Parenting

Pilah-Pilih Sekolah di Jakarta

deee96224d487c8f4335f3cdbf9300bdresNet7_5

Sudah hampir tahun ajaran baru  ya Moms? Hihi gak kerasa deh ya… Gimana, udah dapet sekolah baru untuk putra putrinya? Ternyata gak gampang ya nyari sekolah yang benar-benar cocok. Ada yang cocok kurikulumnya, eh gak cocok harganya. Ada yang cocok harganya, eh jaraknya jauh dari rumah. Ada yang deket rumah, eh gurunya jutek. Dan sebagainya lah ya… pasti banyak pertimbangan memilih sekolah yang cocok untuk anak kita.

Kata kuncinya adalah COCOK. Cocok untuk anak kita belum tentu cocok untuk anak tetangga. Bagus untuk kita belum tentu bagus untuk orang lain. Karena nilai-nilai masing-masing keluarga berbeda-beda. Tujuan orang tua menyekolahkan anaknya juga berbeda-beda.

Berikut ini beberapa nama Sekolah Dasar yang aku datangi tahun lalu ketika memilih sekolah untuk Javas. Kriteriaku memilih sekolah pernah kutulis di sini ya, barangkali ada yang cocok, kriteria kita hampir sama, mudah-mudahan info ini bermanfaat.

Kriteria pokoknya adalah Sekolah Dasar Islam, lokasi di seputaran Karet, Setiabudi, dan Kuningan Jakarta  Selatan. Info ini (terutama biaya sekolah) berlaku untuk tahun ajaran 2016/2017 ya. Sumber: Brosur Sekolah dan wawancara dengan pihak sekolah.

  1. Azhari Islamic School
azhari.JPG
foto dari web azhari school

Azhari Islamic School adalah cabang Al Azhar Cairo Mesir di Indonesia, berdasarkan penandatanganan kerjasama Yayasan Waqaf Cakrawala Insan Azhari dengan Al Azhar Cairo pada tanggal 12 Januari 2004. Misi sekolah ini adalah membimbing dan mengajar siswa untuk memiliki keimanan yang kuat, berwawasan luas, berakhlak mulia, terampil, kreatif, berpikiran bebas dan berkarya.

Kurikulum:

  1. Al Azhar Cairo Mesir: Bahasa Arab, Islamic, Tahfidz Qur’an
  2. Diknas
  3. Buku dari Singapore: Math, English, Science

Target Lulusan:

  1. Dapat menerapkan nilai-nilai Islam yang bersifat universal dalam kehidupan.
  2. Tahfidz Al Qur’an 18 Juz untuk SD.
  3. Mampu berbahasa Inggris dan Arab dengan penguasaan 2000 kosa kata.
  4. Memiliki kemampuan Akademik yang tinggi terutama di bidang sains dan matematika.
  5. Memiliki kecakapan entrepreneurship dan leadership.

Fasilitas: lokkasi strategis, 1 kelas 2 guru 24 siswa, full AC room + infocus, lab computer, lab IPA, perpustakaan, masjid, bus sekolah (antar jemput), kantin, lapangan futsal, Arabic & English native teacher.

Kegiatan rutin: renang, lomba-lomba, Pramuka, Book day, Science Day, Filed Trip, Culture Day.

Ekstrakurikuler: Karya Ilmiah Siswa, Futsal, Aikido, Painting, Samman Dance, Seni baca Qur’an, robotic.

Biaya Pendidikan: Uang Masuk Rp 28.625.000 dan SPP Rp 1.300.000/bulan. Belum termasuk catering, jemputan, dan ekskul.

Alamat:  Jl. KH Ilyas No.39 Karet Kuningan Setiabudi, Rasuna Said Jakarta Selatan. Telp 021-57950043. Di lokasi ini selain ada Primary School juga terdapat Kindergarten Azhari Islamic School.  Selain itu juga terdapat MI dan MTs Tanwirul Qulub.

Wow banget ya target lulusannya, 18 juz. Biaya juga cukup wow bagiku 🙂

 

  1. SD Laboratorium PGSD FIP UNJ
lab school.JPG
foto dari web sd lab pgsd

Lebih popular dengan nama SD Lab atau Lab School. Berlokasi di Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Jakarta, di Jl. Setiabudi I No.1 Setiabudi Jakarta Selatan, telp. 5279895.

Misi Sekolah:

  1. Menciptakan inovasi dalam pembelajaran, dan dapat melaksanakan evaluasi proses dan hasil secara klasikal, kelompok, dan individual.
  2. Mengembangkan budaya local dalam rangka pelestarian lingkungan dan budaya nasional.
  3. Menjadi tempat penelitian pendidikan dalam rangka menyikapi tantangan kemajuan.
  4. Melaksanakan program inklusi.

Fasilitas: gedung sekolah permanen (iya laah… 40 tahun yg lalu suamiku pun sekolahnya di sini :)), halaman luas, lokasi strategis dan mudah dijangkau, parkir luas, ruang kelas ber-AC, perpustakaan, ruang khusus siswa ABK, aula serbaguna, ruang computer, kantin jujur, ruang UKS, lab IPA, lab Bahasa, lab Matematika. Kapasitas kelas dibatasi 1 kelas 25 siswa.

Jam belajar:  Senin-Kamis 07.00-12.30 (kelas 1 sd 3), Senin-Kamis 07.00-13.30 (kelas 4 sd 6), Jumat 07.00-13.00. Sabtu berenang 08.00-10.00.

Ekstrakurikuler dan kegiatan rutin:

  1. Kegiatan jasmaniah: berenang, futsal,  taekwondo, Pramuka.
  2. Kegiatan rohaniah: TPA, pemutaran film religi/budi pekerti, praktek sholat dhuhur dan dhuha,kebaktian bagi siswa Kristen.
  3. Kegiatan keilmuan: matematika (metode self learning bekerja sama dengan Shinkenjuku Jepang), Bahasa Inggris (interaktif dengan native speaker), Komputer.
  4. Kegiatan Seni Budaya dan Keterampilan: marching band, menggambar, menari, life skill.

Biaya Pendidikan: Uang Masuk Rp 5.000.000 dan SPP Rp 500.000/bulan. Belum termasuk catering dan ekskul.

Untuk yang nyari sekolah umum (bukan berbasis agama) sekolah ini worth to try banget kan…

 

  1. SD Ar Rahman Motik

SD Ar Rahman Motik dengan metode pembelajaran Active Learning Every Day menggunakan kurikulum nasional terintegrasi dengan nilai-nilai agama Islam.

Sekolah yang mempunyai motto Terdepan dalam Prestasi Utama pada Pembinaan Akhlak ini mempunyai fasilitas: multimedia interaktif, lapangan, studio rekaman, bangunan sekolah permanen, bis sekolah antar jemput, ruang kelas ber-AC, masjid, kantin, dan koperasi.

Ekstra Kurikuler: menggambar, music, khatam, basket, Bahasa Inggris.

Klub: Sains (IT, robot), Fun Math Club, animasi, futsal, khatam dan tahfidh, basket, marawis dan qasidah.

Kegiatan rutin: Study Wisata, Islamic Leadership Outbond, khatam & tahfidz.

Biaya Pendidikan: Uang Pangkal Rp 22.500.000, Dana Sosial minimal Rp 1.000.000. SPP Rp 1.000.000/bulan. Dana Pendidikan Rp 4.500.000/tahun.

Alamat: Jl. Setiabudi Utara Blok D 1,2,3 Kuningan Jakarta Selatan. Telp 021-52921940, 52921943. Fax: 5223066.

Sebenarnya agak lebih cocok disebut sekolah umum daripada sekolah Islam, mengingat kurikulum tambahan untuk muatan Islamnya ‘hanya’ belajar baca Al Qur’an dan tahfidz surat-surat pendek. Seragam siswinya pun seperti seragam sekolah umum, tidak diwajibkan berjilbab.

 

  1. Madrasah Ibtidaiyah At Taufieq
taufik
foto dari nusagates .com

Fasilitas: Lab bahasa 40 unit, lab komputer, lab IPA, kantin dan koperasi, alat-alat kesenian, perpustakaan, musholla.

Ekstra kurikuler dan kegiatan: Paskibra, dokter kecil, Pramuka, marawis, qasidah, karate, muhadhoroh, komputer.

Biaya Pendidikan: Uang Masuk Rp 1.800.000. SPP Rp 150.000/bulan sudah termasuk ekskul dan komite.

Alamat: Jl. Perintis No.10 Kuningan Timur Jakarta Selatan. Telp 021-5270638.

Walau nampak kecil tapi sekolah ini terlihat bersih dan asri.

 

  1. SDIT Al Mughni
mughni.jpg
foto dari berita jakarta .com

Sekolah yyanng terakreditasi A ini memiliki visi: melahirkan pemimpin berkepribadiaan islami yang unggul dalam IMTAQ dan IPTEK, berpegang teguh pada Al Quran dan Hadist.

Tujuan:

  1. Menyelaraskan kurikulum Diknas, Kemenag, dan muatan lokal.
  2. Memvariasikan pendidikan formal dan informal dengan suasana belajar & mengajar yang menyenangkan.
  3. Ketercapian siswa akan aspek kognitif, afektif, dan ppsikomotorik di dalam keimanan yang lurus, ibadah yang benar, perilaku mulia, intelektual tinggi dan wawasan yang lus.

Fasilitas:  gedung sekolah berlantai 5, masjid berlantai 3, halaman (utk upacara, olah raga, tempat bermain), lab komputer, lab sains, ruang UKS, kebun IPA (kulihat benar-benar ada kebun di lantai atas), perpuustakaan manual dan digital, bank sekolah, catering dan antar jemput, kelas ber-Ac dan TV 32-42”, lokasi strategis dan mudah dijangkau, absen finger print.

Keunggulan:

  1. Every day with Qur’an
  2. Thfidzul Qur’an
  3. English camp
  4. Full day school
  5. Profesional service

Biaya pendidikan: uang masuk Rp 15.450.000 SPP 600.000/bulan belum termasuk catering dan jemputan.

Alamat: Jl. Jend Gatot Subroto Kav.26 Kuningan Timur, Setiabudi Jakarta Selatan. Telp 021-52961471.

 

  1. SDI Mubasyirin

Sekolah ini berdiri sejak 5 Januari 1970, berstatus Disamakan, terakreditasi B, dan memiliki visi menjadikan peserta didik yang berakhlak mulia didasarkan pada keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT, cerdas, terampil, bertanggung jawab kepada diri dan lingkungannya, cinta tanah air serta berkepribadian.

