Uncategorized

Mau Hadiah? “I’m In!”

I’m participating in the Pay-it-Forward initiative. The first 5 people who comment on this status with “I’m in” will receive a surprise from me at some point in this calendar year – anything from a sweet dessert, a lovely CD, a ticket, a book or just absolutely any surprise I see fit! There will be no warning and it will happen when I find something that I believe would suit you and make you happy! These 5 people must make the same offer in their status (FB or Path or Twitter, etc.) and distribute their own joy. Simply copy this text onto your profile, (don’t share) so we can form a web of connection and kindness.

Let’s do more nice and loving things for each other in 2014, without any reason other than to make each other smile and show that we think of each other. Here’s to a more enjoyable, more friendly and love-filled year!

Pertama baca “I’m in” ini dari blognya Danikurniawan, tapi gak ikutan krn udah telat… dan akhirnya ikutan (dan ini copas dari) Baginda Ratu. (Padahal tanpa ikutan I’m in pun aku udah seriiing banget dapet kiriman dari jeng Fitri ini..)

Yuk yuuk… berbagi kebahagiaan sederhana.

Aku mau bagi2 apa ya? Kayanya sih gak jauh dari urusan dapur 😀 atau apa ya? Ya nanti disesuaikan sm penerimanya deeh… kira2 dia suka apa.

Yang mau (dan punya alamat di Indonesia 🙂 ) silahkan komen di bawah, dan berbagilah sedikit kebahagiaan dengan mengcopas dan share tulisan di atas…

Myself

Sepasang Sandal Jepit

Camera 360
sok-sokan bikin foto ala prewedding mumpung lagi ‘bulan madu’, tapi malah geli cekikikan sendiri.. gak romantis blas 😀

“Mbak, coba bikin postingan soal menjaga romantisme dengan Pak Sutisna, yah. Kalian udah nikah lama, dan kuliat hubungan kalian hangaaatt sekali. Bagi tipsnya, yaaa…” ini kata Fitri sang Baginda Ratu dalam GA perdana dalam rangka ultah pertama blogku di blogspot. Gak tau deh ini ngetes atau nanya beneran 😀 Gak salah nih Fit? Setauku pasangan romantis itu kalian deeh… Siapa yang pas anniversarian dapet kiriman rangkaian bunga segeda gaban (yang pasti bikin iri cewek-cewek seruanganmu)? Siapa yang saling komen dengan kata-kata mesra di fesbuk? Siapa yang sering foto-foto mesra berdua? Kalian deeh… Kebalik kan? Harusnya aku yang nanya apa kiat-kiatnya kok malah aku yang ditanya…

Kalau romantisme biasanya dilambangkan dengan bunga, merpati, atau gambar hati love-love, mungkin romantisme kami ini cukup digambarkan dengan sandal jepit. Ya tapi jangan sandal jepit Swallow lah yaa… sandal jepit Fitflop dong ah biar kerenan dikit hahaha….

Kenapa sandal jepit?

Karena aku tanpamu bagaikan sandal jepit hilang sebelah.. tidak bisa berfungsi sempurna, tidak berarti apa-apa. (Cieeeeh….. udah romantis belom kalo kaya gini?) 😀

Haduh beneran deh bingung kalau harus nulis romantis-romantisan…

Sekitar tahun 2000-an awal, aku bersahabat dengan dua orang teman di kantor, sebut saja namanya Eva dan Susi. Kami bertiga ini seumuran, seangkatan di sekolah, dan sama-sama berada di tahun-tahun awal pernikahan dan memiliki 1 anak balita. Jadi ya gampang nyambung kan ya.. Suatu hari, ketika ngobrol berdua dengan Eva, Eva memberitahuku bahwa Susi sering curhat padanya, katanya Susi ini iri denganku. Hah, iri? Iri kenapa? Katanya Susi ini iri melihat keakrabanku (keakraban katanya… bukan kemesraan 🙂 ) dan suamiku. Kata Susi ke Eva, “Mereka itu setiaaap hari telpon-telponan, dan ngobrolnya lama. Padahal kan tiap hari juga mereka ketemu Va.. Tapi adaa aja yang diobrolin, kaya ke temen gitu. Aku pengin kaya gitu Va, tapi kok gak bisa ya. Sungkan sama suami, jadi ya ngobrolnya yang penting-penting aja.”

Aku bengong… Hiks… Padahal aku ngobrol di jalan via telepon itu karena di rumah rasanya gak sempet ngobrol sama suami, sibuk ngurusin anak (yang baru satu!) dan ini itu. Eh iya, Susi ini rumahnya searah dengan rumahku, jadi tiap hari berangkat dan pulang bareng semobil, dan tentu saja mendengar obrolan-obrolan gak pentingku dengan suami.

Dari cerita Eva itu aku mengambil pelajaran penting, bahwa komunikasi yang lancar dan rasa nyaman bersama pasangan itu adalah hal berharga yang harus dijaga. Gak semua pasangan memilikinya atau mau mengusahakannya. Pelajaran berumah tangga yang kuperoleh di tahun 2000-an itu kuterapkan terus sampai sekarang. Berkomunikasi layaknya teman (tapi mesra 😉 ), jujur dan terbuka gak pakai jaim-jaiman, ngomongin apa saja, hal penting maupun gak penting, hal membanggakan maupun memalukan, membahagiakan maupun menyedihkan dll dsb.

