Myself

Masterchef Tempe Goreng

pic20140216210542[1]

Duh susahnya untuk konsisten nulis. Bahkan udah sok-sokan bikin GA dan janji mau nulis 5 hari sekali tetep aja gak bisa. Baru dua kali postingan dan udah melanggar aja. Postingan pertama tanggal 5 Feb, kedua tanggal 10 Feb, yang ketiga harusnya tanggal 15 Feb dong yaa… ini udah tanggal berapa???

Tadinya mo bikin tulisan yang kupersembahkan untuk anak perempuanku, karena tanggal 15 Februari itu bertepatan dengan ultahnya, eh tapi gak sempet aja. Dan lagi pula untuk ultahnya kali ini dia rekues minta dibikinin kue. Baiklaah… gak dibikinin jurnal khusus, dibikinin kue saja. Kebetulan beberapa hari yang lalu Mbak Titi posting resep choco devil cake yang tampak mudah, jadi berani deh. Nah membuat tampilan si choco devil pantas dikasih judul โ€œKue Ultahโ€ ini yang bikin grogi. Untung dulu pernah beberapa kali nungguin kakak iparku yang jago masak itu bikin black forest, jadi ya masih inget-inget dikit deh. Yang gampang tapi hasilnya cantik menurutku adalah, siram cokelat aja tuh si cake cokelat.. beres.

Jumat malem setelah Duo J tidur, mulailah aku beraksi. Dan ternyata urusan memake-up kue ini gak semudah yang kulihat atau kubayangkan. Huhuhu…. Gak bisa rapi. Si butter cream ini kan lembek gitu ya, susah deh dibentuknya. Jadi ya agak belepotan gitu deeh…. Tapii… walau harus telat tidur sampai jam setengah dua, sebagai pemula (banget) dalam masak memasak, apalagi bikin kue ultah, aku PUAS.

Masih belepotan tapi lumayanlah sebagai pemula.
Masih belepotan tapi lumayanlah sebagai pemula.

Jadii…. Cerita tentang masak memasak aja yuk. ย Melanjutkan GA perdana dalam rangka ultah pertama blogku di blogspot ada yang memberi masukan untuk menulis tentang kesukaanku memasak dan serunya memasak bersama anak-anak, yaitu Nur Ari Milawati.

Aku gak ingat sejak kapan aku belajar memasak, yang pasti sejak SD aku sudah biasa disuruh ibuku ke warung membeli aneka bahan masakan atau bumbu dapur sehingga sejak itu pula aku sudah bisa membedakan mana ketumbar mana merica, mana jahe mana kencur, mana daun bawang mana seledri. Dan tentu saja aku juga diwajibkan membantu ibuku memasak di dapur. Mengupas bawang, memotong sayuran, memarut kelapa (tugas yang paling kubenci), dan mengulek bumbu. Dan lama kelamaan aku pun mulai bisa memasak sendiri. Masakan rumahan yang simpel-simpel saja. Telur dadar, nasi goreng, tempe goreng, dan sayur sop.

Keren kan masih SD udah bisa masak? <-mulai sombong ๐Ÿ˜€ย  Biasa aja kaliii…. Cuma goreng tempe mah anak TK juga bisa. Eits… jangan salah. Ibu-ibu pun banyak loh yang gak belum bisa bikin tempe goreng. Di warung langgananku sering kok kulihat ibu-ibu beli tempe sepaket dengan bumbu tempe goreng instan. Bukan tepungnya ya, bumbu celup. Padahal kan gampil bingit… ๐Ÿ˜‰ Ah bukan gak bisa kali, males bikin bumbunya. Masa sih… Cuma ngulek bawang putih sama garem doang males. Gak usah sok-sok menghakimi deh.. siapa tau dia gak bisa bikin tempe goreng tapi jago bikin rendang atau gule. Gak juga tuh kayanya, soalnya dia juga beli bumbu sop instan, bumbu sayur asem, bumbu nasi goreng dll. Ish… kok jadi ngurusin orang lain, kebiasaan deh!