Fasilitas: gedung sekolah bertingkat, masjid, aula, lab komputer, lapangan sekolah, ruang UKS, perpustakaan, koperasi sekolah, sarana olah raga (tenis meja, basket, sepak bola), lingkungan kondusif dan strategis.

Kurikulum yang diterapkan adlah kurikulum yang telah ditetapkan oleh pemerintah dan kurikulum yang dibuat oleh sekolah (kurikulum lokal), dengan Bahasa Indonesia sebagai pengantar dan bahasa Inggris serta Bahasa Arab sebagai bahasa penunjang.

Ekstrakurikuler:

  1. Olah Raga: tenis meja, futsal, tapak suci.
  2. Kesenian: Calung, rampak gendang, rebana, marawis, angklung, tarian daerah.
  3. Keagamaan: Bimbingan baca Al Qur’an dan Iqra, tilawatil Qur’an dan tahfidz.
  4. Pramuka

Waktu belajar: 06.30 – 11.00 (kelas 1), 06.30 – 12.00 (kelas 2), 06.30 – 12.30 (kelas 3 s.d 6), 13.00 – 15.00 (kelas 3 s.d 6).

Biaya pendidikan: Uang masuk Rp 3.020.000, SPP lupa nanya dan gak diinfokan di brosur.

Alamat: Jl. Karbela Selatan No.1 Setiabudi Jakarta Selatan. Telp 021-5224116. Di lokasi ini juga terdapat SMPI Mubasyirin, dengan ruangan kelas bergantian dengan siswa SD.

 

  1. SDIT RPI (Rumah Pendidikan Islam)

Sekolah yang berada di bawah naungan Yayasan Rumah Pendidikan Islam ini berdiri sejak tahun 1976.

Kurikulum yang digunakan adalah kurikulum dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI dan kurikulum pengembangan pendidikan agama Islam yang disusun sendiri oleh sekolah disesuaikan dengan kebutuhan siswa dan visi misi sekolah.

Ekstrakurikuler dan kegiatan pendukung: Outbond, karya ilmiah, silat Merpati Putih, Upacara, Mabid Ramadhan, Parenting class, dll.

Biaya Pendidikan: Pendaftaran Rp 8.420.000, SPP 450.000/bulan.

Alamat: Jl. HR Rasuna Said Kav X2-2 Kuningan Timur Setiabudi Jakarta Selatan. Telp 021-98251046.

 

  1. MI Tanwirul Qulub

Yayasan Pendidikan Islam Tanwirul Qulub didirikan sejak tahun 1956 memilliki visi menjadi wadah pengembangan ilmu pengetahuan dasar terpadu dan pembinaan akhlaqul karimah.

Pola pendidikan:

  1. Perpaduan antara kurikulum Depag, Diknas, dan kurikulum khusus (Timur Tengah)
  2. Pola Kurikulum tingkat satuan pendidikan
  3. Penyelarasan dan perpaduan ranah kognitif, afeektif, psikomotorik dalam proses pembelajaran.

Tujuan pendidikan:

  1. Hafal & dapat membaca Al Qur’an dengan fasih.
  2. Memahami dasar ilmu agama secara komprehensif.
  3. Menguasai dasar ilmu pengetahuan alam dengan baik.
  4. Menguasai dasar-dasar matematika dengan baik.
  5. Memiliki keterampilan berbahasa (Indonesia, Arab, Inggris) dengan baik.
  6. Memiliki akhlak dan budi pekerti luhur.

Fasilitas: gedung milik sendiri, lab komputer, perpustakaan, perlengkapan media dalam kelas, ruangan AC, LCD proyektor, masjid, lapangan upacara.

Ekstrakurikuler: komputer, muhadhoroh, pencak silat, paskibra, marawis, futsal, basket, pengajian kitab hadist, renang, lukis, pramuka.

Jam belajar: kelas 1-2 jam 06.30 s.d 11.00, kelas 3 jam 06.30 s.d 11.40, kelas 4-6 06.30 s.d 13.30.

Biaya pendidikan: Uang masuk Rp 3.285.000 (putri) atau Rp 3.180.000 (putra), SPP 200.000. Terdapat bea siswa bagi siswa/siswi yang kurang mampu dan berprestasi.

Alamat: Jl. KH Ilyas No.39 Karet Kuningan Jakarta Selatan. Telp 021-57950046, 5223036. Di lokasi ini juga terdapat MTs Tanwirul Qulub, dan Azhari Islamic School yang sudah dipaparkan di atas.

Demikianlah paparan singkat mengenai 8 sekolah yang pernah kusurvey. Mudah-mudahan informasi ini bermanfaat. Selamat mencari sekolah yang  tepat dear parents…

Oh ya, kalau ada yang mau mencari info tentang TK di sekitaran Setiabudi  Jakarta Selatan, nanti kutuliskan juga ya…

 

 

Myself

Dipaksa Nulis (tapi seneng) oleh Liebster Award

Gambar

Assalamu alaikum….

Muncul sambil malu-malu niih…. 😀 . Sok-sok janji, sok-sok bikin target 5 hari 1 tulisan, mana… manaaa….??? Ternyata udah 3 bulan gak posting apa-apa di blog, bahkan resep masak yang tinggal copas pun enggak 😀

Dan akhirnya ada yang memaksaku nulis, dikasih Liebster Award dari Sondang, untuk nulis tentang diri sendiri. Baeklaaah…

Eh iya, ini aturannya:

  1. Post award ke blog kamu
  2. Say thanks buat yang ngasih award dan link back ke blog dia
  3. Share 11 hal tentang diri kamu
  4. Jawab 11 pertanyaan yang ditujukan ke kamu
  5. Pilih 11 blogger lainnya dan ajukan 11 pertanyaan yang ingin kamu tanyakan

Nomer 1 sudah yaa..

Nomer 2, tentu saja aku berterima kasih pada Mamak Sondang yang ngasih Award (tugas?) ini padaku. Aku tau banget maksudmu Ndang, biar aku nulis kan, nagih janjiku kan, gak boleh pake alesan sibuk apalagi males kan, hihi… Terima kasiiih… Mudah-mudahan tulisan ini menjadi pemicu untuk tulisan-tulisan selanjutnya ya Ndang. Aamiin…

Nomer 3, 11 hal tentang diriku:

  1. Aku lahir dan menghabiskan masa kecil sampai dengan SMA di Magelang. Wong Jowo aseli, tapi entah kenapa kata orang-orang omonganku gak ada logat jawanya, dan aku sering dikira orang Sunda atau orang Padang. Kalau dikira orang Sunda mungkin karena tinggal di Bandung ya… Nah kalau dikira orang Padang ini aku gak tau kenapa. Udah berkali-kali kejadian beli nasi padang dan penjual nasinya ngajak ngomong bahasa Padang. Pernah juga di kantor lama ada ibu-ibu datang konsultasi tiba-tiba nerocos pakai bahasa Padang. Ya aku bengong 😀
  2. Anak kedua dari 4 bersaudara. Dua laki-laki, dua perempuan. Kakakku laki-laki, selisih umur 1,5 tahun denganku (jadi saat dia masih bayi 6 bulan ibuku udah hamil lagi.. hihi kebayang repotnya dulu ketika kami berdua masih balita :)), adik perempuanku selisih umur 3 tahun denganku dan adik laki-lakiku selisih 7 tahun denganku. Kalau kami ngumpul berempat, bisa sampe jam 2 malem kami gak tidur ngobrolin apa saja, terutama ngobrolin masa lalu sambil tertawa-tawa lucu atau pun menangis haru. Biasanya Bapak dan Ibu ikutan juga. Awalnya sih para menantu juga ikutan ngobrol, tapi nanti lama-lama melipir satu-satu, masuk ke kamarnya masing-masing, tinggal kita berempat saja yang masih bertahan. Ah, aku kangen kalian….
  3. Agak susah bangun pagi *tutup muka pake bantal* Hampir tiap hari bangunnya dibangunin oleh suami yang pulang sholat subuh dari masjid dekat rumah.  Makanya lebih suka nyiapin segala sesuatu malam hari sebelum tidur daripada harus bangun dini hari karena belum nyiapin ini itu.
  4. Agak bertentangan (atau justru berhubungan sebab akibat) dengan nomer 3, aku bukan orang yang gampang tidur. Bagiku tidur itu ya harus di kamar, pakai kasur, bantal dan selimut. Susaaah banget tidur di kendaraan. Jadi kalau perjalanan mudik 12 jam ke Magelang ya aku duduk di muka di samping pak kusir yang sedang bekerja gak tidur, ngobrol aja sama suami, nemenin dia nyetir. Sembilan jam naik pesawat aku gak bisa tidur sama sekali, padahal suamiku bisa 2x tidur (ngiri deh sama suamiku yg gampang banget tidurnya, walo kadang sebel :D). Jadi dulu ketika belum punya mobil, kalau mudik naik bis atau kereta, aku selalu minum Antimo biar ngantuk, dan setengah tablet Antimo pun cukup membuatku pules, bahkan saking pulesnya ketika piknik bareng temen-temen kantor aku gak bangun ketika bis berkali-kali berhenti di toko oleh-oleh, dan sampai Bandung bingung kok orang-orang udah pada punya banyak oleh-oleh, kapan belinya? 😆
  5. Pelupa sama nama orang. Ini berlaku di dunia nyata maupun di dunia lain 😀 maksutnya di film yang kutonton atau novel yang kubaca pun aku susah mengingat-ingat nama tokohnya, walau masih ingat jalan ceritanya. Jadi kalau harus bikin review film atau novel, ya nyontek dulu nama-nama tokohnya siapa (kecuali baru dibaca banget ya masih inget laah..). Parah yaa… Bisa dibayangkan nilai sejarahku waktu SMA kaya gimana 😆
  6. Suka memasak dari kecil, walau sampai sekarang kemampuanku ya masih segini-segini aja. Ada kebahagiaan tersendiri melihat bahan-bahan masakan dan bumbu-bumbu itu berubah menjadi sesuatu yang lezat. Rutin memasak sih setelah menikah, sebelum itu (ketika masih lajang dan tinggal di kosan) jarang bahkan bisa dibilang gak pernah. Tapi jangan salah, walau gak pernah masak tapi sejak masih kuliah itu aku sudah rajin mengkliping resep dari majalah atau pun tabloid bekas. Sampai sekarang kliping itu masih ada loh walau gak pernah dibuka-buka lagi (kan sekarang mah nyontek resepnya ke chef Google :D) tapi mau dibuang kok sayang.
  7. Selain melihat bahan masakan berubah menjadi makanan lezat, pekerjaan rumah yang membahagiakanku adalah mengeluarkan hasil cucian yang wangi dari mesin cuci. Masih suka takjub, baju ini tadi kotor, dekil, bau, keluar dari mesin cuci jadi bersih wangi. 😀
  8. Waktu SMP pernah belajar menjahit, tapi entah kenapa (lupa) berhenti, baru sampai pada pelajaran membuat pola dan menjahit baju-bajuan kecil dari kertas :D. Waktu kuliah beberapa baju yang kupakai adalah baju hasil jahitanku sendiri, dan pernah berkeinginan kalau kelak baju yang dipakai anak-anakku adalah baju hasil jahitanku, tapi kenyataannya tidak ada sama sekali 😆
  9. Punya SIM A dan SIM C, tapi gak berani naik motor kecuali dibonceng 😀 Gak pede aja… jadi kalau bawa motor rasanya kok motornya (atau badanku?) goyang-goyang, gak mantep gitu deh. Padahal waktu SMA tiap hari ke sekolah naik motor. Udah ngerasain naik mobil jadi lupa diri kali yaaa…. 😆 (gak mau ngaku kalau ini gara-gara faktor U).
  10. Pengen belajar fotografi. Pengen bisa motret bagus. Udah sering sih baca-baca teorinya, tapi prakteknya menu Auto lagi Auto lagi yang dipakai 😆
  11. Selalu kagum sama orang yang cerdas. Bukan yang pinter ya, beda kan? Kalau pinter itu (menurut pengertian ngawurku) kan yang belajarnya sampai malem, kaca matanya tebel, hafal rumus-rumus atau undang-undang, gitu deh. Cerdas yang kukagumi itu yang ide-idenya brilian, pinternya aplikatif, dan profesional di bidang yang dia geluti.