Ya abis kalo gak diomongin sama suami, hal-hal yang gak boleh diobrolin sama orang lain mo diomongin sama siapa? Kan sebagai perempuan hasrat ngomongin segala hal ini harus disalurkan toh? Ngomongin hal membanggakan (dan dengan nada bangga) ke orang lain ntar dikira pamer dooong..  Trus ngomongin si ini begini si itu begitu ke orang lain ya gak boleh dong ntar jadinya ghibah. (Eh kalo ngobrolnya ke suami doang tetep disebut ghibah gak sih? Kan diobrolin maksudnya untuk diambil pelajaran.. *ngeles).  Jadi, ya suami lah sasarannya hahaha… (Bersabarlah para suami mendengarkan ocehan istri yang gak ada habis-habisnya yaa…)

Gambar
Untuk orang yg kalem dan pendiam, foto selfie dan kalimat seperti ini pasti gak bisa diupload ke media sosial, hanya bisa dikirim ke istrinya kan? hahaha… ampun Paaa…. fotonya diupload di blog yaaa….

Tentang rasa nyaman bersama pasangan, di acara pengajian di kantor yang diisi oleh Teh Mimin Aminah dari Lembaga Pelatihan & Konsultasi Keluarga Cahaya Islam dijelaskan bahwa apabila seseorang merasa tidak nyaman dengan pasangannya maka dia berada dalam posisi rawan selingkuh. Dan 86% perceraian yang ditangani lembaganya, disebabkan karena perselingkuhan. Huaaa… amit-amit…

Nah salah satu contoh gak nyaman bersama pasangan yang disampaikan oleh Teh Mimin adalah ketika seseorang lebih asyik dengan gadgetnya daripada ngobrol dengan pasangannya. Wak waaw…. Dan contoh lainnya adalah orang yang lebih suka menghabiskan weekend bersama teman-temannya dari pada bersama keluarganya. Mancing, touring, menikmati hiburan sendirian, dll dsb sengaja menghindari kebersamaan dengan pasangan yang akhirnya komunikasi dengan pasangan semakin jarang, bersama pasangan semakin tidak nyaman.

Apa tujuan menikah? Pengin bahagia kan? Salah satu ciri rumah tangga yang bahagia adalah adanya rasa aman, tentram, dan nyaman saat bersama pasangan. Seperti yang dijelaskan dalam QS Ar Rum 21 yang sering dikutip di undangan-undangan nikah itu… agar kamu merasa tentram, dan Dia menjadikan diantaramu rasa kasih dan sayang. Merasa kurang bila tidak bersama pasangan dan merasa sempurna bila bersama pasangan, ibarat sandal yang harus selalu sepasang. (hihi ternyata mengibaratkan diri sebagai sandal nyontek dari Teh Mimin…)

Aku suka perumpamaan sandal ini karena menurutku pasangan itu gak harus sama minatnya, sama hobinya, sama sifatnya, yang penting sama tujuannya. Pasangan itu bukan kanan dan kanan kan, melainkan kanan dan kiri. Perbedaan kultur, cara berfikir, hobi, dll tidak menjadi masalah berarti, malah membuat kami saling melengkapi. Suamiku lahir dan dibesarkan dengan kultur Sunda di kota besar Jakarta, sedangkan aku lahir dan tumbuh di sebuah desa di kota kecil dengan kultur Jawa. Logika dan cara berfikir suamiku cenderung ‘anak IPS’, logika dan cara berpikirku ‘anak IPA’. Suamiku pendiam, aku agak pendiam. 😀 Suamiku gak romantis, aku eh kok curcol hahaha…

Ya, gak ada rangkaian bunga di hari jadi pernikahan kami, gak ada kejutan (kado maksudnya haha…) dan seremoni di hari ulang tahunku (pernah sih… tapi jarang <- curcol lagii), gak ada surat cinta dengan rangkaian kata-kata indah di inboxku, tapi selalu ada telinga yang mendengar keluhku, ada sabar yang menampung ruwetku, ada keikhlasan dan tenaga bantuan untuk ururan domestik, dan ada doa yang aku yakin dipintakan untukku.

Mengutip perkataan Om Squ:

“Gak semua suami romantis bak di film drama, gak semua suami ngerti semua yang dimaui istri kala istrinya cuma diam tapi pengin suami ngerti (kecuali suaminya seorang dukun). Para suami itu tau, care, dan memperhatikan hal-hal kecil yang dilakukan istrinya untuk keluarga, tapi mungkin gak terucap. Gak semua suami bisa menulis merangkai kata. Gak semua suami bisa spontan bertutur indah, merangkai kalimat untuk menyatakan cintanya. Mungkin kikuk, tak biasa. Mungkin hanya dipendamnya dalam hati, lalu diganti doa untuk istrinya, dalam sujud malamnya…”

Eh tapi sesekali romantis juga deng….. ini beberapa contohnya yang sempet dicapture.

Gambar
status BBMnya yang bikin ‘uhuk uhuk’
Gambar
jadi, aku yang gak romantis ya?

Dan ini yang terbaru, notification facebookku kemarin pagi.

Gambar

Sudah sudaaah…. kok malah pamer kemesraan. (Pamer tanda tak biasa 😀 )Tipsnya mana? Ah tips mah cari di google aja yaaa…

Parenting

Karena Bu Risma

Beberapa minggu yang lalu sekolah anakku mengadakan seminar “Tantangan Mendidik Anak di Era Digital” dengan pembicara ibu Elly Risman, dan inilah isi materinya, yang membuatku gak sanggup menahan tangis ketika berlangsungnya acara…

Islam is Fun

Bismillahirrahmanirrahim..