Nah, prihatin (halah gayane ๐Ÿ˜€ย  pakai bumbu instan itu gak sehat kaaan) melihat tidak sedikitnya ibu-ibu rumah tangga yang gak bisa (gak mau?) memasak bahkan masakan rumah sederhana pun, dan berdasarkan pengalaman pribadi yang dibiasakan masuk dapur sejak kecil, maka aku pun membiasakan anak-anak (terutama Neysa) memasak. Ya samalah dengan cara ibuku dulu, dimulai dengan kupas-kupas bawang dan potong-potong sayur. Dan pelajaran berlanjut dengan ย bagaimana menumis bumbu, kapan memasukkan sayuran, dan pentingnya mencicipi masakan yang kita masak.

es3Sedangkan kegiatan memasak bersama biasanya dilakukan saat membuat kue-kuean. Youri sukanya menimbang bahan-bahan dan menguleni adonan, Javas suka memarut keju, mengocok telur (dadar)ย  atau menaburi adonan, dan Neysa bagian mengeksekusi. Jindra? Ikut mama mengawasi para kakak bekerja hahaha….

Acara memasak bersama ini bisa menjadi acara pengisi liburan yang menyenangkan loh, kecuali kalau Teteh yang beberes gak datang, acara memasak bersama bisa diakhiri dengan omelan mama yang pusing melihat betapa berantakan dapurnyaย  ๐Ÿ˜€

Ujian kesabaran juga loh mengajari (membiasakan) anak-anak memasak ini. Selain sudah pasti dapur ย makin berantakan, kadang kesabaran diuji oleh terlihatย  asal-asalannya mereka memasak. Kadang gemes loh lihat gerakan kaku ‘cekithingan’ (iki bahasa Indonesiane opo?) Neysa mengulek bumbu, atau bagaimana asal-asalannya mereka mencuci sayuran, atau anehnya cara mereka memotong sayuran. Kalau mau menuruti ego sih aku lebih suka memasak sendiri daripada memasak rame-rame. Tapi kapan lagi anakku belajar memasak kalau bukan saat libur akhir pekan?

Kenapa harus dari sekarang? Kenapa tidak? Biar gak kaku laah… Terutama untuk masakan rumah sehari-hari. Masa tiap hari masak sambil pegang buku resep atau hape (ini aku tiap hari Sabtu hihi..).ย  Pernah baca di mana ya lupa, bedanya cooking sama baking. Kalau โ€˜bakingโ€™ itu katanya mau yang masak ahli atau pemula ย asal kita nimbang bahan dengan tepat dan ikuti detil resep step-by step maka rasa masakannya bisa mirip atau bahkan sama, sedangkan โ€˜cookingโ€™ resep yang sama di tangan yang berbeda akan menghasilkan rasa yang berbeda. Numis bawang kurang mateng aja bisa bikin kacau rasa oseng kangkung kita kan? Itu contohnya.

Contoh lainnya adalah kemampuan memasakku ini ย yang itu-itu saja karena kurangnya pengalaman (padahal practice makes perfect kan?). Seputar masakan jawa (tepatnya Magelang) dan Sunda saja. Sop, sayur lodeh, ayam goreng, balado, pepes, bacem, urap, dan tempe goreng (hihi… favorit :)). Bikin gule, rendang, dan aneka masakan Padang gak bisa. Masakan Jepang, masakan Eropa, angkat tangan. Ya karena gak biasa. Kalaupun mau, harus sambil nyontek resep, itu pun hasilnya mungkin akan diketawain orang Padang atau orang Jepang. ๐Ÿ˜€

Pertanyaan Nur Ari Milawati berikutnya adalah bagaimana hasil masakan anak-anak? Sejauh ini baru Neysa yang sudah bisa dilepas untuk memasak sendiri . Youri baru sebatas bikin telur ceplok dan rebus mie instan. Neysa sudah bisa bikin Nasi goreng, sayur sop, mie goreng, dan cap cay. Memasak mengikuti resep sederhana pun sudah bisa, bahkan dia sudah pede menjual risoles hasil masakannya sendiri.

