Parenting

Ayoo Sekolah…

GambarJavas pernah sekolah PAUD, tapi cuma 2 bulan 😀

Kira-kira sebulan yang lalu, Javas mengalami ‘kemajuan’ yaitu mau sekolah TK. Jadi bersama dua orang temannya di daycare Javas sekolah di TK ABC (bukan nama sebenarnya 🙂) yang jaraknya tidak jauh dari daycare. Beberapa kali mencoba, Javas suka dan bersemangat sekali sekolah di TK itu, tapi sayang TK tersebut gak membuka pendaftaran di pertengahan tahun seperti sekarang ini. Kalau mau sekolah di situ ya nanti di tahun ajaran baru.

Memanfaatkan momen semangat sekolahnya Javas, kepala daycare mengantar Javas dkk mencoba sekolah lain yaitu di TK XYZ yang jaraknya pun dekat dari daycare. Javas pun suka sekolah di situ. Tiap pagi dia bersemangat sekali memakai kaus kaki, sepatu, dan menggendong ransel bekalnya. TK XYZ ini mau menerima murid di pertengahan tahun, jadi kudaftarkan Javas sekolah di situ dengan biaya pendaftaran Rp 50.000.  Keesokan harinya kepala daycare SMS memberitahuku bahwa TK XYZ memintaku membayar dulu uang seragam dan uang pangkal sebelum Javas mulai sekolah. Okey, dan aku minta rincian pembayaran, yang kata kepala daycare sudah diselipkan di buku Laporan Harian Javas.

Dari total Rp 2,8 juta yang harus kubayar, terdapat rincian uang pangkal, uang kegiatan, dan seragam. Karena mulai sekolah di pertengahan tahun ajaran, tentu saja aku minta diskon dong… (mana ada sih emak-emak gak nawar? Bahkan bayar sekolah pun ditawar hihi….) dan jawaban dari sekolah adalah TIDAK ADA PENGURANGAN. What? Uang pangkal dan seragam okelah… tapi uang kegiatan? Kan Javas gak ikut kegiatan semester kemarin.. bahkan semester ini pun sudah berjalan dan Javas baru daftar.

Lima bulan lagi sudah mulai tahun ajaran baru, dan nanti bayar uang tahunan lagi? Oh tidak. Akhirnya kuputuskan untuk menunda sekolah Javas sampai tahun ajaran baru, dan ternyata dua orang teman Javas pun sama, gak jadi sekolah. Gemes rasanya. Gemes karena gak berhasil nawar? Iyaa hihi… tapi lebih gemes kepada kok segitu ‘matre’nya sekolah itu… okelah uang pangkal, seragam, spp kita gak minta diskon, tapi uang kegiatan? Misalnya piknik di semester kemarin yang tentu saja gak Javas ikutin, masa harus ikut bayar? Gak rela kan yaa….

Jadi ingat beberapa tahun yang lalu, saat Youri lulus dari TK A dan mau masuk ke TK B. Selain mendapat buku laporan hasil belajar dan klipping hasil karya, Youri juga mendapat sebuah kaos kelas dan frame foto/jam meja dengan foto-foto Youri selama sekolah. Tentu saja aku tanya ke guru, harus bayar berapa untuk kaos dan jam tersebut, karena aku merasa belum bayar uang kaos dan sadar diri jarang datang ke sekolah jadi sering terlewat atau telat dapat info. Dan ternyataa… GRATIS! Ibu guru menjelaskan bahwa di akhir tahun ajaran tersebut terdapat sisa uang kegiatan yang sudah dibayarkan, jadi DIKEMBALIKAN kepada anak-anak, dan sudah disepakati bahwa akan dikembalikan dalam bentuk kaos. Wow… aku sampai speechless… betapa amanahnya pengelola TK ini.

Kembali ke Javas. Jadii… akan didaftarkan di TK mana Javas nanti? Belum tau, tapi yang jelas bukan TK XYZ dooong 😀

Nah… sudah masuk bulan Februari gini, sudah mulai banyak loh sekolah yang membuka pendaftaran dan melakukan seleksi penerimaan siswa baru. Pusing ya, sekolah ini katanya bagus, yang itu juga bagus, yang anu keren, yang ono ngetop dll dsb. Belum lagi dipusingkan masalah biayanya <- curcoooll….. 😀

Trus pilih yang mana dong? Ya pilih yang sesuai kebutuhan laah… Kebutuhan tiap anak berbeda. Kebutuhan masing-masing orang tua pun berbeda. Tujuan tiap orang tua menyekolahkan anaknya pun berbeda. Jadi pilihan sekolah akan sangat personal sifatnya.