Oke, sebetulnya kontributor sontoloyo ini belum ijin sama empunya blog buat ngisi. Cuman desakan lingkungan *caelah* udah sangat kuat. (1) teman sebaya yang ngojok-ngojokin buat nulis di laman ini lagi; (2) kasus di lapangan *emang mau nulis apaan sampe bawa kasus segala* yang udah menggila, ntar diceritain; (3) abis nonton Mata Najwa edisi Bu Risma sampe meleleh air mata, jadi pengen berjuang bareng semampu yang saya bisa; (4) kemaren kakak kelas ngeshare video dan kayaknya saya nemu benang baru (dari kasus yang ntar saya ceritain) dan penting buat saya tulis ulang supaya bisa saya runut benangnya biar ga kusut dikepala (kepentingan pribadi).

videonya ada disini :

Cukup sekian aja yang bikin saya bulet untuk nulis lagi disini. Dan sebenernya saya rada2 ragu tadi, mau nulis disini atau di blog pribadi, tapi karena nilai yang saya bawa bakal kental banget dengan prinsip hidup, saya pilih disini karena saya memposisikan diri…

View original post 4,588 more words

Myself

Masterchef Tempe Goreng

pic20140216210542[1]

Duh susahnya untuk konsisten nulis. Bahkan udah sok-sokan bikin GA dan janji mau nulis 5 hari sekali tetep aja gak bisa. Baru dua kali postingan dan udah melanggar aja. Postingan pertama tanggal 5 Feb, kedua tanggal 10 Feb, yang ketiga harusnya tanggal 15 Feb dong yaa… ini udah tanggal berapa???

Tadinya mo bikin tulisan yang kupersembahkan untuk anak perempuanku, karena tanggal 15 Februari itu bertepatan dengan ultahnya, eh tapi gak sempet aja. Dan lagi pula untuk ultahnya kali ini dia rekues minta dibikinin kue. Baiklaah… gak dibikinin jurnal khusus, dibikinin kue saja. Kebetulan beberapa hari yang lalu Mbak Titi posting resep choco devil cake yang tampak mudah, jadi berani deh. Nah membuat tampilan si choco devil pantas dikasih judul “Kue Ultah” ini yang bikin grogi. Untung dulu pernah beberapa kali nungguin kakak iparku yang jago masak itu bikin black forest, jadi ya masih inget-inget dikit deh. Yang gampang tapi hasilnya cantik menurutku adalah, siram cokelat aja tuh si cake cokelat.. beres.

Jumat malem setelah Duo J tidur, mulailah aku beraksi. Dan ternyata urusan memake-up kue ini gak semudah yang kulihat atau kubayangkan. Huhuhu…. Gak bisa rapi. Si butter cream ini kan lembek gitu ya, susah deh dibentuknya. Jadi ya agak belepotan gitu deeh…. Tapii… walau harus telat tidur sampai jam setengah dua, sebagai pemula (banget) dalam masak memasak, apalagi bikin kue ultah, aku PUAS.

Masih belepotan tapi lumayanlah sebagai pemula.
Masih belepotan tapi lumayanlah sebagai pemula.

Jadii…. Cerita tentang masak memasak aja yuk.  Melanjutkan GA perdana dalam rangka ultah pertama blogku di blogspot ada yang memberi masukan untuk menulis tentang kesukaanku memasak dan serunya memasak bersama anak-anak, yaitu Nur Ari Milawati.

Aku gak ingat sejak kapan aku belajar memasak, yang pasti sejak SD aku sudah biasa disuruh ibuku ke warung membeli aneka bahan masakan atau bumbu dapur sehingga sejak itu pula aku sudah bisa membedakan mana ketumbar mana merica, mana jahe mana kencur, mana daun bawang mana seledri. Dan tentu saja aku juga diwajibkan membantu ibuku memasak di dapur. Mengupas bawang, memotong sayuran, memarut kelapa (tugas yang paling kubenci), dan mengulek bumbu. Dan lama kelamaan aku pun mulai bisa memasak sendiri. Masakan rumahan yang simpel-simpel saja. Telur dadar, nasi goreng, tempe goreng, dan sayur sop.

Keren kan masih SD udah bisa masak? <-mulai sombong 😀  Biasa aja kaliii…. Cuma goreng tempe mah anak TK juga bisa. Eits… jangan salah. Ibu-ibu pun banyak loh yang gak belum bisa bikin tempe goreng. Di warung langgananku sering kok kulihat ibu-ibu beli tempe sepaket dengan bumbu tempe goreng instan. Bukan tepungnya ya, bumbu celup. Padahal kan gampil bingit… 😉 Ah bukan gak bisa kali, males bikin bumbunya. Masa sih… Cuma ngulek bawang putih sama garem doang males. Gak usah sok-sok menghakimi deh.. siapa tau dia gak bisa bikin tempe goreng tapi jago bikin rendang atau gule. Gak juga tuh kayanya, soalnya dia juga beli bumbu sop instan, bumbu sayur asem, bumbu nasi goreng dll. Ish… kok jadi ngurusin orang lain, kebiasaan deh!