Nomer 4, menjawab pertanyaan dari Sondang.

  1. Berapa orang sahabat yang kamu punya (selain pasangan ya) ? Berapa ya gak pernah ngitung.. sahabatku selalu berganti-ganti. Tiap pindah kantor aku pasti punya (alhamdulillah) sahabat baru, walau ketika pindah kantor jadi jarang kontak. Tapi tetep keep in touch. Sahabat dari jaman SMA pun masih sering kontak kok (minimal nanya-nanya kabar :)) Kenapa memilih mereka/dia sebagai sahabat?? Ya karena nyaman aja, ngobrolnya nyambung, bisa saling menertawakan tanpa ada yang sakit hati.
  2. Kapan merasa paling cantik? Pagi hari, bangun dari tidur yang cukup, dan udah mandi, rasanya wajah fresh banget. Dan kapan merasa paling jelek dan nggak pede? Di kantor siang-siang udah ngatuk, wajah kusut, muka berminyak, dan kantong mata tebel.
  3. Menurut kamu, kamu tetangga yang seperti apa? Walau hampir gak pernah ikutan arisan atau pengajian, aku tetap menjaga silaturahmi dengan tetangga. Selain memanfaatkan media sosial, aku juga memanfaatkan hasil masakanku serta oleh-oleh (kalau habis bepergian ke luar kota) untuk menjembatani hubungan kami. 😀
  4. Menurut kamu, kamu teman seperti apa? Teman yang mau mendengarkan keluh kesah dan siap membantu bila dibutuhkan, dan kadang gak bisa bilang tidak.
  5. Menurut kamu, kamu rekan kerja seperti apa? Rekan kerja yang bisa bekerja sama dalam tim, pembelajar cepat, tapi terkadang cenderung last minute person alias belum panas kalau belum mepet deadline 😀
  6. Barang apa yang berkali-kali kamu beli karena pengen dan bukan karena butuh? Jam tangan, baju anak, buku, bahan-bahan kue, dan banyaaak….. eh ini normalnya wanita kan? 😆 *nyari temen.
  7. Makanan apa yang jadi favourit dan akan tetap diterima meski udah kenyang? Aku gak pernah menolak dikasih makanan Ndang hahaha…. kalo udah kenyang ya tetep kuterima, kan bisa dimakan nanti 😆  Walau udah kenyang makanan yang tetap akan kumakan adalah aneka dessert yang manis manis ituu… *umpetin timbangan*
  8. Apa buku favouritmu? Banyak deh… kayanya sering banget baca buku yang pas udah selesai baca aku masih terwow-wow. The Kite Runner, Perahu Kertas, Laskar Pelangi, buku-bukunya Pramoedya, Asma Nadia, Sidney Sheldon, hihi random banget ya.. Aku lebih mementingkan cara bercerita daripada isi cerita. Cerita simpel pun kalau cara berceritanya memikat, bisa jadi favoritku. Eh iya satu lagi, Cintapuccino, hahaha….. 😆 (cuma kamu yang tau Ndang, gak usah dibahas lagi) 😆
  9. Apa pendapatmu tentang anjing? Karena sejak kecil didoktrin bahwa air liur anjing itu adalah najis, jadi gak pengen deket-deket sama anjing, males kena air liurnya, kalo mau sholat repot nyucinya.
  10. Pengennya nanti pensiun tinggal di mana? Di Magelang atau Bandung. Sebenernya gak tau nih, belum terlalu mikirin.
  11. Bagian dari tubuh mana yang menurutmu paling kamu suka ? Suka semuanya, apalagi kalau lebih langsing 😀

Nomer 5, pilih 11 blogger lainnya dan ajukan 11 pertanyaan yang ingin kamu tanyakan.

Susah nih milihnya…. kayanya udah pada dapet kan yaa… Kucoba aja deh, mudah-mudahan kesebelas blogger ini belum dapat award,  sempat membaca tulisan ini, dan bersedia menjawab pertanyaanku.

  1. Mbak Titi
  2. Akuntania
  3. Masayuwindri
  4. Puji Hamzah
  5. Kiky Amel
  6. Vivi
  7. De
  8. Della
  9. Qonitafitri
  10. Dian Sigit
  11. ……….. ini bingung, banyaaak yang mau kucolek tapi kok maksimal 11. Jadi nomer 11 ini untukmu aja deh… untukmu. Ya, kamu. 😀

dan pertanyaannya adalah:

  1. Apa yang kamu lakukan saat punya me time?
  2. Kalau kamu mendapat beasiswa sekolah lagi, apa yang ingin kamu pelajari? Mengapa?
  3. Hal sederhana apakah yang orang lain mudah melakukannya tapi tidak bisa kau lakukan?
  4. Pola asuh didik seperti apakah yang orang tuamu terapkan dan tidak ingin kau tiru, mengapa?
  5. Pola asuh didik orang tuamu yang ingin kau tiru, mengapa?
  6. Apa yang paling ingin kau makan tapi belum keturutan?
  7. Pernah diet? Bagaimana hasilnya?
  8. Siapa penulis Indonesia favoritmu?
  9. Selain dompet dan HP, benda apakah yang selalu ada di dalam tasmu?
  10. Lebih suka ngobrol langsung atau ngobrol di dunia maya?
  11. Apa pendapatmu tentang foto selfie?

Selamat menjawab dan meneruskan Liebster Award ini dengan suka cita….

 

 

 

 

 

Myself

Sok Sibuk

“Ma itu Javas Jindra ya, Aa mau ke masjid dulu, udah adzan (isya),” kata Youri.

Aku masih berada di dapur. Javas dan Jindra main di ruang tengah. Kulihat sebentar mereka anteng, aman terkendali.

Panci berisi kaldu sudah dijerang di atas kompor, sekarang saatnya kupas wortel, trus potong-potong. Kompor satu lagi gak boleh nganggur dong, wajan pun nangkring di sana. Isi minyak. Air di panci sudah mendidih, wortel pun masuk panci. Minyak mendidih, ayam, tahu, tempe masuk ke wajan. Saatnya potong-potong bakso dan jamur, cemplungin ke panci menemani wortel yang sudah mulai melunak. Ayam goreng mateng, ganti minyak di wajan dengan minyak baru untuk menumis bawang. Kupas bawang, cincang, tumis sebentar dan menyusul nyemplung ke panci. Tomat, daun bawang, dan seledri pun sudah antri di atas talenan. Potong-potong, cemplung-cemplung. Garam, merica dan sejumput gula pun menyusul. Cicipi, udah enak, sip. Gak sampai 15 menit, makan malam sudah siap. Aa Youri dan suamiku pulang dari masjid, sayur sop, ayam goreng, plus tahu tempe bacem sudah menanti. Aku mandi, terus sholat isya.

Selesai makan, kelonin Jindra, cuci dan sterilkan botol Jindra, masukkan ke tas sekalian dengan baju ganti Jindra untuk esok hari di daycare, sambil sesekali membantu Javas menggunting, menggambar, atau mengelem hasil karyanya. Baju kotor sudah masuk mesin cuci setelah sebelumnya pakaian yang mengandung ompol dibilas dulu oleh suamiku. Beres, tidur.

Pagi-pagi bangun langsung menuju kulkas. Keluar-keluarin bahan masak yang beku dari freezer, minum air putih, wudhu, sholat subuh. Beras, kaldu, daun salam, masuk ke rice cooker mini untuk nasi Jindra. Taruh wajan di atas kompor, potong-potong bawang, tumis pakai mentega, masukkan udang, jahe, daun salam, tambah air dikit, tutup. Potong-potong tomat dan daun bawang, masukkan ke udang bersama kecap dan saus tiram. Kompor sebelah belum bekerja nih. Oke, ambil panci kecil, isi tepung beras merah dua sendok, santan, gula pasir. Aduk-aduk, jerang sebentar, jadi bubur manis untuk makanan selingan Jindra. Udang pun sudah mateng. Lanjut? Ya, ambil kukusan, jerang di atas kompor. Siangi buncis, brokoli, dan waluh kecil, kukus. Nitip kukus juga 2 butir telur untuk Javas Jindra. Parut tempe dan wortel, masukkan ke rice cooker mini. Kompor sebelah? Rebus air mandi untuk Javas (iya, gak punya water heater 🙂 ). Javas bangun, mandi sama Papa. Urusan dapur beres? Belum. Bikin juice dulu. Beres? Ya. Aa Youri sarapan, aku masuk-masukin semua hasil masakan ke dalam kotak-kotak bekal. Cuma Youri yang sarapan di rumah, yang lain sarapan di luar rumah. 😀 Nasi, udang, sayuran kukus dan juice untuk suamiku. Nasi lembek, bubur manis, telur rebus dan buah untuk Jindra, juice untuk Javas dan Youri. Masuk-masukin ke tas, dan kemudian barulah aku mandi dan bersiap berangkat ke kantor.