Seorang tetangga nampak heran ketika kukasih tau Neysa melanjutkan SMP di sekolah swasta. “Gak sayang Bu? Bukannya nilai Neysa bagus? Bunga saja yang nilainya cuma sekian sekian bisa kok masuk SMPN anu.”

“Wah, pakai jalur prestasi ya Bu?” tanyaku polos, soalnya setahuku untuk masuk SMP itu nilai minimalnya di atas nilai Bunga yang disebut ibunya tadi. Kalau gak ada prestasi seni atau olah raga atau apa pun yang menonjol rasanya gak mungkin Bunga bisa masuk SMP anu.

“Ah jalur belakang lah Bu.. yang penting bisa masuk dulu.”

Wow…. aku terpana.. kok bisa ya, ibu itu mempercayakan anaknya untuk dididik oleh sebuah sekolah yang jelas-jelas tidak jujur itu? Bahkan menghalalkan segala cara agar bisa diterima di sekolah itu.

Tetangga yang lain bercerita bahwa dia mau mendaftarkan anaknya sekolah di SD favorit, dan dengan judesnya petugas dari sekolah bilang bahwa sekolah sudah gak nerima pendaftar baru lagi, sudah penuh. Sakit hati karena merasa ditolak karena mungkin dianggap gak mampu (ibu ini datang ke sekolah dengan penampilan kumel sepulang dari pasar) seminggu kemudian si tetangga ini datang lagi ke sekolah dengan diantar suaminya, pakai mobil baru dan diparkir di depan kantor sekolah. And guess what? Si tetangga dilayani dengan ramah (oleh petugas yang sama) dan disodori formulir pendaftaran. Dan dengan bangganya dia bercerita bahwa anaknya sekarang sekolah di SD tersebut.

Wah… aku terpana lagi. Lembaga seperti itukah yang dia pilih untuk mendidik anaknya? Yang memandang orang dari penampilan dan ‘kekayaan’?

Seorang teman di kantor bercerita, menjelang UN anaknya dan beberapa teman sekelasnya ada yang sudah mendapatkan bocoran jawaban. Dari mana? Ya dari sekolah. Tujuannya apa lagi kalau bukan mendongkrak prestise sekolah.

Merinding membayangkan apa jadinya anak-anak yang dididik oleh para pendidik yang tidak pantas disebut pendidik itu. Nilai-nilai apa yang akan dianutnya ketika mereka dewasa kelak, ketika mendapat amanah jabatan misalnya? Akankah menjadi seorang pejabat yang jujur, adil dan profesional?

GambarSeperti apa sekolah yang kami pilih untuk anak-anak kami? Tiap keluarga pasti punya kriteria berbeda, tapi yang jelas kami gak mau menyekolahkan anak-anak kami ke sekolah yang ‘matre’, sekolah yang mau menerima murid dari ‘jalur belakang’, dan atau sekolah yang mengijinkan (mengajari!) murid-muridnya berbuat curang.

Setiap orang tua tentu punya pilihan berbeda untuk menyekolahkan anaknya, dengan alasan yang berbeda-beda pula.

Ada orang tua teman Neysa waktu kelas 2 SD dulu yang cepat-cepat memindahkan anaknya sekolah di SD lain gara-gara SD ini gak serius belajar, gak pernah ada PR. Sekolah macam apa ini, katanya. Padahal bagiku justru sekolah tanpa PR adalah sebuah kelebihan.

Ada orang tua yang tidak mau memasukkan anaknya ke sekolah berbasis agama, sementara ada juga orang tua lain yang mengharuskan anak-anaknya sekolah di sekolah berbasis agama.

Ada orang tua yang tidak percaya menitipkan anaknya pada sekolah negeri, ada juga orang tua yang mati-matian berusaha agar anaknya masuk sekolah negeri.