Nah, prihatin (halah gayane 😀  pakai bumbu instan itu gak sehat kaaan) melihat tidak sedikitnya ibu-ibu rumah tangga yang gak bisa (gak mau?) memasak bahkan masakan rumah sederhana pun, dan berdasarkan pengalaman pribadi yang dibiasakan masuk dapur sejak kecil, maka aku pun membiasakan anak-anak (terutama Neysa) memasak. Ya samalah dengan cara ibuku dulu, dimulai dengan kupas-kupas bawang dan potong-potong sayur. Dan pelajaran berlanjut dengan  bagaimana menumis bumbu, kapan memasukkan sayuran, dan pentingnya mencicipi masakan yang kita masak.

es3Sedangkan kegiatan memasak bersama biasanya dilakukan saat membuat kue-kuean. Youri sukanya menimbang bahan-bahan dan menguleni adonan, Javas suka memarut keju, mengocok telur (dadar)  atau menaburi adonan, dan Neysa bagian mengeksekusi. Jindra? Ikut mama mengawasi para kakak bekerja hahaha….

Acara memasak bersama ini bisa menjadi acara pengisi liburan yang menyenangkan loh, kecuali kalau Teteh yang beberes gak datang, acara memasak bersama bisa diakhiri dengan omelan mama yang pusing melihat betapa berantakan dapurnya  😀

Ujian kesabaran juga loh mengajari (membiasakan) anak-anak memasak ini. Selain sudah pasti dapur  makin berantakan, kadang kesabaran diuji oleh terlihat  asal-asalannya mereka memasak. Kadang gemes loh lihat gerakan kaku ‘cekithingan’ (iki bahasa Indonesiane opo?) Neysa mengulek bumbu, atau bagaimana asal-asalannya mereka mencuci sayuran, atau anehnya cara mereka memotong sayuran. Kalau mau menuruti ego sih aku lebih suka memasak sendiri daripada memasak rame-rame. Tapi kapan lagi anakku belajar memasak kalau bukan saat libur akhir pekan?

Kenapa harus dari sekarang? Kenapa tidak? Biar gak kaku laah… Terutama untuk masakan rumah sehari-hari. Masa tiap hari masak sambil pegang buku resep atau hape (ini aku tiap hari Sabtu hihi..).  Pernah baca di mana ya lupa, bedanya cooking sama baking. Kalau ‘baking’ itu katanya mau yang masak ahli atau pemula  asal kita nimbang bahan dengan tepat dan ikuti detil resep step-by step maka rasa masakannya bisa mirip atau bahkan sama, sedangkan ‘cooking’ resep yang sama di tangan yang berbeda akan menghasilkan rasa yang berbeda. Numis bawang kurang mateng aja bisa bikin kacau rasa oseng kangkung kita kan? Itu contohnya.

Contoh lainnya adalah kemampuan memasakku ini  yang itu-itu saja karena kurangnya pengalaman (padahal practice makes perfect kan?). Seputar masakan jawa (tepatnya Magelang) dan Sunda saja. Sop, sayur lodeh, ayam goreng, balado, pepes, bacem, urap, dan tempe goreng (hihi… favorit :)). Bikin gule, rendang, dan aneka masakan Padang gak bisa. Masakan Jepang, masakan Eropa, angkat tangan. Ya karena gak biasa. Kalaupun mau, harus sambil nyontek resep, itu pun hasilnya mungkin akan diketawain orang Padang atau orang Jepang. 😀

Pertanyaan Nur Ari Milawati berikutnya adalah bagaimana hasil masakan anak-anak? Sejauh ini baru Neysa yang sudah bisa dilepas untuk memasak sendiri . Youri baru sebatas bikin telur ceplok dan rebus mie instan. Neysa sudah bisa bikin Nasi goreng, sayur sop, mie goreng, dan cap cay. Memasak mengikuti resep sederhana pun sudah bisa, bahkan dia sudah pede menjual risoles hasil masakannya sendiri.

Salah satu hasil karya Neysa
Salah satu hasil karya Neysa

Sore hari sepulang sekolah bersama 2 orang temannya di asrama, Neysa bikin risoles, kemudian disimpan di freezer untuk digoreng keesokan paginya, dan dibawa ke sekolah untuk dijual. Satu buah risoles isi sosis, telur, dan mayones itu dijual tiga ribu rupiah. Untung berapa Kak? Gak tau Kakak gak pernah itung, katanya. Hihihi namanya juga anak-anak…

Risoles
Risoles

Last but not least…. urusan masak-memasak adalah juga urusan minat dan hoby. Sama-sama diwajibkan masuk dapur sejak kecil, adikku sampai sekarang gak suka masak. Sedangkan aku, memasak bisa menjadi ajang refreshing dan me time, terutama saat mencoba resep-resep baru. Puas dan bahagia rasanya ketika melihat kue mengembang sempurna, sebahagia melihat suami dan anak-anak lahap menyantap masakanku.

Namanya minat dan hoby gak bisa dipaksakan loh yaa…. kalau memang gak suka memasak ya gak perlu dipaksakan, toh banyak tersedia jasa catering dan warung makan. Serahkan saja pada ahlinya. 🙂 Tapiii gak ada salahnya loh belajar memasak, terutama bagi Anda wanita yang sudah berkeluarga. Karena saat anak-anak tumbuh dewasa dan tidak lagi tinggal di rumah kita, salah satu hal yang dirindukan dari rumah adalah masakan ibunya, walau pun hanya tempe goreng. Percayalah. 🙂

Parenting

Ayoo Sekolah…

GambarJavas pernah sekolah PAUD, tapi cuma 2 bulan 😀

Kira-kira sebulan yang lalu, Javas mengalami ‘kemajuan’ yaitu mau sekolah TK. Jadi bersama dua orang temannya di daycare Javas sekolah di TK ABC (bukan nama sebenarnya 🙂) yang jaraknya tidak jauh dari daycare. Beberapa kali mencoba, Javas suka dan bersemangat sekali sekolah di TK itu, tapi sayang TK tersebut gak membuka pendaftaran di pertengahan tahun seperti sekarang ini. Kalau mau sekolah di situ ya nanti di tahun ajaran baru.