Salah satu hasil karya Neysa
Salah satu hasil karya Neysa

Sore hari sepulang sekolah bersama 2 orang temannya di asrama, Neysa bikin risoles, kemudian disimpan di freezer untuk digoreng keesokan paginya, dan dibawa ke sekolah untuk dijual. Satu buah risoles isi sosis, telur, dan mayones itu dijual tiga ribu rupiah. Untung berapa Kak? Gak tau Kakak gak pernah itung, katanya. Hihihi namanya juga anak-anak…

Risoles
Risoles

Last but not least…. urusan masak-memasak adalah juga urusan minat dan hoby. Sama-sama diwajibkan masuk dapur sejak kecil, adikku sampai sekarang gak suka masak. Sedangkan aku, memasak bisa menjadi ajang refreshing dan me time, terutama saat mencoba resep-resep baru. Puas dan bahagia rasanya ketika melihat kue mengembang sempurna, sebahagia melihat suami dan anak-anak lahap menyantap masakanku.

Namanya minat dan hoby gak bisa dipaksakan loh yaa…. kalau memang gak suka memasak ya gak perlu dipaksakan, toh banyak tersedia jasa catering dan warung makan. Serahkan saja pada ahlinya. ๐Ÿ™‚ Tapiii gak ada salahnya loh belajar memasak, terutama bagi Anda wanita yang sudah berkeluarga. Karena saat anak-anak tumbuh dewasa dan tidak lagi tinggal di rumah kita, salah satu hal yang dirindukan dari rumah adalah masakan ibunya, walau pun hanya tempe goreng. Percayalah. ๐Ÿ™‚

Advertisements

34 thoughts on “Masterchef Tempe Goreng”

  1. Tooos… debut memasakku juga dimulai dari mengupas bawang dan memotong sayur, trus nggareti tempe sebelum digoreng.
    klo kue ultah pertamaku parah mbaak, cuma brownies amanda ori yang disiram coklat dan ditulisin met ultah. hahaha
    oh iya…tolong ya.. itu alinea terakhir plis plis plis… aku pura pura nggak baca deeh

    1. hihi berarti sama ama prinsipku mbaak… yg penting disiram cokelat, jadi nampak rapi dan cantik kan,,, trus siap dihias atau dikasih tulisan.
      alinea terakhir itu pecut untuk diriku sendiri mbak, ketika rasa malas datang melanda. masak cuma seminggu sekali aja kok masih pake males *jewer diri sendiri

  2. ara udah bisa masak juga lho mba.. goreng ikan, nasi goreng..tapi masak-masakan ๐Ÿ˜†

    yg namanya anak wedhok ya mba, emang kudu dibiasain bantu2 di dapur sejak kecil. aku pun, kalo mau bikin apa gitu, ara selalu aku aja, meskipun ujung2nya bisa ditebak..bikin rempong dan rumah jadi berantakan pake banget! lha wong dia juga ikut main potong2an sayur beneran trus dipake jualan x_x

    itu ‘cekithingan’ bahasa ibuku bangeeet…hehehe..dulu pas kecil juga sering dibilangin, “kalo pegang piso jangan cekithingan” hehehe… btw, dirimu asli mana toh mba? ๐Ÿ˜€

    1. Hihi ternyata samaa… mungkin ibumu juga gemes liat anaknya megang peso cekithingan… haha… terlihat aneh dan kaya gak dari hati gitu deeh.. padahal sih ya karena blm biasa. Blm luwes. Btw apa ya bahasa indonesianya? ๐Ÿ˜€
      Aku dari magelang Eda…..

  3. mbaaaak, itu mamakku banget, satu hal yang dia sesalin kan aku gak bisa masak karena ya menurut dia salahnya, aku gak dibiasain ke dapur dari dulu, cuma disuruh nyuci piring doang kalo di dapur. Dan memasak ini langkah amat besar buatku karena, sungguh aku nggak bisa dan malasss banget sama dapur. Sampe temenku yg di SMA atau kuliah aja kalo ketemu aku skarang suka bilang kisah dapurku termasuk success story secara mereka tauuu banget gimana malesnya aku sama masakan. Bahkan prinsipku dulu mendingan cari duit buat bayar yang bisa masak ahahaha. Awalnya juga cetek sih alasanku mau masak, dipuji sama suami dan anak, padahal ya masakanny sungguh alakadarnya. SUkur juga suami dan anak-anakku benchmarknya nggak tinggi, kalau dari awal banyak ngeluh kayaknya aku jga males buat belajar deh. Dan keberadaan blog orang yang suka bikin resep simple is soooo helpful, errr di rumah aku punya dua binder warna ijo yang kutaro di dapur, dan aku masih masak pake manual gitu loh. Masih gak kepikiran modif sana sini ihiy. Tantanganku sekarang ‘ngajarin’ si asisten masak yang so simple selama aku di jkarta karena Ephraim tetep gak mau katering. Btw tadinya aku udah nyerah soal kue ultah permitaan EPhraim, tapi aku nyoba lagi deh. KAlau di hari H gagal juga, at least I tried my best, toh ke Harvest tinggal lewat ahahahaha