Begitulah kira-kira gambaran aktivitasku di rumah setiap harinya, menjawab pertanyaan Bunda Muna dalam GA perdana dalam rangka ultah pertama blogku di blogspot. “Walaupun gak menang GA-nya aku tetep mau ngotot dan nagih terus request tema tulisan ini: aku pengen tauuuu banget daily activitiesnya mbak Tituk sbg ibu berputra EMPAT yg bekerja dan ttp kasih ASI eksklusif ke Jindra kan, itu cara ngatur waktunya gimanaaaaaaaa?! Kpn masak2nya? Kpn waktu utk keluarga? Kpn blog walkingnya? Kapan nulisnya? aku sungguh pengen taauuuuu..” kata Jeng Muna bundanya Zen ini.

Pernah juga ada seorang teman yang tiba-tiba ngirim BBM, “ Mbak aku mau nanya, tapi jangan diketawain ya, soalnya pertanyaanku ini aneh. Gimana sih Mbak caranya ngatur waktu? Anakmu empat tapi masih sempet masak, ngeblog, dan bahkan bikin kue macem-macem. Anakku cuma dua, ada pembantu, tapi kok kayanya aku gak sempet ngapa-ngapain.”

Hahaha… Tampak seperti supermom yang sibuk bin riweuh? Gak terlalu kok… Pertama, aku gak kasih ASI eksklusif lagi, tapi sudah ditambah sufor dan MPASI. Kedua, aku gak kerjakan semua pekerjaan rumah sendiri, tapi dibantu oleh seorang ‘Teteh’ yang datang dan pulang setiap hari, membantuku merapihkan rumah dan menyetrika baju kami sekeluarga. Ketiga, aku hanya memasak masakan ‘instan’ di hari kerja. Makan makanan instan tiap hari? Kan gak sehat… Ih, tenang dulu.. ini bukan makanan instan bikinan pabrik kok, tapi makanan instan bikinanku sendiri. Maksudnya makanan instan ituh, makanan yang masaknya gampang dan cepat seperti yang kuceritakan tadi itu loh…. hihi…

Bagaimana menyiasatinya?

Lauk yang perlu waktu lama memasaknya, biasanya sudah aku masak saat weekend, jadi saat weekdays tinggal goreng saja, contohnya: ayam goreng yang sudah diungkep, tahu dan tempe bacem, empal/gepuk dll.

Ikan pun sudah dibersihkan dan dibumbui saat weekend, simpan di freezer, weekdays tinggal goreng saja. Udang dan cumi pun begitu, siangi dan bersihkan saat weekend, simpan di freezer, dan siap digunakan sewaktu-waktu.

Bikin bumbu siap pakai, misalnya bumbu merah (duo bawang plus cabe dan tomat yg dihaluskan dan ditumis), simpan di kulkas. Bisa dipakai sewaktu-waktu untuk nasi goreng, ayam/ikan balado, bahkan sayur lodeh atau tom yam, tinggal padu padan dengan bumbu dan bahan lain. Bikin atau sediakan juga bumbu siap pakai seperti bawang goreng, dan merica bubuk, kalau sering bikin sop dan semacamnya.

Gambar

 Kalau sering memakai masakan bersantan, peras santan dan masukkan dalam kantong plastik kecil-kecil untuk sekali pakai, simpan di freezer. Hal yang sama berlaku juga untuk kaldu.

Ngejus tiap pagi ribet? Gak jugaa… Buah-buahan yang tidak awet lama di kulkas seperti nanas, strawberry, sirsak, semua sudah siap pakai. Siangi dan bersihkan buah, simpan dalam kantong plastik kecil per sekali pakai, dan simpan di freezer. Bikin juice tinggal cemplung-cemplung, gak pakai kupas-kupas dulu yg lumayan makan waktu (pagi hari, tiap menit begitu berharga, right?)

Gambar

Sayur harus selalu dimasak segar kan ya, jadi kalau sayur ya tetep dadakan masaknya. Itu pun yang simpel-simpel aja. Sayur bening, sayur sop, sayur dikukus (kadang dimakan langsung, kadang disajikan bersama bumbu pecel atau bumbu urap yang tersedia di kulkas tentu saja), atau yang paling mudah, salad. Ada tips menyimpan sayuran yang baru aku baca (belum kupraktekkan) yaitu cuci bersih sayuran, keringkan, bungkus dengan kain/lap bersih, simpan di kulkas. Kayanya patut dicoba juga nih, biar makin cepet masak sayuran gak pake nyuci-nyuci dulu.

Jadi, weekend bukannya liburan dong Mbak, malah sibuk nyiapain ini itu? Tenaaaang… kan ada si Teteh yang bantuin 😀 lumayanlah untuk ngupas-ngupas bawang, meras santan, nyuci ikan, ayam, udang dkk itu gak harus dikerjakan sendiri kan? Dan yang jelas, nyuci semua ‘kekacauan’ peralatan setelah memasak itu yang penting. Kalau hari Sabtu Teteh gak datang, aku libur masak deeh…. hihi.. gak sanggup deh kalau harus beresin sendiri semua bekas ‘kekacauan’ itu.

Kok masih sempet bikin-bikin kue? Ah kalau ini sih ‘me time’ku… pernah kuceritakan sebelumnya di sini kan, bahwa memasak itu salah satu sarana refreshing dan me timeku, terutama saat mencoba resep-resep baru. Kasihan banget sih me time-nya di dapur, bukannya jalan-jalan, hang out sama temen-temen. Hehe.. gak usah kasihan, namanya me time itu kan beda- beda tiap orang kan yaa… Ngumpul sama temen, jalan-jalan atau sekedar makan siang bareng teman-temanku ada waktunya juga kok.. selalu kuusahakan dilakukan pada jam istirahat di hari kerja 😀

Kapan nulisnya, kapan blog walkingnya, kapan komen-komen di media sosisal? Gak ada waktu khusus. (makanya tulisan ini muncul di bulan Maret padahal udah janji bulan Februari menayangkan 6 tulisan, eh ternyata Cuma bisa 5 🙂 ) Biasanya sih di saat menunggu, di lampu merah, di saat macet, sambil ngeloni Jindra, dan saat ngantuk di kantor sampai gak bisa mikir lagi haha…. Bener loh, sejam mengerjakan kertas kerja di excel itu bisa bikin otakku hang gak bisa mikir. Dan buka Mozilla Firefox atau buka-buka hape sekitar 10 sampai 30 menit pun cukup untuk menyegarkan pikiranku lagi.

Kapan nonton TV, baca novel, merawat diri? Ah ini sih sesekali aja, gak rutin. Gimana kemauan dan kesempatan saja.

Kapan waktu untuk keluarga? Kalau yang dimaksud waktu untuk keluarga itu waktu berada bersama keluarga, ya waktuku cuma sepulang kerja sampai besok pagi berangkat bekerja, itu pun disambi ini itu. Plus weekend tentu saja.  Tapi kalau waktu untuk keluarga menurut pengertian yang lebih luas, maka sebagian besar waktuku adalah untuk keluarga. Seperti pertanyaan kapan waktu untuk beribadah? Kalau yang dimaksud beribadah adalah sholat dan tilawah, maka waktu beribadahku paling cuma setengah jam sehari. Tapi kalau ibadah yang dimaksud adalah ibadah dalam arti luas, maka sebagian besar waktuku adalah (mudah-mudahan bernilai) ibadah. Gimana niatnya kan? Bekerja, ibadah. Menjaga silaturahmi, ibadah. Olah raga, ibadah.

Eh iya, kapan waktu untuk olah raga? Nah ini nih yang masih jadi pe-erku. Belum rutin olah raga euy…bahkan bisa dibilang hampir gak pernah. Baiknya kapan dan apa ya olah raganya? Ada saran?

Uncategorized

Mau Hadiah? “I’m In!”

I’m participating in the Pay-it-Forward initiative. The first 5 people who comment on this status with “I’m in” will receive a surprise from me at some point in this calendar year – anything from a sweet dessert, a lovely CD, a ticket, a book or just absolutely any surprise I see fit! There will be no warning and it will happen when I find something that I believe would suit you and make you happy! These 5 people must make the same offer in their status (FB or Path or Twitter, etc.) and distribute their own joy. Simply copy this text onto your profile, (don’t share) so we can form a web of connection and kindness.

Let’s do more nice and loving things for each other in 2014, without any reason other than to make each other smile and show that we think of each other. Here’s to a more enjoyable, more friendly and love-filled year!

Pertama baca “I’m in” ini dari blognya Danikurniawan, tapi gak ikutan krn udah telat… dan akhirnya ikutan (dan ini copas dari) Baginda Ratu. (Padahal tanpa ikutan I’m in pun aku udah seriiing banget dapet kiriman dari jeng Fitri ini..)

Yuk yuuk… berbagi kebahagiaan sederhana.

Aku mau bagi2 apa ya? Kayanya sih gak jauh dari urusan dapur 😀 atau apa ya? Ya nanti disesuaikan sm penerimanya deeh… kira2 dia suka apa.

Yang mau (dan punya alamat di Indonesia 🙂 ) silahkan komen di bawah, dan berbagilah sedikit kebahagiaan dengan mengcopas dan share tulisan di atas…

Myself

Sepasang Sandal Jepit

Camera 360
sok-sokan bikin foto ala prewedding mumpung lagi ‘bulan madu’, tapi malah geli cekikikan sendiri.. gak romantis blas 😀

“Mbak, coba bikin postingan soal menjaga romantisme dengan Pak Sutisna, yah. Kalian udah nikah lama, dan kuliat hubungan kalian hangaaatt sekali. Bagi tipsnya, yaaa…” ini kata Fitri sang Baginda Ratu dalam GA perdana dalam rangka ultah pertama blogku di blogspot. Gak tau deh ini ngetes atau nanya beneran 😀 Gak salah nih Fit? Setauku pasangan romantis itu kalian deeh… Siapa yang pas anniversarian dapet kiriman rangkaian bunga segeda gaban (yang pasti bikin iri cewek-cewek seruanganmu)? Siapa yang saling komen dengan kata-kata mesra di fesbuk? Siapa yang sering foto-foto mesra berdua? Kalian deeh… Kebalik kan? Harusnya aku yang nanya apa kiat-kiatnya kok malah aku yang ditanya…

Kalau romantisme biasanya dilambangkan dengan bunga, merpati, atau gambar hati love-love, mungkin romantisme kami ini cukup digambarkan dengan sandal jepit. Ya tapi jangan sandal jepit Swallow lah yaa… sandal jepit Fitflop dong ah biar kerenan dikit hahaha….

