai puncaknya. Javas nangis! Uugh, sungguh mengganggu konsentrasi shalatku yang memang gak khusyu’ ini. Kesselll deh, pengin marah banget rasanya. Gak kapok-kapok si Aa tiap hari diomelin dibilangin, teteeep aja godain adiknya. Tiap hari pasti aja Javas dibikinnya nangis. Dan semakin cengeng Javasnya, semakin seneng Youri godainnya. Grhh…

Awalnya mereka cuma bercanda seperti biasa. Terdengar gaduh dari kamar tempat sholatku ini, tapi gak ada tangisan. Entah bagaimana awalnya, yang jelas terdengar suara teriakan-teriakan histeris Javas yang lari-lari dikejar oleh Aa Youri yang tertawa-tawa (dan tentu saja ditambah ‘backing vocal’ suara teriakan Jindra yang berpartisipasi berteriak-teriak kegirangan tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi).

 “Gaaak….! Gak mauuu….!” suara Javas terdengar histeris sambil lari-lari.

 “Makanya ambilin… kalo gak mau nanti Aa sun loh.” ini suara Youri.

 Dan endingnya ya itu tadi, Javas nangis. Sepertinya dia berhasil kena sun Aa Youri.

Oalaaah…. disun aja kok nangisnya kaya diapain sih A Javas?

 Ya begitulah. Javas paling gak mau dan gak suka dicium oleh Aa Youri. Kalau dicium mamanya sih dia masih mau-mau saja. Youri pun dulu begitu. Di usia pra sekolah sudah mulai gak suka dicium. Beda banget sama Neysa. Neysa dulu sangat suka dicium, baik olehku maupun papanya. Bahkan sun sayang ini menjadi ritual wajib sebelum tidurnya. Sun kening, selimutin, dan ucapan “Selamat bobo Sayang,” atau “I love you,” atau “Mama sayang Kakak,” wajib hukumnya.

Neysa kecil pun sangat suka menggelayut manja, dipeluk dan dihujani kata-kata mesra. Neysa selalu ingin rasa sayang dan cinta kami padanya diucapkan. Butuh kepastian? Mungkin. Gak yakin bahwa kami orang tuanya ini mencintainya? Ah masa sih? Youri gak pernah tuh nanya-nanya apakah kami mencintainya atau gak. Anteng aja. Neysa? Seriing…. Dan walaupun sudah ratusan kali kami bilang kami mencintainya, tapi tetap saja dia bertanya dan ada binar-binar kebahagiaan di matanya setiap kali dia mendengar (lagi) kata-kata sayang dan cinta itu. Dan masih ditambah pula pertanyaan “Mama lebih sayang Kakak atau Adik (Youri maksudnya)?” yang kalau kujawab “Sama sayangnya” akan membuatnya cemberut. 😀 Biasanya kujawab “Mama sayang Kakak dan Adik sama besarnya, tapi Kakak disayangnya lebih lama, udah disayang selama 6 tahun. Kalau Adik disayangnya baru selama 4 tahun.” dan si gadis kecil pun tersenyum lebaaar, sementara si pria kecil tetap cuek, gak peduli, anteng dengan mainannya hahaha…..

Begitulah pria, begitulah wanita. Bahkan sedari kecil pun mereka sudah berbeda. Konon katanya pria dari Mars dan wanita dari Venus 😀 . Wanita butuh perhatian, kesetiaan, dan ketegasan, pria butuh kepercayaan, penerimaan, dan penghargaan. Wanita perlu jaminan, pria perlu dorongan.

 Tapii… pria atau wanita tetap saja mereka makhluk yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban atas hidupnya. Pria atau wanita sama-sama punya kewajiban untuk taat pada perintah agamanya dan menjauhi larangan-Nya. Jadi kewajibanku sebagai orang tua tetap sama saja, mau punya anak laki-laki atau perempuan, ya kewajiban kami adalah mendidiknya.

 “Apa beda pola pengasuhan anak laki-laki dan perempuan Mbak?” pertanyaan Kiky Amel dalam GA perdana dalam rangka ultah pertama blogku di blogspot.

 Pada intinya sama. Anak laki-laki maupun perempuan kami didik dan siapkan untuk menjadi manusia yang patuh pada perintah Alloh dan menjauhi semua larangan-Nya. Dengan mematuhi perintah Alloh maka mereka akan berusaha menjadi manusia yang banyak memberi manfaat pada manusia lainnya, dan taat beribadah untuk mempersiapkan kehidupan akheratnya. Berusaha menjadi manusia yang banyak memberi manfaat itu berarti banyak hal, ya jujur, pinter, terampil, sehat, luwes bergaul, kaya, dermawan dll dsb. Anak laki-laki harus pinter, anak perempuan pun harus pinter. Anak perempuan harus luwes bergaul, anak laki-laki pun harus luwes bergaul.