    1. Ketika udah masuk dapur ternyata seru kaaan? ๐Ÿ™‚
      Jangan menyerah ndang proyek kue ultahnya ๐Ÿ˜€ jangan dipindah2 ih, takut patah lagi hihi.. tengkurepin aja langsung di atas piring sajinya, trus hias. Aku gak bikin loh butter creamnya, beli jadi di KM. Cuma kuwarnai doang. Kebayang kalo bikin sendiri butter cream, sampe subuh kali baru selesai…
      Jangan menyerah.. jangan menyeraah… *nyanyi

      1. nggak seru seru amat juga sih mbaaaaak ahahaahah. As you said, kalau aku belum jadi hobby, eneran karena buat krucils dan suami deh, makanya kalau Edi sering mintol bikinin kue aku masih mau meski agak males. Dia kan ngandelin kalimat “makanan istriku sehat ihik rasa tak dijamin*
        Kalau ada arisan atau ngumpul di rumah, aku paling bikin kue sama salad doang, kalau buat orang lain mah pesen ajaaaaaa terserah pake micin juga gapapa, orang lain ini *mulai culas ahahaha*

      2. Hahaha…. aku pun kalo ada acara ya pesen aja.. bukan krn culas dong aku kan baik hati :p tapi karena gak sanggup deh kalo hrs masakin orang lain… lha wong masak buat suami dan anak2 aja kayanya udah mengerahkan segala tenaga tersisa haha… dan gak pede juga ndang. Masakanku enak itu kan kata suami dan anak2ku.. kata org lain belum tentu. Nah drpd sakit hati udah capek2 masak dan ternyata dibilang gak enak ya sudah serahkan saja pd ahlinya ๐Ÿ˜€

  4. terus aku jadi inget kalimatmu: yg diingat anak itu masakan ibunya, bukan baju yg disetrika dgn rapi—-> pundung ๐Ÿ˜†
    jaman kecil dulu, ibuku nggak pernah ngajarin aku ngapa2in, mbak. Soalnya… beliau udah ngajarin 5 kakak perempuanku segala macam pekerjaan rumah, sebagai cewek bontot, kerjaanku cuma hore-hore di rumah. hahaha.
    Tempe tahu telor itu juga selalu jadi makanan favoritku, loh. Dan iyes, masaknya bukan pake bumbu instan, doonggg! *bangga* ๐Ÿ˜†

    1. hahaha…. tapi bener kan? ada gitu yg bilang, pengin mudik ah, kangen baju rapi hasil setrikaan ibuku. Gak ada kaan… hahaha…. *diketik dg gembira oleh org yg paling malas nyetrika ๐Ÿ˜€ *
      eh tahu favoritku jugaa… apalagi tahu di bandung ini kan udah enak2 tinggal goreng aja ya, gak perlu bumbu apa2, cocok deh, wajib ada di kulkas selain telur.

  5. Mbak, anak2mu kok hebat bgt si…. :O
    kak Neysa bisa jualan resoles segala.*kagum*

    Anak2ku pernah tak ajakin ngoprek dapur sih..tp cuma ngiris pisang sama marut keju (bikin pisang goreng keju) brati emang mesti dibiasain yaa. baiklaaahhh….

    1. Hihi jangan dibandingin dong.. anakku udah mau SMA anakmu msh balita ๐Ÿ™‚
      Waktu msh balita juga anak2ku bantuin masak dg cara ngacak2 dapur kok hahaha… udah mending Kayla/kyara? mau motong2 pisang sm marut keju.
      Eh tapi kayanya semua todler itu emang seneng marut keju yaa… Javas pun paling suka tuh marut keju..