Sangat personal sifatnya, jadi rasanya gak perlu diperdebatkan, cukup untuk didiskusikan 🙂

Inilah kriteria tambahan seperti apa sekolah yang kami (aku dan suamiku) pilih untuk anak-anak kami.

  1. Sekolah full day (untuk TK dan SD). Ini menjawab kebutuhan kami sebagai orang tua yang sama-sama bekerja. Dari pada anak-anak menghabiskan waktu di rumah bersama pembantu, nonton TV atau main game tanpa terawasi, kami lebih merasa nyaman kalau anak-anak kami berada di sekolah sampai sore. Tentu saja kami pilih sekolah full day yang tidak membebani anak, yang metode belajarnya sambil bermain, dan yang tidak ada PR.
  2. Sekolah berbasis agama (untuk SD dan SMP). Sadar diri gak punya banyak waktu khusus untuk mengajari anak-anak sholat dan mengaji, kami memilih sekolah Islam untuk mendidik anak-anak kami. Takut anak-anak jadi intoleran karena gak biasa dengan keberagaman? Ah tidak. Di lingkungan rumah mereka biasa bergaul dengan beragam teman. Di TV, di film-film yang mereka tonton, di buku cerita yang mereka baca, mereka tahu ada perbedaan-perbedaan, tidak semua manusia itu menganut kepercayaan yang sama. Kenapa gak panggil guru ngaji aja ke rumah? Karena mengajarkan agama bagi kami bukanlah sekedar mengajari baca Al Qur’an dan hafalan doa-doa sholat saja. Agama hendaknya menjadi pedoman baginya dalam kehidupan sehari-hari. Akhlak yang terpuji, perilaku jujur, bersikap adil, santun, menjaga pergaulan, kuharapkan mereka dapatkan juga dari pembiasaan-pembiasaan di sekolah.
  3. Tidak mahal, alias terjangkau oleh dompet kami. Ya iyyalaah… kalau gak terjangkau mau bayar pakai apa? 😀 Tapi jangan ‘tertipu’ loh yaa… ada beberapa sekolah yang terlihat murah di pendaftaran awal dan SPP tapi ternyata di tengah-tengah berlangsungnya pembelajaran masih banyak ini itu yang harus dibayar atau dibeli. Ikut ekskul, bayar lagi. Ada lomba, bayar. Belum lagi buku atau sarana penunjang lain yang harus dibeli. Alhamdulillah saat Neysa & Youri SD kami gak pernah repot bayar-bayar apa pun selain SPP dan uang makan, sementara seorang teman mengeluhkan sekolah anaknya yang dikit-dikit memungut bayaran. Ekskul, kunjungan keluar, berenang, field trip, camping, dll semua sudah tercakup dalam uang kegiatan yang dibayar di awal tahun, dan gak mahal loh bayarnya….
  4. Persetujuan anak yang akan sekolah (untuk SMP dan SMA). Jangan sampai anak merasa terpaksa sekolah di sekolah pilihan orang tuanya.
  5. Akreditasi sekolah, prestasi akademik, fasilitas sekolah, tersedianya konselor (psikolog, dokter), banyaknya pilihan ekskul, dan lingkungan pergaulan anak menjadi bahan pertimbangan juga. Apalagi kalau anak boleh mengikuti lebih dari 1 ekskul. (Ini sih pengiritan biar gak usah ikutan les-les (musik, olah raga, animasi dll) lagi di luar hehe… kalaupun ada biaya tambahan kan biasanya lebih murah dibanding kalau les di luar.)

GambarTerus, apa peran Pak Sutisna dalam memilih sekolah buat anak-anak? Ini pertanyaan Sondang dalam GA perdana dalam rangka ultah pertama blogku di blogspot.

 Selain sebagai sesama penanggung jawab dan tentu saja menjadi parter diskusi, suamiku bertugas sebagai ‘detektif’ yang melakukan survey ke sekolah-sekolah yang akan kami pilih. Menyekolahkan anak bukan hanya menitipkan anak untuk dididik oleh sekolah, tapi anak akan ‘dididik’ juga oleh lingkungan pergaulannya. Anak-anak yang seperti apa dan anak siapa yang kelak akan menjadi teman-teman anakku harus kami ketahui garis besarnya. Suamiku nongkrong berjam-jam di kantin sekolah, di area bermain, atau bahkan di WC sekolah untuk ‘menyelidiki’ hal itu. Apa yang anak-anak itu obrolkan, bahasa apa yang dipakai (kasar atau gak), dan sopan santun mereka wajib diamati. Bahkan perilaku guru sampai tukang parkir pun kami amati.