Kenapa sandal jepit?

Karena aku tanpamu bagaikan sandal jepit hilang sebelah.. tidak bisa berfungsi sempurna, tidak berarti apa-apa. (Cieeeeh….. udah romantis belom kalo kaya gini?) 😀

Haduh beneran deh bingung kalau harus nulis romantis-romantisan…

Sekitar tahun 2000-an awal, aku bersahabat dengan dua orang teman di kantor, sebut saja namanya Eva dan Susi. Kami bertiga ini seumuran, seangkatan di sekolah, dan sama-sama berada di tahun-tahun awal pernikahan dan memiliki 1 anak balita. Jadi ya gampang nyambung kan ya.. Suatu hari, ketika ngobrol berdua dengan Eva, Eva memberitahuku bahwa Susi sering curhat padanya, katanya Susi ini iri denganku. Hah, iri? Iri kenapa? Katanya Susi ini iri melihat keakrabanku (keakraban katanya… bukan kemesraan 🙂 ) dan suamiku. Kata Susi ke Eva, “Mereka itu setiaaap hari telpon-telponan, dan ngobrolnya lama. Padahal kan tiap hari juga mereka ketemu Va.. Tapi adaa aja yang diobrolin, kaya ke temen gitu. Aku pengin kaya gitu Va, tapi kok gak bisa ya. Sungkan sama suami, jadi ya ngobrolnya yang penting-penting aja.”

Aku bengong… Hiks… Padahal aku ngobrol di jalan via telepon itu karena di rumah rasanya gak sempet ngobrol sama suami, sibuk ngurusin anak (yang baru satu!) dan ini itu. Eh iya, Susi ini rumahnya searah dengan rumahku, jadi tiap hari berangkat dan pulang bareng semobil, dan tentu saja mendengar obrolan-obrolan gak pentingku dengan suami.

Dari cerita Eva itu aku mengambil pelajaran penting, bahwa komunikasi yang lancar dan rasa nyaman bersama pasangan itu adalah hal berharga yang harus dijaga. Gak semua pasangan memilikinya atau mau mengusahakannya. Pelajaran berumah tangga yang kuperoleh di tahun 2000-an itu kuterapkan terus sampai sekarang. Berkomunikasi layaknya teman (tapi mesra 😉 ), jujur dan terbuka gak pakai jaim-jaiman, ngomongin apa saja, hal penting maupun gak penting, hal membanggakan maupun memalukan, membahagiakan maupun menyedihkan dll dsb.

Ya abis kalo gak diomongin sama suami, hal-hal yang gak boleh diobrolin sama orang lain mo diomongin sama siapa? Kan sebagai perempuan hasrat ngomongin segala hal ini harus disalurkan toh? Ngomongin hal membanggakan (dan dengan nada bangga) ke orang lain ntar dikira pamer dooong..  Trus ngomongin si ini begini si itu begitu ke orang lain ya gak boleh dong ntar jadinya ghibah. (Eh kalo ngobrolnya ke suami doang tetep disebut ghibah gak sih? Kan diobrolin maksudnya untuk diambil pelajaran.. *ngeles).  Jadi, ya suami lah sasarannya hahaha… (Bersabarlah para suami mendengarkan ocehan istri yang gak ada habis-habisnya yaa…)

Gambar
Untuk orang yg kalem dan pendiam, foto selfie dan kalimat seperti ini pasti gak bisa diupload ke media sosial, hanya bisa dikirim ke istrinya kan? hahaha… ampun Paaa…. fotonya diupload di blog yaaa….

Tentang rasa nyaman bersama pasangan, di acara pengajian di kantor yang diisi oleh Teh Mimin Aminah dari Lembaga Pelatihan & Konsultasi Keluarga Cahaya Islam dijelaskan bahwa apabila seseorang merasa tidak nyaman dengan pasangannya maka dia berada dalam posisi rawan selingkuh. Dan 86% perceraian yang ditangani lembaganya, disebabkan karena perselingkuhan. Huaaa… amit-amit…

Nah salah satu contoh gak nyaman bersama pasangan yang disampaikan oleh Teh Mimin adalah ketika seseorang lebih asyik dengan gadgetnya daripada ngobrol dengan pasangannya. Wak waaw…. Dan contoh lainnya adalah orang yang lebih suka menghabiskan weekend bersama teman-temannya dari pada bersama keluarganya. Mancing, touring, menikmati hiburan sendirian, dll dsb sengaja menghindari kebersamaan dengan pasangan yang akhirnya komunikasi dengan pasangan semakin jarang, bersama pasangan semakin tidak nyaman.

Apa tujuan menikah? Pengin bahagia kan? Salah satu ciri rumah tangga yang bahagia adalah adanya rasa aman, tentram, dan nyaman saat bersama pasangan. Seperti yang dijelaskan dalam QS Ar Rum 21 yang sering dikutip di undangan-undangan nikah itu… agar kamu merasa tentram, dan Dia menjadikan diantaramu rasa kasih dan sayang. Merasa kurang bila tidak bersama pasangan dan merasa sempurna bila bersama pasangan, ibarat sandal yang harus selalu sepasang. (hihi ternyata mengibaratkan diri sebagai sandal nyontek dari Teh Mimin…)

Aku suka perumpamaan sandal ini karena menurutku pasangan itu gak harus sama minatnya, sama hobinya, sama sifatnya, yang penting sama tujuannya. Pasangan itu bukan kanan dan kanan kan, melainkan kanan dan kiri. Perbedaan kultur, cara berfikir, hobi, dll tidak menjadi masalah berarti, malah membuat kami saling melengkapi. Suamiku lahir dan dibesarkan dengan kultur Sunda di kota besar Jakarta, sedangkan aku lahir dan tumbuh di sebuah desa di kota kecil dengan kultur Jawa. Logika dan cara berfikir suamiku cenderung ‘anak IPS’, logika dan cara berpikirku ‘anak IPA’. Suamiku pendiam, aku agak pendiam. 😀 Suamiku gak romantis, aku eh kok curcol hahaha…

Ya, gak ada rangkaian bunga di hari jadi pernikahan kami, gak ada kejutan (kado maksudnya haha…) dan seremoni di hari ulang tahunku (pernah sih… tapi jarang <- curcol lagii), gak ada surat cinta dengan rangkaian kata-kata indah di inboxku, tapi selalu ada telinga yang mendengar keluhku, ada sabar yang menampung ruwetku, ada keikhlasan dan tenaga bantuan untuk ururan domestik, dan ada doa yang aku yakin dipintakan untukku.

Mengutip perkataan Om Squ:

“Gak semua suami romantis bak di film drama, gak semua suami ngerti semua yang dimaui istri kala istrinya cuma diam tapi pengin suami ngerti (kecuali suaminya seorang dukun). Para suami itu tau, care, dan memperhatikan hal-hal kecil yang dilakukan istrinya untuk keluarga, tapi mungkin gak terucap. Gak semua suami bisa menulis merangkai kata. Gak semua suami bisa spontan bertutur indah, merangkai kalimat untuk menyatakan cintanya. Mungkin kikuk, tak biasa. Mungkin hanya dipendamnya dalam hati, lalu diganti doa untuk istrinya, dalam sujud malamnya…”

Eh tapi sesekali romantis juga deng….. ini beberapa contohnya yang sempet dicapture.

Gambar
status BBMnya yang bikin ‘uhuk uhuk’
Gambar
jadi, aku yang gak romantis ya?

Dan ini yang terbaru, notification facebookku kemarin pagi.

Gambar

Sudah sudaaah…. kok malah pamer kemesraan. (Pamer tanda tak biasa 😀 )Tipsnya mana? Ah tips mah cari di google aja yaaa…

Parenting

Karena Bu Risma

Beberapa minggu yang lalu sekolah anakku mengadakan seminar “Tantangan Mendidik Anak di Era Digital” dengan pembicara ibu Elly Risman, dan inilah isi materinya, yang membuatku gak sanggup menahan tangis ketika berlangsungnya acara…

Islam is Fun

Bismillahirrahmanirrahim..

Oke, sebetulnya kontributor sontoloyo ini belum ijin sama empunya blog buat ngisi. Cuman desakan lingkungan *caelah* udah sangat kuat. (1) teman sebaya yang ngojok-ngojokin buat nulis di laman ini lagi; (2) kasus di lapangan *emang mau nulis apaan sampe bawa kasus segala* yang udah menggila, ntar diceritain; (3) abis nonton Mata Najwa edisi Bu Risma sampe meleleh air mata, jadi pengen berjuang bareng semampu yang saya bisa; (4) kemaren kakak kelas ngeshare video dan kayaknya saya nemu benang baru (dari kasus yang ntar saya ceritain) dan penting buat saya tulis ulang supaya bisa saya runut benangnya biar ga kusut dikepala (kepentingan pribadi).

videonya ada disini :

Cukup sekian aja yang bikin saya bulet untuk nulis lagi disini. Dan sebenernya saya rada2 ragu tadi, mau nulis disini atau di blog pribadi, tapi karena nilai yang saya bawa bakal kental banget dengan prinsip hidup, saya pilih disini karena saya memposisikan diri…

View original post 4,588 more words

Myself

Masterchef Tempe Goreng

pic20140216210542[1]

Duh susahnya untuk konsisten nulis. Bahkan udah sok-sokan bikin GA dan janji mau nulis 5 hari sekali tetep aja gak bisa. Baru dua kali postingan dan udah melanggar aja. Postingan pertama tanggal 5 Feb, kedua tanggal 10 Feb, yang ketiga harusnya tanggal 15 Feb dong yaa… ini udah tanggal berapa???