 Anak laki-laki maupun perempuan di hari Minggu sama-sama mendapat tugas nyuci, nyuci piring, nyapu, ngepel dan membantu memasak. Sama-sama diajari mengendarai motor dan nyetir, dan sama-sama harus bisa dititipi menjaga adik-adiknya kala aku mandi, sholat, atau melakukan kesibukan lainnya. Tapi untuk tugas-tugas ‘berat’ yang perlu tenaga ekstra, tentu saja Youri yang ditugaskan, dan Neysa hanya membantu saja. Di sini kepada mereka dijelaskan bahwa laki-laki memang diciptakan dengan fisik yang lebih kuat dari perempuan. Tulangnya lebih kuat, ototnya lebih besar, kulitnya lebih kasar, jadi wajar saja kalau tugas angkat-angkat beban berat adalah tugas laki-laki. Membawakan belanjaan mama, misalnya, itu tugas Youri, bukan Neysa.

GambarWanita pun harus kuat, pemberani, dan tangguh.

 Cara mendidiknya pun mungkin sedikit berbeda. Neysa lebih suka ditanya dan diperhatikan, sementara Youri lebih suka kalau diberi kepercayaan. Waktu kami tinggal selama 40 hari untuk beribadah haji, nilai-nilai ulangan Neysa merosot, sementara nilai Youri malah maju pesat. Rupanya Youri selama ini merasa ‘terganggu’ oleh mamanya yang cerewet dan sering mengingatkannya untuk belajar ini. Tanpa ada mamanya yang cerewet, nilai-nilai ulangan Youri malah bagus. Dari situ aku belajar lebih mengerem diri kepada Youri, gak perlu disuruh berulang-ulang untuk ini itu, cukup beri kepercayaan, dan ingatkan sesekali.

GambarAnak perempuan mana boleh berenang tanpa baju gini kan?

Dalam obrolan ringan sering kami tekankan bahwa laki-laki dan perempuan itu memang fitrahnya berbeda. Batas aurat yang wajib ditutup berbeda. Aturan agama pun sudah jelas menyebutkan bahwa laki-laki gak boleh menyerupai wanita, wanita gak boleh menyerupai laki-laki.

Kepada dua anakku yang masih balita, terutama Javas, baru kuajarkan bahwa Papa, Aa, Javas dan adik Jindra itu laki-laki, dan Mama serta Kakak adalah perempuan. Kubahas tentang baju laki-laki, dan baju perempuan. Kami tunjukkan juga ada toilet untuk laki-laki, ada toilet untuk perempuan (di tempat umum).

Membedakan mainan anak laki-laki dan perempuan? Kayanya gak perlu. Sedari kecil minat laki-laki dan perempuan memang sudah terlihat berbeda. Kalau anak perempuan suka boneka beserta aneka baju dan pernak perniknya, anak laki-laki tanpa diarahkan pun lebih suka bola, mobil-mobilan, pesawat, kereta, robot, dan all about boys lainnya.

GambarBoys thing.

Anak perempuan lebih cepat ‘dewasa’? Yup, betul. Sedangkan boys will be boys. Jadi ya maklumi saja ya Buuu kalo suaminya masih hobi main PS, main futsal, atau koleksi mobil-mobilan…  hihi… Yang penting siapkan anak laki-laki kita untuk menjadi suami dan menjadi ayah pada suatu saat nanti. Sipakan anak perempuan kita untuk menjadi istri dan menjadi ibu suatu saat kelak. Banyak orang tua yang lupa akan hal ini. Mereka hanya sibuk menyiapkan anak-anaknya untuk menjadi dokter, arsitek, insinyur, penyanyi, desainer, dll dsb. Dan akibatnya kata Bu Elly Risman adalah banyaknya suami/istri yang tidak siap menjadi suami/istri, banyak orang tua yang tidak siap menjadi orang tua.

Nah, bagaimana cara menyiapkan anak-anak kita untuk menjadi orang tua bagi anak-anaknya kelak? Mari kita terus belajar…  *trus ditimpukin pembaca. Ih beneraaan… aku juga gak tauu… yang jelas, teruslah belajar menjadi orang tua, belajar ilmu parenting. Sadari peran kita sebagai orang tua, penuhi hak anak-anak kita, dan jangan lupa berdoa.