Jadi, tentukan dulu Tujuan Lo Apa (pinjem bahasanya Ligwina Hananto 🙂), kumpulkan informasi sebanyak-banyaknya (website, brosur, testimoni), sesuaikan dengan dompet kita, dan yang terakhir datangi sekolahnya, rasakan atmosfernya. Percayalah, gak semua sekolah yang orang-orang bilang bagus atau keren, akan cocok dengan anak kita.

Advertisements

33 thoughts on “Ayoo Sekolah…”

  1. ini yg bikin aku rempoooong tahun kemarin mba.. waktu ara masuk TK, apalgi umurnya blm 4 taun. daftar sana sini, ditolak karena umurnya ga nyampe 4 taun. padahal si anak udah ngebet banget mau cekulaah… akhirnya, sekolahnya ga jauh2. sekolah di TK tempatku sekolah dulu…hahaha…

    1. Napak tilas dong.. haha…
      Javas juga nanggung ni umurnya.. klo thn ini masuk TK A kayanya ‘ketuaan’ tapi klo msk TK B nanti masuk SDnya blm 6 tahun..

  2. Iya emak-emak banget, tapi emang rugilah Mbak kalo kita mesti bayar padahal semester kemaren belum masuk.
    Met sekolah ya Javas, moga dapet TK yang sesuai 🙂
    Anak sulungku insya Allah tahun ini masuk SD, Mbak. Udah nemu sih sekolah yang cocok, tapi masukin anaknya pake istilah “nitipin formulir” yang berarti harus “ngamplop.” Suami pun langsung bilang jangan. Hunting lagi deh 😀
    Kriterianya 11-12 sama kriteriaku, apa lagi kemaren pas Nadya TK, kami kecolongan di poin no.3. Lumayan ngos-ngosan juga ternyata uang ina-inunya ada mulu tiap bulan –“

  3. Mbaaaaak pas banget seminggu ini kami bolak balik empat skul yang kira kira jadi SD Ephraim. Dan bener, setiap orang tua punya pendapat masing-masing yang tentu saja disesuaikan dengan kondisi anak dan keluarga kita, jadi kalau mau nanya-nanya untuk pengalaman is oke tapi kalau mau banding bandingin sama orang lain ya jelas rugi, lah kebutuhan dan keadaan tiap orang beda. Bahkan untuk cari sekolah yang ideal dengan keinginan kita mungkin juga nggak bisa memuaskan seluruhnya, tapi setidaknya kita nggak berkompromi untuk hal-hal yang kita anggap penting. Hihihi iya itu Edi juga yang suka mingle tukang parkir, satpam dan tempat sekitar. Kalo aku disuruh mingle ke ortu murid lain, tanya ini itu ahahaha. Pokoke mending capek jadi detektip di awal biar tau semuanya daripada nggak sreg di tengah-tengah dan jadi kaget harus gimana mengantisipasinya

    1. Bahkan kalo nanya2 ke orang kadang2 apa yg menjadi nilai minus bagi dia bisa jadi nilai plus bagi kita… tapi ya teteeeup harus survey2 nanya2 testimoni walo kesimpulannya kita tentukan sendiri sesuai kebutuhan 🙂

  4. Aku pun sedang pikir2 soal sekolah ini ni. Rencana awalnya sih pertengahan taun ini, tunggu Keenan umur minimal 2,5 th lah baru masukin PAUD. Biar setidaknya dia udah bisa gak ngantuk di jam 8-9 pagi. Tapi mulai bulan lalu, diajakin tetangga buat main2 di PAUD deket rumah. Udah perjanjian sama utinya, gpp Keenan dibawa aja ke sana, tapi gak usah dipaksa harus tiap hari. Semau anaknya aja. Bulan lalu sih masih datang paling seminggu sekali, itu juga cuma 1 jam an dah minta pulang, atau gak mau masuk. Nah, surprisingly, 2 hari ini (iya, baru 2 hari.. lebay yak.. haha..) Keenan mau masuk sendiri, duduk dan ngikutin yg diajarin gurunya. Bahkan mau ikut maju nulis (nyoret, lebih tepatnya. :D), menyodorkan diri untuk diperiksa kuku, dan pertama kali maju menunjukkan hasil karyanya. Trus pas jam main juga dah mau main sama temen2nya. Utinya gak dicari. Haha.. Masalahnya, aku agak kurang cocok sama temen2nya itu. Anak2 sekecil itu, tapi omongannya kasar (menurutku). Tapi klo ngliat Keenan sepertinya sudah menikmati kegiatan sekolah (-sekolahan) kayak gitu, artinya kami harus mulai survey2 cari PAUD yg beneran kan. Sejauh ini, kriterianya sama sama mb tituk di atas, full day, berbasis agama, lingkungan yg baik, dan sesuai kantong. Hahaha..