Memanfaatkan momen semangat sekolahnya Javas, kepala daycare mengantar Javas dkk mencoba sekolah lain yaitu di TK XYZ yang jaraknya pun dekat dari daycare. Javas pun suka sekolah di situ. Tiap pagi dia bersemangat sekali memakai kaus kaki, sepatu, dan menggendong ransel bekalnya. TK XYZ ini mau menerima murid di pertengahan tahun, jadi kudaftarkan Javas sekolah di situ dengan biaya pendaftaran Rp 50.000.  Keesokan harinya kepala daycare SMS memberitahuku bahwa TK XYZ memintaku membayar dulu uang seragam dan uang pangkal sebelum Javas mulai sekolah. Okey, dan aku minta rincian pembayaran, yang kata kepala daycare sudah diselipkan di buku Laporan Harian Javas.

Dari total Rp 2,8 juta yang harus kubayar, terdapat rincian uang pangkal, uang kegiatan, dan seragam. Karena mulai sekolah di pertengahan tahun ajaran, tentu saja aku minta diskon dong… (mana ada sih emak-emak gak nawar? Bahkan bayar sekolah pun ditawar hihi….) dan jawaban dari sekolah adalah TIDAK ADA PENGURANGAN. What? Uang pangkal dan seragam okelah… tapi uang kegiatan? Kan Javas gak ikut kegiatan semester kemarin.. bahkan semester ini pun sudah berjalan dan Javas baru daftar.

Lima bulan lagi sudah mulai tahun ajaran baru, dan nanti bayar uang tahunan lagi? Oh tidak. Akhirnya kuputuskan untuk menunda sekolah Javas sampai tahun ajaran baru, dan ternyata dua orang teman Javas pun sama, gak jadi sekolah. Gemes rasanya. Gemes karena gak berhasil nawar? Iyaa hihi… tapi lebih gemes kepada kok segitu ‘matre’nya sekolah itu… okelah uang pangkal, seragam, spp kita gak minta diskon, tapi uang kegiatan? Misalnya piknik di semester kemarin yang tentu saja gak Javas ikutin, masa harus ikut bayar? Gak rela kan yaa….

Jadi ingat beberapa tahun yang lalu, saat Youri lulus dari TK A dan mau masuk ke TK B. Selain mendapat buku laporan hasil belajar dan klipping hasil karya, Youri juga mendapat sebuah kaos kelas dan frame foto/jam meja dengan foto-foto Youri selama sekolah. Tentu saja aku tanya ke guru, harus bayar berapa untuk kaos dan jam tersebut, karena aku merasa belum bayar uang kaos dan sadar diri jarang datang ke sekolah jadi sering terlewat atau telat dapat info. Dan ternyataa… GRATIS! Ibu guru menjelaskan bahwa di akhir tahun ajaran tersebut terdapat sisa uang kegiatan yang sudah dibayarkan, jadi DIKEMBALIKAN kepada anak-anak, dan sudah disepakati bahwa akan dikembalikan dalam bentuk kaos. Wow… aku sampai speechless… betapa amanahnya pengelola TK ini.

Kembali ke Javas. Jadii… akan didaftarkan di TK mana Javas nanti? Belum tau, tapi yang jelas bukan TK XYZ dooong 😀

Nah… sudah masuk bulan Februari gini, sudah mulai banyak loh sekolah yang membuka pendaftaran dan melakukan seleksi penerimaan siswa baru. Pusing ya, sekolah ini katanya bagus, yang itu juga bagus, yang anu keren, yang ono ngetop dll dsb. Belum lagi dipusingkan masalah biayanya <- curcoooll….. 😀

Trus pilih yang mana dong? Ya pilih yang sesuai kebutuhan laah… Kebutuhan tiap anak berbeda. Kebutuhan masing-masing orang tua pun berbeda. Tujuan tiap orang tua menyekolahkan anaknya pun berbeda. Jadi pilihan sekolah akan sangat personal sifatnya.

Seorang tetangga nampak heran ketika kukasih tau Neysa melanjutkan SMP di sekolah swasta. “Gak sayang Bu? Bukannya nilai Neysa bagus? Bunga saja yang nilainya cuma sekian sekian bisa kok masuk SMPN anu.”

“Wah, pakai jalur prestasi ya Bu?” tanyaku polos, soalnya setahuku untuk masuk SMP itu nilai minimalnya di atas nilai Bunga yang disebut ibunya tadi. Kalau gak ada prestasi seni atau olah raga atau apa pun yang menonjol rasanya gak mungkin Bunga bisa masuk SMP anu.

“Ah jalur belakang lah Bu.. yang penting bisa masuk dulu.”

Wow…. aku terpana.. kok bisa ya, ibu itu mempercayakan anaknya untuk dididik oleh sebuah sekolah yang jelas-jelas tidak jujur itu? Bahkan menghalalkan segala cara agar bisa diterima di sekolah itu.

Tetangga yang lain bercerita bahwa dia mau mendaftarkan anaknya sekolah di SD favorit, dan dengan judesnya petugas dari sekolah bilang bahwa sekolah sudah gak nerima pendaftar baru lagi, sudah penuh. Sakit hati karena merasa ditolak karena mungkin dianggap gak mampu (ibu ini datang ke sekolah dengan penampilan kumel sepulang dari pasar) seminggu kemudian si tetangga ini datang lagi ke sekolah dengan diantar suaminya, pakai mobil baru dan diparkir di depan kantor sekolah. And guess what? Si tetangga dilayani dengan ramah (oleh petugas yang sama) dan disodori formulir pendaftaran. Dan dengan bangganya dia bercerita bahwa anaknya sekarang sekolah di SD tersebut.