  6. Yiayyy.. Toss kita mba :D.. Aku kelas 3 sd sudah bisa masak nasi sendiri dong.. Eitsss.. Gak pake ricecooker tentunya.. Masih manual pake wajan dan kukusan.. Dan sampe SMA sebelum sekolah tugasnya masak nasi, masak air dan cuci priring..haha ๐Ÿ˜€ Sejak SD juga sudah bisa masak nasi goreng, goreng ikan cakalang yang suka ngajak berantem krna nyipratnya aduhai..huhuhu.. Bikin sous alias balado mah gampil.. Dan yess.. dari kecil tuh paling males disuruh ngupas bawang sama ngulek.. Puji Tuhan skrg ada blender.. Eh tapi memang enakan yg ulek sih ;p Omelan mama? Tentu saja menyertai selama proses berlangsung..muahahaha ๐Ÿ˜€

    Hebat deh kakak Neysa, dah bisa nyari duit dari hasil kreasi sendiri ๐Ÿ™‚

    1. Hahaha aku kok jadi seneng ternyata ada temen.. mama2 yg ngomelin anaknya padahal udah dibantuin masak.. ish salah kok seneng ya.. bukaaan… maksudku ternyata aku gak sendiri ๐Ÿ˜€
      Bener deh uji kesabaran… apalagi masak bersama balita, berantakan semuaaa hahaha.. tapi ya sudahlah drpd marah2 kukembalikan ke niat mulia semula, membiasakan anak2 memasak.

  7. Kue ultah perdana buatanku juga kaya bule Mbak, bulepotan ๐Ÿ˜› . Ga OK2 banget sih, tapi setidaknya bisa bilang pernah bikin kue ultah buat anak lah kalo ditanya malaikat nanti (ih kepo banget malaikatnya yak ๐Ÿ˜› )

    Diriku bisa masak ya setelah ibu ga ada ART di rumah. Dan makin terasah kemampuannya (cieee …) ketika sudah nikah dan berbuntut. Pak suami sih g pernah nuntut, cuma kalau dia udah bilang “Bun, tadi aku makan ini, enak loh”, harga diriku rasanya langsung tercabik. Hahaha … kompetitip.
    So far g pernah bilang g enak sih beliau nya. Soalnya emang buat pak suami, makanan itu yg ada cuma enak sama enak banget. Jadi kalo dia bilang “enak banget bun” trus nambah, berarti emang enak. Puaaaasssss bener deh rasanya berpeluh2 di dapur
    Jadi panjang komennya. Maafkeun ๐Ÿ™‚

    1. hahaha gak papa kompetitip kan jadi memacu untuk terus belajar ๐Ÿ˜€
      standar masakanku juga rendah kok, apalagi kalo nyobain resep2 kue baru. yang penting bisa dimakan, nah itu berarti gak gagal… haha…

  8. Hahaha.. Bagian “masak sambil liat catatan & hape” itu nyindir aku y, mb??? :))

    Aku ni kan sekalinya pengen nyoba resep (walaupun cuma sop senerek aja) maunya perfect, persis sama sama resep aslinya. Soalnya gak ahli dan gak percaya diri mau modif2 kreatif. Tapi jadinya suka kesel sendiri klo ternyata bahan dan bumbunya gak lengkap tersedia. Padahal kan gak terlalu ngaruh juga misal sop gak ada seledrinya ya.. :))

    Btw, cantik lho itu kue ultahnya.

    1. Lihat hape ato print2an resep hahaha… google chef banget ya kita ๐Ÿ˜€
      Tapi kalo masak yg bukan kue2an sih klo aku cuma kubaca sekilas aja, asal udah pernah nyobain insyaalloh bisa lah niru. Nah kalo perbakingan itu yg bentar2 nyontek haha… nimbang2 nyontek, step by stepnya nyontek, cuma cara makannya aja yg gak pake nyontek haha….

  9. Urusan masak mah aku masih kudu banyak berguru sama mbak Tituk… aku masih abal-abal walau kadang udah kepedean nyuguhin tamu pake masakanku
    Tapi bagian memberdayakan anak-anak, masih di bagian iris bawang ma nakar-nakar doang mbak

    1. Harus sering latihan buun…
      Klo ragu2 bikin cake, coba aja bikin puding.. kaya puding ultahnya jindra ituu.. kan skrg udah punya mikser. Ayoo cobain puding busa…. dan berkreasilah sesukamu ๐Ÿ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s