Tadinya mo bikin tulisan yang kupersembahkan untuk anak perempuanku, karena tanggal 15 Februari itu bertepatan dengan ultahnya, eh tapi gak sempet aja. Dan lagi pula untuk ultahnya kali ini dia rekues minta dibikinin kue. Baiklaah… gak dibikinin jurnal khusus, dibikinin kue saja. Kebetulan beberapa hari yang lalu Mbak Titi posting resep choco devil cake yang tampak mudah, jadi berani deh. Nah membuat tampilan si choco devil pantas dikasih judul “Kue Ultah” ini yang bikin grogi. Untung dulu pernah beberapa kali nungguin kakak iparku yang jago masak itu bikin black forest, jadi ya masih inget-inget dikit deh. Yang gampang tapi hasilnya cantik menurutku adalah, siram cokelat aja tuh si cake cokelat.. beres.

Jumat malem setelah Duo J tidur, mulailah aku beraksi. Dan ternyata urusan memake-up kue ini gak semudah yang kulihat atau kubayangkan. Huhuhu…. Gak bisa rapi. Si butter cream ini kan lembek gitu ya, susah deh dibentuknya. Jadi ya agak belepotan gitu deeh…. Tapii… walau harus telat tidur sampai jam setengah dua, sebagai pemula (banget) dalam masak memasak, apalagi bikin kue ultah, aku PUAS.

Masih belepotan tapi lumayanlah sebagai pemula.
Masih belepotan tapi lumayanlah sebagai pemula.

Jadii…. Cerita tentang masak memasak aja yuk.  Melanjutkan GA perdana dalam rangka ultah pertama blogku di blogspot ada yang memberi masukan untuk menulis tentang kesukaanku memasak dan serunya memasak bersama anak-anak, yaitu Nur Ari Milawati.

Aku gak ingat sejak kapan aku belajar memasak, yang pasti sejak SD aku sudah biasa disuruh ibuku ke warung membeli aneka bahan masakan atau bumbu dapur sehingga sejak itu pula aku sudah bisa membedakan mana ketumbar mana merica, mana jahe mana kencur, mana daun bawang mana seledri. Dan tentu saja aku juga diwajibkan membantu ibuku memasak di dapur. Mengupas bawang, memotong sayuran, memarut kelapa (tugas yang paling kubenci), dan mengulek bumbu. Dan lama kelamaan aku pun mulai bisa memasak sendiri. Masakan rumahan yang simpel-simpel saja. Telur dadar, nasi goreng, tempe goreng, dan sayur sop.

Keren kan masih SD udah bisa masak? <-mulai sombong 😀  Biasa aja kaliii…. Cuma goreng tempe mah anak TK juga bisa. Eits… jangan salah. Ibu-ibu pun banyak loh yang gak belum bisa bikin tempe goreng. Di warung langgananku sering kok kulihat ibu-ibu beli tempe sepaket dengan bumbu tempe goreng instan. Bukan tepungnya ya, bumbu celup. Padahal kan gampil bingit… 😉 Ah bukan gak bisa kali, males bikin bumbunya. Masa sih… Cuma ngulek bawang putih sama garem doang males. Gak usah sok-sok menghakimi deh.. siapa tau dia gak bisa bikin tempe goreng tapi jago bikin rendang atau gule. Gak juga tuh kayanya, soalnya dia juga beli bumbu sop instan, bumbu sayur asem, bumbu nasi goreng dll. Ish… kok jadi ngurusin orang lain, kebiasaan deh!

Nah, prihatin (halah gayane 😀  pakai bumbu instan itu gak sehat kaaan) melihat tidak sedikitnya ibu-ibu rumah tangga yang gak bisa (gak mau?) memasak bahkan masakan rumah sederhana pun, dan berdasarkan pengalaman pribadi yang dibiasakan masuk dapur sejak kecil, maka aku pun membiasakan anak-anak (terutama Neysa) memasak. Ya samalah dengan cara ibuku dulu, dimulai dengan kupas-kupas bawang dan potong-potong sayur. Dan pelajaran berlanjut dengan  bagaimana menumis bumbu, kapan memasukkan sayuran, dan pentingnya mencicipi masakan yang kita masak.

es3Sedangkan kegiatan memasak bersama biasanya dilakukan saat membuat kue-kuean. Youri sukanya menimbang bahan-bahan dan menguleni adonan, Javas suka memarut keju, mengocok telur (dadar)  atau menaburi adonan, dan Neysa bagian mengeksekusi. Jindra? Ikut mama mengawasi para kakak bekerja hahaha….

Acara memasak bersama ini bisa menjadi acara pengisi liburan yang menyenangkan loh, kecuali kalau Teteh yang beberes gak datang, acara memasak bersama bisa diakhiri dengan omelan mama yang pusing melihat betapa berantakan dapurnya  😀

Ujian kesabaran juga loh mengajari (membiasakan) anak-anak memasak ini. Selain sudah pasti dapur  makin berantakan, kadang kesabaran diuji oleh terlihat  asal-asalannya mereka memasak. Kadang gemes loh lihat gerakan kaku ‘cekithingan’ (iki bahasa Indonesiane opo?) Neysa mengulek bumbu, atau bagaimana asal-asalannya mereka mencuci sayuran, atau anehnya cara mereka memotong sayuran. Kalau mau menuruti ego sih aku lebih suka memasak sendiri daripada memasak rame-rame. Tapi kapan lagi anakku belajar memasak kalau bukan saat libur akhir pekan?

Kenapa harus dari sekarang? Kenapa tidak? Biar gak kaku laah… Terutama untuk masakan rumah sehari-hari. Masa tiap hari masak sambil pegang buku resep atau hape (ini aku tiap hari Sabtu hihi..).  Pernah baca di mana ya lupa, bedanya cooking sama baking. Kalau ‘baking’ itu katanya mau yang masak ahli atau pemula  asal kita nimbang bahan dengan tepat dan ikuti detil resep step-by step maka rasa masakannya bisa mirip atau bahkan sama, sedangkan ‘cooking’ resep yang sama di tangan yang berbeda akan menghasilkan rasa yang berbeda. Numis bawang kurang mateng aja bisa bikin kacau rasa oseng kangkung kita kan? Itu contohnya.

Contoh lainnya adalah kemampuan memasakku ini  yang itu-itu saja karena kurangnya pengalaman (padahal practice makes perfect kan?). Seputar masakan jawa (tepatnya Magelang) dan Sunda saja. Sop, sayur lodeh, ayam goreng, balado, pepes, bacem, urap, dan tempe goreng (hihi… favorit :)). Bikin gule, rendang, dan aneka masakan Padang gak bisa. Masakan Jepang, masakan Eropa, angkat tangan. Ya karena gak biasa. Kalaupun mau, harus sambil nyontek resep, itu pun hasilnya mungkin akan diketawain orang Padang atau orang Jepang. 😀

Pertanyaan Nur Ari Milawati berikutnya adalah bagaimana hasil masakan anak-anak? Sejauh ini baru Neysa yang sudah bisa dilepas untuk memasak sendiri . Youri baru sebatas bikin telur ceplok dan rebus mie instan. Neysa sudah bisa bikin Nasi goreng, sayur sop, mie goreng, dan cap cay. Memasak mengikuti resep sederhana pun sudah bisa, bahkan dia sudah pede menjual risoles hasil masakannya sendiri.

Salah satu hasil karya Neysa
Salah satu hasil karya Neysa

Sore hari sepulang sekolah bersama 2 orang temannya di asrama, Neysa bikin risoles, kemudian disimpan di freezer untuk digoreng keesokan paginya, dan dibawa ke sekolah untuk dijual. Satu buah risoles isi sosis, telur, dan mayones itu dijual tiga ribu rupiah. Untung berapa Kak? Gak tau Kakak gak pernah itung, katanya. Hihihi namanya juga anak-anak…

Risoles
Risoles

Last but not least…. urusan masak-memasak adalah juga urusan minat dan hoby. Sama-sama diwajibkan masuk dapur sejak kecil, adikku sampai sekarang gak suka masak. Sedangkan aku, memasak bisa menjadi ajang refreshing dan me time, terutama saat mencoba resep-resep baru. Puas dan bahagia rasanya ketika melihat kue mengembang sempurna, sebahagia melihat suami dan anak-anak lahap menyantap masakanku.

Namanya minat dan hoby gak bisa dipaksakan loh yaa…. kalau memang gak suka memasak ya gak perlu dipaksakan, toh banyak tersedia jasa catering dan warung makan. Serahkan saja pada ahlinya. 🙂 Tapiii gak ada salahnya loh belajar memasak, terutama bagi Anda wanita yang sudah berkeluarga. Karena saat anak-anak tumbuh dewasa dan tidak lagi tinggal di rumah kita, salah satu hal yang dirindukan dari rumah adalah masakan ibunya, walau pun hanya tempe goreng. Percayalah. 🙂

Parenting

Ayoo Sekolah…

GambarJavas pernah sekolah PAUD, tapi cuma 2 bulan 😀

Kira-kira sebulan yang lalu, Javas mengalami ‘kemajuan’ yaitu mau sekolah TK. Jadi bersama dua orang temannya di daycare Javas sekolah di TK ABC (bukan nama sebenarnya 🙂) yang jaraknya tidak jauh dari daycare. Beberapa kali mencoba, Javas suka dan bersemangat sekali sekolah di TK itu, tapi sayang TK tersebut gak membuka pendaftaran di pertengahan tahun seperti sekarang ini. Kalau mau sekolah di situ ya nanti di tahun ajaran baru.

Memanfaatkan momen semangat sekolahnya Javas, kepala daycare mengantar Javas dkk mencoba sekolah lain yaitu di TK XYZ yang jaraknya pun dekat dari daycare. Javas pun suka sekolah di situ. Tiap pagi dia bersemangat sekali memakai kaus kaki, sepatu, dan menggendong ransel bekalnya. TK XYZ ini mau menerima murid di pertengahan tahun, jadi kudaftarkan Javas sekolah di situ dengan biaya pendaftaran Rp 50.000.  Keesokan harinya kepala daycare SMS memberitahuku bahwa TK XYZ memintaku membayar dulu uang seragam dan uang pangkal sebelum Javas mulai sekolah. Okey, dan aku minta rincian pembayaran, yang kata kepala daycare sudah diselipkan di buku Laporan Harian Javas.