Wah… aku terpana lagi. Lembaga seperti itukah yang dia pilih untuk mendidik anaknya? Yang memandang orang dari penampilan dan ‘kekayaan’?

Seorang teman di kantor bercerita, menjelang UN anaknya dan beberapa teman sekelasnya ada yang sudah mendapatkan bocoran jawaban. Dari mana? Ya dari sekolah. Tujuannya apa lagi kalau bukan mendongkrak prestise sekolah.

Merinding membayangkan apa jadinya anak-anak yang dididik oleh para pendidik yang tidak pantas disebut pendidik itu. Nilai-nilai apa yang akan dianutnya ketika mereka dewasa kelak, ketika mendapat amanah jabatan misalnya? Akankah menjadi seorang pejabat yang jujur, adil dan profesional?

GambarSeperti apa sekolah yang kami pilih untuk anak-anak kami? Tiap keluarga pasti punya kriteria berbeda, tapi yang jelas kami gak mau menyekolahkan anak-anak kami ke sekolah yang ‘matre’, sekolah yang mau menerima murid dari ‘jalur belakang’, dan atau sekolah yang mengijinkan (mengajari!) murid-muridnya berbuat curang.

Setiap orang tua tentu punya pilihan berbeda untuk menyekolahkan anaknya, dengan alasan yang berbeda-beda pula.

Ada orang tua teman Neysa waktu kelas 2 SD dulu yang cepat-cepat memindahkan anaknya sekolah di SD lain gara-gara SD ini gak serius belajar, gak pernah ada PR. Sekolah macam apa ini, katanya. Padahal bagiku justru sekolah tanpa PR adalah sebuah kelebihan.

Ada orang tua yang tidak mau memasukkan anaknya ke sekolah berbasis agama, sementara ada juga orang tua lain yang mengharuskan anak-anaknya sekolah di sekolah berbasis agama.

Ada orang tua yang tidak percaya menitipkan anaknya pada sekolah negeri, ada juga orang tua yang mati-matian berusaha agar anaknya masuk sekolah negeri.

Sangat personal sifatnya, jadi rasanya gak perlu diperdebatkan, cukup untuk didiskusikan 🙂

Inilah kriteria tambahan seperti apa sekolah yang kami (aku dan suamiku) pilih untuk anak-anak kami.

  1. Sekolah full day (untuk TK dan SD). Ini menjawab kebutuhan kami sebagai orang tua yang sama-sama bekerja. Dari pada anak-anak menghabiskan waktu di rumah bersama pembantu, nonton TV atau main game tanpa terawasi, kami lebih merasa nyaman kalau anak-anak kami berada di sekolah sampai sore. Tentu saja kami pilih sekolah full day yang tidak membebani anak, yang metode belajarnya sambil bermain, dan yang tidak ada PR.
  2. Sekolah berbasis agama (untuk SD dan SMP). Sadar diri gak punya banyak waktu khusus untuk mengajari anak-anak sholat dan mengaji, kami memilih sekolah Islam untuk mendidik anak-anak kami. Takut anak-anak jadi intoleran karena gak biasa dengan keberagaman? Ah tidak. Di lingkungan rumah mereka biasa bergaul dengan beragam teman. Di TV, di film-film yang mereka tonton, di buku cerita yang mereka baca, mereka tahu ada perbedaan-perbedaan, tidak semua manusia itu menganut kepercayaan yang sama. Kenapa gak panggil guru ngaji aja ke rumah? Karena mengajarkan agama bagi kami bukanlah sekedar mengajari baca Al Qur’an dan hafalan doa-doa sholat saja. Agama hendaknya menjadi pedoman baginya dalam kehidupan sehari-hari. Akhlak yang terpuji, perilaku jujur, bersikap adil, santun, menjaga pergaulan, kuharapkan mereka dapatkan juga dari pembiasaan-pembiasaan di sekolah.
  3. Tidak mahal, alias terjangkau oleh dompet kami. Ya iyyalaah… kalau gak terjangkau mau bayar pakai apa? 😀 Tapi jangan ‘tertipu’ loh yaa… ada beberapa sekolah yang terlihat murah di pendaftaran awal dan SPP tapi ternyata di tengah-tengah berlangsungnya pembelajaran masih banyak ini itu yang harus dibayar atau dibeli. Ikut ekskul, bayar lagi. Ada lomba, bayar. Belum lagi buku atau sarana penunjang lain yang harus dibeli. Alhamdulillah saat Neysa & Youri SD kami gak pernah repot bayar-bayar apa pun selain SPP dan uang makan, sementara seorang teman mengeluhkan sekolah anaknya yang dikit-dikit memungut bayaran. Ekskul, kunjungan keluar, berenang, field trip, camping, dll semua sudah tercakup dalam uang kegiatan yang dibayar di awal tahun, dan gak mahal loh bayarnya….
  4. Persetujuan anak yang akan sekolah (untuk SMP dan SMA). Jangan sampai anak merasa terpaksa sekolah di sekolah pilihan orang tuanya.
  5. Akreditasi sekolah, prestasi akademik, fasilitas sekolah, tersedianya konselor (psikolog, dokter), banyaknya pilihan ekskul, dan lingkungan pergaulan anak menjadi bahan pertimbangan juga. Apalagi kalau anak boleh mengikuti lebih dari 1 ekskul. (Ini sih pengiritan biar gak usah ikutan les-les (musik, olah raga, animasi dll) lagi di luar hehe… kalaupun ada biaya tambahan kan biasanya lebih murah dibanding kalau les di luar.)