    1. Seneng ya klo bisa nungguin anak2 sekolah.. terutama di hari2 awalnya, pasti kita heboh ngintip2 hehe…
      Eh kalau di rumah ditemenin uti, ngapain nyari sekolah full day? Bukannya lebih enak di rumah sama uti? Untuk usia pra TK yaa….

  5. wah mbak tituk pinda di mari ya….
    btw, masalah sekolah ini emang warna warni banget ya, rasanya liat emak2 yang pada pusing mau nyekolahin anaknya dimana jadi ikutanpening juga…. mudah2an sekolah tempat tugasku nanti termasuk sekolah yang berkarakter baik. g masuk kedalam 3 kategori gak bangetnya mbak tituk…..

  6. Belum punya anak, tapi nambah wawasan bgt soal milih sekolah. Jadi nanti kalo ada yg lagi ngobrol soal ini bisa py kasih masukkan dari psotingan mba Tituk ini 😀

    1. Sekolah yg deket2 daycare ada gak? Klo aku ya pilihannya sekolah fullday.. klo ada sih yg sekalian daycare. Jangan deh ditinggal di rumah kalo gak ada yg nemenin… kecuali dia udah SMP.

  7. baru sempet baca di sela-sela jam online (yes, im a call center agent :D)

    toss, dulu ah sm mbak tituk, sesuai kebutuhan dan tujuan masing2 keluarga.
    nanti nyuri2 waktu baca postiongan yg lainnya. ada yg sudah dulu, tp sebatas jd silent reader, ga tinggalin komen (takut SKSD).

  8. Aku jatuh cinta pada blog-mu Mbak. Baru baca postingan pertama ini dan langsung ternganga. Ih pokoknya, tulisan2 selanjutnya selalu dinanti ya. *scroll kebawah, baca sampai khatam sambil kedip manis ke pak bos*

    1. mencengangkan ya kenyataan dunia pendidikan kita… dan menyedihkan.
      aku juga dulu gak nyangka loh ternyata sekolah2 jaman sekarang tuh ‘begitu’. tapi kalau denger testimoni dari pelaku atau yg mengalami, ya masa gak percaya? 🙂

  9. Aku juga TK dan SD masih dipilihin, kalau smp-sma kompromi antara nilai-duit dan jarak /wkt tempuh mbaaak…
    Sejauh ini sih aku puas dengan pilihan (dan konsekwensinya).
    Klo yg TK-SD udah gak mikirin ini itu lg sepanjang taun. Klo yg smp -wong sekolah gratis- ya makluum aja kalau musti beli/bayar ini itu.
    Sepanjang ada surat dr sekolah dan ada keterangan/rincian biayanya, dan masuk akal (sesuai dompet maksudnya haha) ya hayu aja. Jalan-jalan atau apalah itu namanya yang sifatnya pilihan, kami putuskan sesuai sikon.