Dari total Rp 2,8 juta yang harus kubayar, terdapat rincian uang pangkal, uang kegiatan, dan seragam. Karena mulai sekolah di pertengahan tahun ajaran, tentu saja aku minta diskon dong… (mana ada sih emak-emak gak nawar? Bahkan bayar sekolah pun ditawar hihi….) dan jawaban dari sekolah adalah TIDAK ADA PENGURANGAN. What? Uang pangkal dan seragam okelah… tapi uang kegiatan? Kan Javas gak ikut kegiatan semester kemarin.. bahkan semester ini pun sudah berjalan dan Javas baru daftar.

Lima bulan lagi sudah mulai tahun ajaran baru, dan nanti bayar uang tahunan lagi? Oh tidak. Akhirnya kuputuskan untuk menunda sekolah Javas sampai tahun ajaran baru, dan ternyata dua orang teman Javas pun sama, gak jadi sekolah. Gemes rasanya. Gemes karena gak berhasil nawar? Iyaa hihi… tapi lebih gemes kepada kok segitu ‘matre’nya sekolah itu… okelah uang pangkal, seragam, spp kita gak minta diskon, tapi uang kegiatan? Misalnya piknik di semester kemarin yang tentu saja gak Javas ikutin, masa harus ikut bayar? Gak rela kan yaa….

Jadi ingat beberapa tahun yang lalu, saat Youri lulus dari TK A dan mau masuk ke TK B. Selain mendapat buku laporan hasil belajar dan klipping hasil karya, Youri juga mendapat sebuah kaos kelas dan frame foto/jam meja dengan foto-foto Youri selama sekolah. Tentu saja aku tanya ke guru, harus bayar berapa untuk kaos dan jam tersebut, karena aku merasa belum bayar uang kaos dan sadar diri jarang datang ke sekolah jadi sering terlewat atau telat dapat info. Dan ternyataa… GRATIS! Ibu guru menjelaskan bahwa di akhir tahun ajaran tersebut terdapat sisa uang kegiatan yang sudah dibayarkan, jadi DIKEMBALIKAN kepada anak-anak, dan sudah disepakati bahwa akan dikembalikan dalam bentuk kaos. Wow… aku sampai speechless… betapa amanahnya pengelola TK ini.

Kembali ke Javas. Jadii… akan didaftarkan di TK mana Javas nanti? Belum tau, tapi yang jelas bukan TK XYZ dooong 😀

Nah… sudah masuk bulan Februari gini, sudah mulai banyak loh sekolah yang membuka pendaftaran dan melakukan seleksi penerimaan siswa baru. Pusing ya, sekolah ini katanya bagus, yang itu juga bagus, yang anu keren, yang ono ngetop dll dsb. Belum lagi dipusingkan masalah biayanya <- curcoooll….. 😀

Trus pilih yang mana dong? Ya pilih yang sesuai kebutuhan laah… Kebutuhan tiap anak berbeda. Kebutuhan masing-masing orang tua pun berbeda. Tujuan tiap orang tua menyekolahkan anaknya pun berbeda. Jadi pilihan sekolah akan sangat personal sifatnya.

Seorang tetangga nampak heran ketika kukasih tau Neysa melanjutkan SMP di sekolah swasta. “Gak sayang Bu? Bukannya nilai Neysa bagus? Bunga saja yang nilainya cuma sekian sekian bisa kok masuk SMPN anu.”

“Wah, pakai jalur prestasi ya Bu?” tanyaku polos, soalnya setahuku untuk masuk SMP itu nilai minimalnya di atas nilai Bunga yang disebut ibunya tadi. Kalau gak ada prestasi seni atau olah raga atau apa pun yang menonjol rasanya gak mungkin Bunga bisa masuk SMP anu.

“Ah jalur belakang lah Bu.. yang penting bisa masuk dulu.”

Wow…. aku terpana.. kok bisa ya, ibu itu mempercayakan anaknya untuk dididik oleh sebuah sekolah yang jelas-jelas tidak jujur itu? Bahkan menghalalkan segala cara agar bisa diterima di sekolah itu.

Tetangga yang lain bercerita bahwa dia mau mendaftarkan anaknya sekolah di SD favorit, dan dengan judesnya petugas dari sekolah bilang bahwa sekolah sudah gak nerima pendaftar baru lagi, sudah penuh. Sakit hati karena merasa ditolak karena mungkin dianggap gak mampu (ibu ini datang ke sekolah dengan penampilan kumel sepulang dari pasar) seminggu kemudian si tetangga ini datang lagi ke sekolah dengan diantar suaminya, pakai mobil baru dan diparkir di depan kantor sekolah. And guess what? Si tetangga dilayani dengan ramah (oleh petugas yang sama) dan disodori formulir pendaftaran. Dan dengan bangganya dia bercerita bahwa anaknya sekarang sekolah di SD tersebut.

Wah… aku terpana lagi. Lembaga seperti itukah yang dia pilih untuk mendidik anaknya? Yang memandang orang dari penampilan dan ‘kekayaan’?

Seorang teman di kantor bercerita, menjelang UN anaknya dan beberapa teman sekelasnya ada yang sudah mendapatkan bocoran jawaban. Dari mana? Ya dari sekolah. Tujuannya apa lagi kalau bukan mendongkrak prestise sekolah.

Merinding membayangkan apa jadinya anak-anak yang dididik oleh para pendidik yang tidak pantas disebut pendidik itu. Nilai-nilai apa yang akan dianutnya ketika mereka dewasa kelak, ketika mendapat amanah jabatan misalnya? Akankah menjadi seorang pejabat yang jujur, adil dan profesional?

GambarSeperti apa sekolah yang kami pilih untuk anak-anak kami? Tiap keluarga pasti punya kriteria berbeda, tapi yang jelas kami gak mau menyekolahkan anak-anak kami ke sekolah yang ‘matre’, sekolah yang mau menerima murid dari ‘jalur belakang’, dan atau sekolah yang mengijinkan (mengajari!) murid-muridnya berbuat curang.

Setiap orang tua tentu punya pilihan berbeda untuk menyekolahkan anaknya, dengan alasan yang berbeda-beda pula.

Ada orang tua teman Neysa waktu kelas 2 SD dulu yang cepat-cepat memindahkan anaknya sekolah di SD lain gara-gara SD ini gak serius belajar, gak pernah ada PR. Sekolah macam apa ini, katanya. Padahal bagiku justru sekolah tanpa PR adalah sebuah kelebihan.

Ada orang tua yang tidak mau memasukkan anaknya ke sekolah berbasis agama, sementara ada juga orang tua lain yang mengharuskan anak-anaknya sekolah di sekolah berbasis agama.

Ada orang tua yang tidak percaya menitipkan anaknya pada sekolah negeri, ada juga orang tua yang mati-matian berusaha agar anaknya masuk sekolah negeri.

Sangat personal sifatnya, jadi rasanya gak perlu diperdebatkan, cukup untuk didiskusikan 🙂

Inilah kriteria tambahan seperti apa sekolah yang kami (aku dan suamiku) pilih untuk anak-anak kami.

  1. Sekolah full day (untuk TK dan SD). Ini menjawab kebutuhan kami sebagai orang tua yang sama-sama bekerja. Dari pada anak-anak menghabiskan waktu di rumah bersama pembantu, nonton TV atau main game tanpa terawasi, kami lebih merasa nyaman kalau anak-anak kami berada di sekolah sampai sore. Tentu saja kami pilih sekolah full day yang tidak membebani anak, yang metode belajarnya sambil bermain, dan yang tidak ada PR.
  2. Sekolah berbasis agama (untuk SD dan SMP). Sadar diri gak punya banyak waktu khusus untuk mengajari anak-anak sholat dan mengaji, kami memilih sekolah Islam untuk mendidik anak-anak kami. Takut anak-anak jadi intoleran karena gak biasa dengan keberagaman? Ah tidak. Di lingkungan rumah mereka biasa bergaul dengan beragam teman. Di TV, di film-film yang mereka tonton, di buku cerita yang mereka baca, mereka tahu ada perbedaan-perbedaan, tidak semua manusia itu menganut kepercayaan yang sama. Kenapa gak panggil guru ngaji aja ke rumah? Karena mengajarkan agama bagi kami bukanlah sekedar mengajari baca Al Qur’an dan hafalan doa-doa sholat saja. Agama hendaknya menjadi pedoman baginya dalam kehidupan sehari-hari. Akhlak yang terpuji, perilaku jujur, bersikap adil, santun, menjaga pergaulan, kuharapkan mereka dapatkan juga dari pembiasaan-pembiasaan di sekolah.
  3. Tidak mahal, alias terjangkau oleh dompet kami. Ya iyyalaah… kalau gak terjangkau mau bayar pakai apa? 😀 Tapi jangan ‘tertipu’ loh yaa… ada beberapa sekolah yang terlihat murah di pendaftaran awal dan SPP tapi ternyata di tengah-tengah berlangsungnya pembelajaran masih banyak ini itu yang harus dibayar atau dibeli. Ikut ekskul, bayar lagi. Ada lomba, bayar. Belum lagi buku atau sarana penunjang lain yang harus dibeli. Alhamdulillah saat Neysa & Youri SD kami gak pernah repot bayar-bayar apa pun selain SPP dan uang makan, sementara seorang teman mengeluhkan sekolah anaknya yang dikit-dikit memungut bayaran. Ekskul, kunjungan keluar, berenang, field trip, camping, dll semua sudah tercakup dalam uang kegiatan yang dibayar di awal tahun, dan gak mahal loh bayarnya….
  4. Persetujuan anak yang akan sekolah (untuk SMP dan SMA). Jangan sampai anak merasa terpaksa sekolah di sekolah pilihan orang tuanya.
  5. Akreditasi sekolah, prestasi akademik, fasilitas sekolah, tersedianya konselor (psikolog, dokter), banyaknya pilihan ekskul, dan lingkungan pergaulan anak menjadi bahan pertimbangan juga. Apalagi kalau anak boleh mengikuti lebih dari 1 ekskul. (Ini sih pengiritan biar gak usah ikutan les-les (musik, olah raga, animasi dll) lagi di luar hehe… kalaupun ada biaya tambahan kan biasanya lebih murah dibanding kalau les di luar.)

GambarTerus, apa peran Pak Sutisna dalam memilih sekolah buat anak-anak? Ini pertanyaan Sondang dalam GA perdana dalam rangka ultah pertama blogku di blogspot.