GambarTerus, apa peran Pak Sutisna dalam memilih sekolah buat anak-anak? Ini pertanyaan Sondang dalam GA perdana dalam rangka ultah pertama blogku di blogspot.

 Selain sebagai sesama penanggung jawab dan tentu saja menjadi parter diskusi, suamiku bertugas sebagai ‘detektif’ yang melakukan survey ke sekolah-sekolah yang akan kami pilih. Menyekolahkan anak bukan hanya menitipkan anak untuk dididik oleh sekolah, tapi anak akan ‘dididik’ juga oleh lingkungan pergaulannya. Anak-anak yang seperti apa dan anak siapa yang kelak akan menjadi teman-teman anakku harus kami ketahui garis besarnya. Suamiku nongkrong berjam-jam di kantin sekolah, di area bermain, atau bahkan di WC sekolah untuk ‘menyelidiki’ hal itu. Apa yang anak-anak itu obrolkan, bahasa apa yang dipakai (kasar atau gak), dan sopan santun mereka wajib diamati. Bahkan perilaku guru sampai tukang parkir pun kami amati.

Jadi, tentukan dulu Tujuan Lo Apa (pinjem bahasanya Ligwina Hananto 🙂), kumpulkan informasi sebanyak-banyaknya (website, brosur, testimoni), sesuaikan dengan dompet kita, dan yang terakhir datangi sekolahnya, rasakan atmosfernya. Percayalah, gak semua sekolah yang orang-orang bilang bagus atau keren, akan cocok dengan anak kita.

Parenting

Mars dan Venus

Aku masih dalam rakaat terakhir sholat Isya ketika kegaduhan itu mencapai puncaknya. Javas nangis! Uugh, sungguh mengganggu konsentrasi shalatku yang memang gak khusyu’ ini. Kesselll deh, pengin marah banget rasanya. Gak kapok-kapok si Aa tiap hari diomelin dibilangin, teteeep aja godain adiknya. Tiap hari pasti aja Javas dibikinnya nangis. Dan semakin cengeng Javasnya, semakin seneng Youri godainnya. Grhh…

Awalnya mereka cuma bercanda seperti biasa. Terdengar gaduh dari kamar tempat sholatku ini, tapi gak ada tangisan. Entah bagaimana awalnya, yang jelas terdengar suara teriakan-teriakan histeris Javas yang lari-lari dikejar oleh Aa Youri yang tertawa-tawa (dan tentu saja ditambah ‘backing vocal’ suara teriakan Jindra yang berpartisipasi berteriak-teriak kegirangan tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi).

 “Gaaak….! Gak mauuu….!” suara Javas terdengar histeris sambil lari-lari.

 “Makanya ambilin… kalo gak mau nanti Aa sun loh.” ini suara Youri.

 Dan endingnya ya itu tadi, Javas nangis. Sepertinya dia berhasil kena sun Aa Youri.

Oalaaah…. disun aja kok nangisnya kaya diapain sih A Javas?

 Ya begitulah. Javas paling gak mau dan gak suka dicium oleh Aa Youri. Kalau dicium mamanya sih dia masih mau-mau saja. Youri pun dulu begitu. Di usia pra sekolah sudah mulai gak suka dicium. Beda banget sama Neysa. Neysa dulu sangat suka dicium, baik olehku maupun papanya. Bahkan sun sayang ini menjadi ritual wajib sebelum tidurnya. Sun kening, selimutin, dan ucapan “Selamat bobo Sayang,” atau “I love you,” atau “Mama sayang Kakak,” wajib hukumnya.

Neysa kecil pun sangat suka menggelayut manja, dipeluk dan dihujani kata-kata mesra. Neysa selalu ingin rasa sayang dan cinta kami padanya diucapkan. Butuh kepastian? Mungkin. Gak yakin bahwa kami orang tuanya ini mencintainya? Ah masa sih? Youri gak pernah tuh nanya-nanya apakah kami mencintainya atau gak. Anteng aja. Neysa? Seriing…. Dan walaupun sudah ratusan kali kami bilang kami mencintainya, tapi tetap saja dia bertanya dan ada binar-binar kebahagiaan di matanya setiap kali dia mendengar (lagi) kata-kata sayang dan cinta itu. Dan masih ditambah pula pertanyaan “Mama lebih sayang Kakak atau Adik (Youri maksudnya)?” yang kalau kujawab “Sama sayangnya” akan membuatnya cemberut. 😀 Biasanya kujawab “Mama sayang Kakak dan Adik sama besarnya, tapi Kakak disayangnya lebih lama, udah disayang selama 6 tahun. Kalau Adik disayangnya baru selama 4 tahun.” dan si gadis kecil pun tersenyum lebaaar, sementara si pria kecil tetap cuek, gak peduli, anteng dengan mainannya hahaha…..

Begitulah pria, begitulah wanita. Bahkan sedari kecil pun mereka sudah berbeda. Konon katanya pria dari Mars dan wanita dari Venus 😀 . Wanita butuh perhatian, kesetiaan, dan ketegasan, pria butuh kepercayaan, penerimaan, dan penghargaan. Wanita perlu jaminan, pria perlu dorongan.