  10. mbakkkk, kenapa jurnal yang ini tak muncul di reader WPku, ya. Ternyata banyak euy, postingan2 blogger lain yang kelewat juga, kenapa iniiii…. Huhuhuhu…
    Aku nyari sekolah A3 beneran koboy banget, mbak. Pokoknya yg deket daycare! Hahaha.. *ditabok bu elly* Untuk Aura-Amartha, sampe sekarang belum kepikir cari PG atau TK di tempat lain, jadi sekolah di TK yg ada di daycare situ aja. Andro kita masukkin ke Alcent juga krn dia (semi) full day—> pulang jam setengah 3, dan itungannya masih deket dari daycare (jl palasari) jadi masih bisa berangkat bareng kita, pulang dijemput OB, dianter ke daycare buat ngaji sore. So far formula ini udah yg paling pas buat keluarga kami, jadi… nggak mempertimbangkan lagi hal2 lain.. hahaha…

    1. Aku pun dulu nyekolahin neysa youri di TK LH dg alasan kepraktisan saja, full day dan searah dg ruteku ke kantor hehe.. tapi ternyata mereka membuatku jatuh cinta dg cara belajar dan nilai2 yg ditanamkannya. Ya sudah.. SDnya gak mikir panjang, ke LH lagi 🙂

  11. Setuju.. salah satu alasan kenapa anak-anak di SDnya kudu berbasis agama ya karena kami sebagai orang tua masih cetek banget urusan agama, jadi perlu ada pihak ketiga… dan jelas kudu seiya sekata antara orang tua dan guru

    1. Iya Ka, karena tugas mendidik anak adalah tugas orang tua bukan tugas sekolah maka mencarikan pendidik yang tepat adalah salah satu kewajiban kita. Memilihkan org yg tepat dan lebih mampu mengajarkan ilmu kepada anak kita bukan berarti lepas tanggung jawab kan yaa.. tetep hrs bekerja sama.

  12. Hmmhh…sekolah jaman sekarang ya beda ama jaman dulu. Kayaknya kalo dulu, tk sd asal yg bs jalan kaki aja dr rumah, beres. Skrg bener2 pake banyak pertimbangannya, pengen yg begini, begitu.

    Aku juga males tuh ama sekolah yg ada jalur belakangnya. Awalnya aja udah ga bener gt, gmn ngajarnya.

    Salam kenal ya, mbak, udah nyerocos aja nih aku hihihi…

    1. Salam kenal juga vera. Makasih yaa udah mampir 🙂
      Sama banget nii… aku jaman sekolah TK SD dulu juga gak pake pertimbangan apa2.. yg penting deket rumah, udah. Dan emang gak banyak pilihan krn tinggal di kampung kan gak banyak sekolah yg jaraknya deket. Sekarang ini karena banyak pilihan malah bingung hehe.. di komplekku aja TK ada belasan… dalam 1 komplek perumahan! Bebas milih mau yg kaya gimana.. tp ya itu tadi, malah jd pusing 😀

    1. Mbak aja… agak aneh klo dipanggil teh soalnya bukan orang sunda hehe…
      Anak2ku PAUDnya di deket rumah aja.. klo TKnya di TKIT Luqmanul Hakim. SDnya juga. Ntar deh kapan2 direview… 🙂

  13. Selamat Datang di Website OM AGUS
    Izinkan kami membantu anda
    semua dengan Angka ritual Kami..
    Kami dengan bantuan Supranatural
    Bisa menghasilkan Angka Ritual Yang Sangat
    Mengagumkan…Bisa Menerawang
    Angka Yang Bakal Keluar Untuk Toto Singapore
    Maupun Hongkong…Kami bekerja tiada henti
    Untuk Bisa menembus Angka yang bakal Keluar..
    dengan Jaminan 100% gol / Tembus…!!!!,hb=085-399-278-797
    Tapi Ingat Kami Hanya Memberikan Angka Ritual
    Kami Hanya Kepada Anda Yang Benar-benar
    dengan sangat Membutuhkan
    Angka Ritual Kami .. Kunci Kami Anda Harus
    OPTIMIS Angka Bakal Tembus…Hanya
    dengan Sebuah Optimis Anda bisa Menang…!!!
    Apakah anda Termasuk dalam Kategori Ini
    1. Di Lilit Hutang
    2. Selalu kalah Dalam Bermain Togel
    3. Barang berharga Anda udah Habis Buat Judi Togel
    4. Anda Udah ke mana-mana tapi tidak menghasilkan Solusi yang

    Jangan Anda Putus Asa…Anda udah
    berada Di blog yang sangat Tepat..
    Kami akan membantu anda semua dengan
    Angka Ritual Kami..Anda
    Cukup Mengganti Biaya Ritual Angka Nya
    Saja… Jika anda Membutuhkan Angka Ghoib
    Hasil Ritual Dari=OM AGUS, 2D,3D,4D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s