 Selain sebagai sesama penanggung jawab dan tentu saja menjadi parter diskusi, suamiku bertugas sebagai ‘detektif’ yang melakukan survey ke sekolah-sekolah yang akan kami pilih. Menyekolahkan anak bukan hanya menitipkan anak untuk dididik oleh sekolah, tapi anak akan ‘dididik’ juga oleh lingkungan pergaulannya. Anak-anak yang seperti apa dan anak siapa yang kelak akan menjadi teman-teman anakku harus kami ketahui garis besarnya. Suamiku nongkrong berjam-jam di kantin sekolah, di area bermain, atau bahkan di WC sekolah untuk ‘menyelidiki’ hal itu. Apa yang anak-anak itu obrolkan, bahasa apa yang dipakai (kasar atau gak), dan sopan santun mereka wajib diamati. Bahkan perilaku guru sampai tukang parkir pun kami amati.

Jadi, tentukan dulu Tujuan Lo Apa (pinjem bahasanya Ligwina Hananto 🙂), kumpulkan informasi sebanyak-banyaknya (website, brosur, testimoni), sesuaikan dengan dompet kita, dan yang terakhir datangi sekolahnya, rasakan atmosfernya. Percayalah, gak semua sekolah yang orang-orang bilang bagus atau keren, akan cocok dengan anak kita.

Parenting

Mars dan Venus

Aku masih dalam rakaat terakhir sholat Isya ketika kegaduhan itu mencapai puncaknya. Javas nangis! Uugh, sungguh mengganggu konsentrasi shalatku yang memang gak khusyu’ ini. Kesselll deh, pengin marah banget rasanya. Gak kapok-kapok si Aa tiap hari diomelin dibilangin, teteeep aja godain adiknya. Tiap hari pasti aja Javas dibikinnya nangis. Dan semakin cengeng Javasnya, semakin seneng Youri godainnya. Grhh…

Awalnya mereka cuma bercanda seperti biasa. Terdengar gaduh dari kamar tempat sholatku ini, tapi gak ada tangisan. Entah bagaimana awalnya, yang jelas terdengar suara teriakan-teriakan histeris Javas yang lari-lari dikejar oleh Aa Youri yang tertawa-tawa (dan tentu saja ditambah ‘backing vocal’ suara teriakan Jindra yang berpartisipasi berteriak-teriak kegirangan tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi).

 “Gaaak….! Gak mauuu….!” suara Javas terdengar histeris sambil lari-lari.

 “Makanya ambilin… kalo gak mau nanti Aa sun loh.” ini suara Youri.

 Dan endingnya ya itu tadi, Javas nangis. Sepertinya dia berhasil kena sun Aa Youri.

Oalaaah…. disun aja kok nangisnya kaya diapain sih A Javas?

 Ya begitulah. Javas paling gak mau dan gak suka dicium oleh Aa Youri. Kalau dicium mamanya sih dia masih mau-mau saja. Youri pun dulu begitu. Di usia pra sekolah sudah mulai gak suka dicium. Beda banget sama Neysa. Neysa dulu sangat suka dicium, baik olehku maupun papanya. Bahkan sun sayang ini menjadi ritual wajib sebelum tidurnya. Sun kening, selimutin, dan ucapan “Selamat bobo Sayang,” atau “I love you,” atau “Mama sayang Kakak,” wajib hukumnya.

Neysa kecil pun sangat suka menggelayut manja, dipeluk dan dihujani kata-kata mesra. Neysa selalu ingin rasa sayang dan cinta kami padanya diucapkan. Butuh kepastian? Mungkin. Gak yakin bahwa kami orang tuanya ini mencintainya? Ah masa sih? Youri gak pernah tuh nanya-nanya apakah kami mencintainya atau gak. Anteng aja. Neysa? Seriing…. Dan walaupun sudah ratusan kali kami bilang kami mencintainya, tapi tetap saja dia bertanya dan ada binar-binar kebahagiaan di matanya setiap kali dia mendengar (lagi) kata-kata sayang dan cinta itu. Dan masih ditambah pula pertanyaan “Mama lebih sayang Kakak atau Adik (Youri maksudnya)?” yang kalau kujawab “Sama sayangnya” akan membuatnya cemberut. 😀 Biasanya kujawab “Mama sayang Kakak dan Adik sama besarnya, tapi Kakak disayangnya lebih lama, udah disayang selama 6 tahun. Kalau Adik disayangnya baru selama 4 tahun.” dan si gadis kecil pun tersenyum lebaaar, sementara si pria kecil tetap cuek, gak peduli, anteng dengan mainannya hahaha…..

Begitulah pria, begitulah wanita. Bahkan sedari kecil pun mereka sudah berbeda. Konon katanya pria dari Mars dan wanita dari Venus 😀 . Wanita butuh perhatian, kesetiaan, dan ketegasan, pria butuh kepercayaan, penerimaan, dan penghargaan. Wanita perlu jaminan, pria perlu dorongan.

 Tapii… pria atau wanita tetap saja mereka makhluk yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban atas hidupnya. Pria atau wanita sama-sama punya kewajiban untuk taat pada perintah agamanya dan menjauhi larangan-Nya. Jadi kewajibanku sebagai orang tua tetap sama saja, mau punya anak laki-laki atau perempuan, ya kewajiban kami adalah mendidiknya.

 “Apa beda pola pengasuhan anak laki-laki dan perempuan Mbak?” pertanyaan Kiky Amel dalam GA perdana dalam rangka ultah pertama blogku di blogspot.

 Pada intinya sama. Anak laki-laki maupun perempuan kami didik dan siapkan untuk menjadi manusia yang patuh pada perintah Alloh dan menjauhi semua larangan-Nya. Dengan mematuhi perintah Alloh maka mereka akan berusaha menjadi manusia yang banyak memberi manfaat pada manusia lainnya, dan taat beribadah untuk mempersiapkan kehidupan akheratnya. Berusaha menjadi manusia yang banyak memberi manfaat itu berarti banyak hal, ya jujur, pinter, terampil, sehat, luwes bergaul, kaya, dermawan dll dsb. Anak laki-laki harus pinter, anak perempuan pun harus pinter. Anak perempuan harus luwes bergaul, anak laki-laki pun harus luwes bergaul.

 Anak laki-laki maupun perempuan di hari Minggu sama-sama mendapat tugas nyuci, nyuci piring, nyapu, ngepel dan membantu memasak. Sama-sama diajari mengendarai motor dan nyetir, dan sama-sama harus bisa dititipi menjaga adik-adiknya kala aku mandi, sholat, atau melakukan kesibukan lainnya. Tapi untuk tugas-tugas ‘berat’ yang perlu tenaga ekstra, tentu saja Youri yang ditugaskan, dan Neysa hanya membantu saja. Di sini kepada mereka dijelaskan bahwa laki-laki memang diciptakan dengan fisik yang lebih kuat dari perempuan. Tulangnya lebih kuat, ototnya lebih besar, kulitnya lebih kasar, jadi wajar saja kalau tugas angkat-angkat beban berat adalah tugas laki-laki. Membawakan belanjaan mama, misalnya, itu tugas Youri, bukan Neysa.

GambarWanita pun harus kuat, pemberani, dan tangguh.

 Cara mendidiknya pun mungkin sedikit berbeda. Neysa lebih suka ditanya dan diperhatikan, sementara Youri lebih suka kalau diberi kepercayaan. Waktu kami tinggal selama 40 hari untuk beribadah haji, nilai-nilai ulangan Neysa merosot, sementara nilai Youri malah maju pesat. Rupanya Youri selama ini merasa ‘terganggu’ oleh mamanya yang cerewet dan sering mengingatkannya untuk belajar ini. Tanpa ada mamanya yang cerewet, nilai-nilai ulangan Youri malah bagus. Dari situ aku belajar lebih mengerem diri kepada Youri, gak perlu disuruh berulang-ulang untuk ini itu, cukup beri kepercayaan, dan ingatkan sesekali.

GambarAnak perempuan mana boleh berenang tanpa baju gini kan?

Dalam obrolan ringan sering kami tekankan bahwa laki-laki dan perempuan itu memang fitrahnya berbeda. Batas aurat yang wajib ditutup berbeda. Aturan agama pun sudah jelas menyebutkan bahwa laki-laki gak boleh menyerupai wanita, wanita gak boleh menyerupai laki-laki.

Kepada dua anakku yang masih balita, terutama Javas, baru kuajarkan bahwa Papa, Aa, Javas dan adik Jindra itu laki-laki, dan Mama serta Kakak adalah perempuan. Kubahas tentang baju laki-laki, dan baju perempuan. Kami tunjukkan juga ada toilet untuk laki-laki, ada toilet untuk perempuan (di tempat umum).

Membedakan mainan anak laki-laki dan perempuan? Kayanya gak perlu. Sedari kecil minat laki-laki dan perempuan memang sudah terlihat berbeda. Kalau anak perempuan suka boneka beserta aneka baju dan pernak perniknya, anak laki-laki tanpa diarahkan pun lebih suka bola, mobil-mobilan, pesawat, kereta, robot, dan all about boys lainnya.

GambarBoys thing.

Anak perempuan lebih cepat ‘dewasa’? Yup, betul. Sedangkan boys will be boys. Jadi ya maklumi saja ya Buuu kalo suaminya masih hobi main PS, main futsal, atau koleksi mobil-mobilan…  hihi… Yang penting siapkan anak laki-laki kita untuk menjadi suami dan menjadi ayah pada suatu saat nanti. Sipakan anak perempuan kita untuk menjadi istri dan menjadi ibu suatu saat kelak. Banyak orang tua yang lupa akan hal ini. Mereka hanya sibuk menyiapkan anak-anaknya untuk menjadi dokter, arsitek, insinyur, penyanyi, desainer, dll dsb. Dan akibatnya kata Bu Elly Risman adalah banyaknya suami/istri yang tidak siap menjadi suami/istri, banyak orang tua yang tidak siap menjadi orang tua.

Nah, bagaimana cara menyiapkan anak-anak kita untuk menjadi orang tua bagi anak-anaknya kelak? Mari kita terus belajar…  *trus ditimpukin pembaca. Ih beneraaan… aku juga gak tauu… yang jelas, teruslah belajar menjadi orang tua, belajar ilmu parenting. Sadari peran kita sebagai orang tua, penuhi hak anak-anak kita, dan jangan lupa berdoa.