 Tapii… pria atau wanita tetap saja mereka makhluk yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban atas hidupnya. Pria atau wanita sama-sama punya kewajiban untuk taat pada perintah agamanya dan menjauhi larangan-Nya. Jadi kewajibanku sebagai orang tua tetap sama saja, mau punya anak laki-laki atau perempuan, ya kewajiban kami adalah mendidiknya.

 “Apa beda pola pengasuhan anak laki-laki dan perempuan Mbak?” pertanyaan Kiky Amel dalam GA perdana dalam rangka ultah pertama blogku di blogspot.

 Pada intinya sama. Anak laki-laki maupun perempuan kami didik dan siapkan untuk menjadi manusia yang patuh pada perintah Alloh dan menjauhi semua larangan-Nya. Dengan mematuhi perintah Alloh maka mereka akan berusaha menjadi manusia yang banyak memberi manfaat pada manusia lainnya, dan taat beribadah untuk mempersiapkan kehidupan akheratnya. Berusaha menjadi manusia yang banyak memberi manfaat itu berarti banyak hal, ya jujur, pinter, terampil, sehat, luwes bergaul, kaya, dermawan dll dsb. Anak laki-laki harus pinter, anak perempuan pun harus pinter. Anak perempuan harus luwes bergaul, anak laki-laki pun harus luwes bergaul.

 Anak laki-laki maupun perempuan di hari Minggu sama-sama mendapat tugas nyuci, nyuci piring, nyapu, ngepel dan membantu memasak. Sama-sama diajari mengendarai motor dan nyetir, dan sama-sama harus bisa dititipi menjaga adik-adiknya kala aku mandi, sholat, atau melakukan kesibukan lainnya. Tapi untuk tugas-tugas ‘berat’ yang perlu tenaga ekstra, tentu saja Youri yang ditugaskan, dan Neysa hanya membantu saja. Di sini kepada mereka dijelaskan bahwa laki-laki memang diciptakan dengan fisik yang lebih kuat dari perempuan. Tulangnya lebih kuat, ototnya lebih besar, kulitnya lebih kasar, jadi wajar saja kalau tugas angkat-angkat beban berat adalah tugas laki-laki. Membawakan belanjaan mama, misalnya, itu tugas Youri, bukan Neysa.

GambarWanita pun harus kuat, pemberani, dan tangguh.

 Cara mendidiknya pun mungkin sedikit berbeda. Neysa lebih suka ditanya dan diperhatikan, sementara Youri lebih suka kalau diberi kepercayaan. Waktu kami tinggal selama 40 hari untuk beribadah haji, nilai-nilai ulangan Neysa merosot, sementara nilai Youri malah maju pesat. Rupanya Youri selama ini merasa ‘terganggu’ oleh mamanya yang cerewet dan sering mengingatkannya untuk belajar ini. Tanpa ada mamanya yang cerewet, nilai-nilai ulangan Youri malah bagus. Dari situ aku belajar lebih mengerem diri kepada Youri, gak perlu disuruh berulang-ulang untuk ini itu, cukup beri kepercayaan, dan ingatkan sesekali.

GambarAnak perempuan mana boleh berenang tanpa baju gini kan?

Dalam obrolan ringan sering kami tekankan bahwa laki-laki dan perempuan itu memang fitrahnya berbeda. Batas aurat yang wajib ditutup berbeda. Aturan agama pun sudah jelas menyebutkan bahwa laki-laki gak boleh menyerupai wanita, wanita gak boleh menyerupai laki-laki.

Kepada dua anakku yang masih balita, terutama Javas, baru kuajarkan bahwa Papa, Aa, Javas dan adik Jindra itu laki-laki, dan Mama serta Kakak adalah perempuan. Kubahas tentang baju laki-laki, dan baju perempuan. Kami tunjukkan juga ada toilet untuk laki-laki, ada toilet untuk perempuan (di tempat umum).

Membedakan mainan anak laki-laki dan perempuan? Kayanya gak perlu. Sedari kecil minat laki-laki dan perempuan memang sudah terlihat berbeda. Kalau anak perempuan suka boneka beserta aneka baju dan pernak perniknya, anak laki-laki tanpa diarahkan pun lebih suka bola, mobil-mobilan, pesawat, kereta, robot, dan all about boys lainnya.

GambarBoys thing.

Anak perempuan lebih cepat ‘dewasa’? Yup, betul. Sedangkan boys will be boys. Jadi ya maklumi saja ya Buuu kalo suaminya masih hobi main PS, main futsal, atau koleksi mobil-mobilan…  hihi… Yang penting siapkan anak laki-laki kita untuk menjadi suami dan menjadi ayah pada suatu saat nanti. Sipakan anak perempuan kita untuk menjadi istri dan menjadi ibu suatu saat kelak. Banyak orang tua yang lupa akan hal ini. Mereka hanya sibuk menyiapkan anak-anaknya untuk menjadi dokter, arsitek, insinyur, penyanyi, desainer, dll dsb. Dan akibatnya kata Bu Elly Risman adalah banyaknya suami/istri yang tidak siap menjadi suami/istri, banyak orang tua yang tidak siap menjadi orang tua.

Nah, bagaimana cara menyiapkan anak-anak kita untuk menjadi orang tua bagi anak-anaknya kelak? Mari kita terus belajar…  *trus ditimpukin pembaca. Ih beneraaan… aku juga gak tauu… yang jelas, teruslah belajar menjadi orang tua, belajar ilmu parenting. Sadari peran kita sebagai orang tua, penuhi hak anak-anak kita, dan jangan lupa berdoa.